SOLOBALAPAN.COM - “Generasi strawberry” mungkin terdengar seperti julukan yang lucu.
Namun, istilah ini sering digunakan untuk menyindir anak muda yang dianggap punya banyak kemampuan, kreatif, aktif, tetapi mudah menyerah ketika berhadapan dengan tekanan.
Istilah strawberry generation berasal dari Taiwan dan digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka diibaratkan seperti buah strawberry yang terlihat menarik dan memiliki banyak potensi, tetapi mudah “memar” ketika mendapat tekanan.
Baca Juga: Kulit Putih Bukan Lagi Segalanya, Tren Kecantikan Kini Mengejar Glass Skin
Di Indonesia, istilah tersebut kemudian sering dilekatkan pada anak muda masa kini. Mereka dianggap lebih berani menyampaikan pendapat, terbuka mengekspresikan diri, cepat mengikuti perubahan, dan kreatif memanfaatkan teknologi.
Namun, di sisi lain, mereka juga mendapat cap sebagai generasi yang mudah tersinggung, tidak tahan kritik, dan gampang menyerah.
Menariknya, anggapan tersebut tidak selalu sesuai dengan penelitian. Studi terhadap 854 pelajar SMA di Taiwan menemukan bahwa anak muda yang disebut sebagai strawberry generation justru menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif ketika membayangkan masa depan.
Baca Juga: Tak Harus Terus Menahan Makan, Mengenal Mindful Eating agar Lebih Berdamai dengan Makanan
Hal tersebut menunjukkan bahwa istilah “strawberry” tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan karakter anak muda. Mereka mungkin memiliki cara berbeda dalam melihat persoalan dibandingkan generasi sebelumnya.
Sisi kreatif anak muda sekarang memang sulit diabaikan. Mereka bisa menggunakan media sosial untuk menghasilkan karya, membangun bisnis, membuat komunitas, hingga menciptakan pekerjaan yang sebelumnya tidak banyak dikenal. Teknologi juga membuat mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk menunjukkan kemampuan.
Tidak sedikit anak muda yang menjadikan hobi sebagai pekerjaan. Membuat video, bermain musik, mendesain, menjual produk secara daring, sampai membangun personal branding kini bisa menjadi bagian dari kehidupan profesional.
Mereka juga lebih berani mempertanyakan kebiasaan lama. Sesuatu yang dulu dianggap harus dilakukan karena “memang dari dulu begitu” bisa saja dipertanyakan kembali oleh generasi sekarang.
Namun, di situlah kritik terhadap generasi strawberry muncul.
Anak muda dianggap lebih mudah merasa tertekan ketika menghadapi kegagalan, teguran, atau situasi yang tidak sesuai dengan keinginan. Ketika mendapat perlakuan yang tidak nyaman, mereka juga lebih terbuka untuk mengatakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
Baca Juga: Sering Mengkretek Jari, Benarkah Bisa Menyebabkan Rematik Autoimun? Ini Faktanya
Bagi sebagian orang, sikap tersebut dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal, berani mengatakan “aku tidak nyaman” tidak selalu berarti seseorang tidak mampu menghadapi kesulitan.
Begitu pula dengan membicarakan kesehatan mental. Seseorang yang mengakui sedang lelah belum tentu lebih lemah daripada orang yang memilih diam.
Justru mengenali kondisi diri dapat menjadi langkah untuk mengetahui kapan harus berhenti sejenak dan kapan harus kembali melanjutkan aktivitas.
Baca Juga: Waspada WhatsApp Web Disusupi Ekstensi Berbahaya, Ini Penyebab dan Cara Menghentikannya
Namun, bukan berarti semua bentuk ketidaknyamanan harus dihindari.
Kemampuan menerima kritik, menghadapi kegagalan, menyelesaikan persoalan yang sulit, dan tetap berusaha ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan tetap penting.
Tidak semua kritik adalah serangan, dan tidak semua kegagalan berarti seseorang berada di lingkungan yang buruk.
Di sinilah generasi strawberry mungkin memiliki tantangan tersendiri. Mereka perlu mempertahankan kreativitas dan keberanian untuk bersuara, tetapi pada saat yang sama juga perlu membangun daya tahan menghadapi tekanan.
Sebab, kreativitas tanpa ketahanan bisa membuat seseorang mudah berhenti ketika menghadapi hambatan. Sebaliknya, ketahanan tanpa kreativitas juga bisa membuat seseorang hanya bertahan tanpa mencoba mencari jalan baru.
Karena itu, generasi strawberry sebenarnya memiliki sisi positif dan negatif. Mereka dikenal kreatif, aktif, cepat beradaptasi, dan berani mengekspresikan diri.
Tetapi mereka juga tetap perlu belajar menerima kegagalan, menghadapi kritik, dan menyelesaikan persoalan yang tidak selalu menyenangkan.
Penelitian tentang generasi strawberry sendiri juga menunjukkan bahwa label tersebut tidak sesederhana anggapan bahwa anak muda adalah generasi yang “lemah”.
Studi terhadap pelajar Taiwan tadi justru memperlihatkan adanya kemampuan berpikir kritis dan reflektif dalam melihat masa depan.
Pada akhirnya, menyebut satu generasi sebagai rapuh tentu terlalu menyederhanakan. Setiap generasi tumbuh dengan kondisi sosial, teknologi, ekonomi, dan tantangan yang berbeda.
Mungkin generasi strawberry bukan generasi yang lebih lemah. Mereka hanya memiliki cara berbeda dalam menghadapi dunia.
Dan seperti strawberry yang tetap memiliki rasa dan nilai meskipun mudah memar, generasi ini pun memiliki potensi yang besar selama kreativitas mereka berjalan beriringan dengan kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi tekanan. (Rastri Rafiarum)
Editor : Kabun Triyatno