Kulit Putih Bukan Lagi Segalanya, Tren Kecantikan Kini Mengejar Glass Skin

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:29 WIB
Ilustrasi Glass Skin. (AI Generated)
Ilustrasi Glass Skin. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Standar kecantikan terus berubah mengikuti zaman.

Jika selama bertahun-tahun kulit putih kerap dianggap sebagai gambaran ideal kecantikan, kini perhatian mulai bergeser pada hal lain yaitu Kulit yang sehat, lembap, dan terlihat bercahaya.

Fenomena tersebut salah satunya terlihat dari semakin populernya istilah Glass skin.

Istilah ini menggambarkan tampilan kulit yang terlihat sangat halus, lembap, kenyal, dan memantulkan cahaya sehingga memberikan kesan seperti permukaan kaca.

Baca Juga: Aura Farming, Ketika Momen Biasa Harus Terlihat Keren

Tren tersebut banyak dikaitkan dengan budaya kecantikan Korea yang dalam beberapa tahun terakhir memiliki pengaruh besar terhadap industri Beauty global.

Namun, glass skin sebenarnya bukan sekadar tentang membuat kulit terlihat “Bening”.

Konsepnya lebih dekat dengan perawatan kulit yang menekankan Hidrasi, kelembapan, dan tampilan kulit yang sehat.

Baca Juga: Ikuti Tren Naykilla, Nycta Gina Parodikan Jeng Kelin Lengkap dengan Gaya Ikoniknya

Dari Kulit Putih ke Kulit Sehat

Perubahan ini menarik karena standar kecantikan tidak lagi semata-mata berpusat pada warna kulit.

Kulit dengan warna apa pun dapat terlihat sehat dan bercahaya.

Dengan kata lain, seseorang tidak harus memiliki kulit putih untuk mendapatkan tampilan yang sering disebut sebagai Glass skin.

Yang menjadi perhatian justru kondisi permukaan kulit.

Kulit yang cukup terhidrasi biasanya terlihat lebih segar dan memiliki pantulan cahaya yang lebih merata.

Karena itulah, produk seperti pelembap, serum hidrasi, dan sunscreen sering menjadi bagian dari rutinitas yang dikaitkan dengan tampilan Glass skin.

Baca Juga: Bukan Soal Mahal, Kenapa Hadiah Lomba 17 Agustus Tetap Dinanti?

Glass Skin Bukan Berarti Kulit Harus Sempurna

Di media sosial, istilah Glass skin terkadang membuat kulit terlihat seolah-olah tidak memiliki pori-pori, noda, atau tekstur sama sekali.

Padahal, gambaran tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi kulit manusia dalam kehidupan nyata.

Pori-pori dan tekstur merupakan bagian normal dari kulit.

Foto, pencahayaan, kamera, filter, hingga penggunaan makeup juga dapat membuat tampilan kulit terlihat jauh lebih mulus dibandingkan kondisi sebenarnya.

Karena itu, mengejar kulit yang terlihat seperti “Kaca” sebaiknya tidak berubah menjadi tuntutan untuk memiliki kulit tanpa cela.

Mengapa Tren Ini Begitu Populer?

Salah satu daya tarik glass skin adalah tampilannya yang memberikan kesan fresh, sehat, dan natural.

Alih-alih menggunakan makeup tebal untuk menutupi seluruh permukaan kulit, tren ini justru menonjolkan tampilan kulit yang terlihat terawat.

Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai tren lain, seperti Dewy skin, Glazed skin, hingga Clean girl beauty.

Media sosial turut mempercepat penyebarannya.

Tutorial skincare, video rutinitas pagi dan malam, serta konten transformasi membuat tampilan kulit bercahaya semakin mudah ditemukan di berbagai platform.

Tidak Semua Orang Harus Mengejar Glass Skin

Meski terlihat menarik di media sosial, glass skin tetap merupakan sebuah Tren estetika, bukan ukuran kesehatan kulit.

Kebutuhan setiap orang berbeda.

Produk yang membuat kulit seseorang terasa lembap belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.

Bahkan, penggunaan terlalu banyak produk hanya demi mengikuti tren dapat membuat rutinitas perawatan kulit menjadi semakin rumit.

Pada akhirnya, kulit sehat tidak harus terlihat seperti kaca.

Kulit sehat juga tidak harus putih.

Yang lebih penting adalah memahami kondisi kulit sendiri dan memilih perawatan yang sesuai.

Perubahan tren kecantikan ini setidaknya menunjukkan satu hal yaitu Standar kecantikan bisa berubah, tetapi kulit yang sehat tidak harus memiliki satu warna tertentu.

Dari mengejar kulit putih hingga mengejar kulit bercahaya, perjalanan tren kecantikan terus bergerak.

Dan mungkin, standar kecantikan yang paling relevan justru ketika seseorang tidak lagi merasa harus mengubah warna kulitnya untuk dianggap cantik. (siti putri lestari)

Editor : Kabun Triyatno
Siti putri lestari Kulit Putih Glass skin cantik kecantikan