SOLOBALAPAN.COM – Pernah makan mi sampai habis, tetapi masih merasa belum makan? Bukan karena porsinya sedikit. Hanya saja, belum ada nasi di meja.
Hal serupa bisa terjadi setelah sarapan roti. Perut sudah terisi, tetapi menjelang siang pikiran mulai tertuju pada satu hal: nanti makan nasi dengan apa?
Lucunya, kebiasaan seperti ini terasa begitu biasa. Kita jarang mempertanyakannya.
Di meja makan, lauk boleh berganti-ganti. Hari ini ayam, besok telur, lusa ikan. Namun, nasi hampir selalu punya tempat yang sama.
Baca Juga: Aura Farming, Ketika Momen Biasa Harus Terlihat Keren
Nasi hangat, lauk, sambal. Bagi banyak orang, kombinasi itu sudah seperti gambaran paling sederhana tentang makan.
Padahal, makanan pokok di Indonesia tidak hanya nasi. Kementerian Kesehatan menyebut jagung, sagu, singkong, ubi, kentang, hingga mi, roti, dan pasta sebagai pilihan sumber karbohidrat. Pilihannya bisa menyesuaikan kebiasaan dan kondisi daerah masing-masing.
Lantas, mengapa nasi terasa berbeda?
Mungkin jawabannya ada pada kebiasaan yang sudah dimulai sejak lama.
Sejak kecil, banyak dari kita terbiasa melihat nasi tersedia hampir setiap kali waktu makan tiba. Sarapan dengan nasi, makan siang dengan nasi, lalu malam kembali mengambil nasi.
Baca Juga: Ikuti Tren Naykilla, Nycta Gina Parodikan Jeng Kelin Lengkap dengan Gaya Ikoniknya
Lama-lama, nasi bukan lagi sesuatu yang dipilih. Ia menjadi bagian dari rutinitas.
Itu sebabnya makan tanpa nasi terkadang terasa seperti ada yang kurang. Bukan karena makanan lain tidak bisa mengisi perut, tetapi karena kita sudah punya gambaran sendiri tentang seperti apa “makan yang sebenarnya”.
Coba lihat kebiasaan kecil di rumah.
Ketika lauk masih tersisa setelah makan malam, sering kali lauk itu disimpan untuk esok hari. Bukan untuk dimakan begitu saja, tentu saja. Besok tinggal menanak nasi.
Atau ketika seseorang mengatakan, “Aku belum makan,” yang terbayang biasanya bukan pisang, roti, atau semangkuk bubur. Yang muncul justru sepiring nasi lengkap dengan lauk.
Nasi akhirnya seperti menjadi penanda.
Baca Juga: Tak Harus Terus Menahan Makan, Mengenal Mindful Eating agar Lebih Berdamai dengan Makanan
Sudah makan nasi berarti sudah makan. Belum makan nasi, rasanya belum.
Padahal, tubuh tentu tidak bekerja dengan cara sesederhana itu.
Yang menarik justru bagaimana kebiasaan tersebut bisa memengaruhi cara kita memandang makanan. Nasi seolah mendapat posisi khusus di antara begitu banyak pilihan yang ada.
Badan Pangan Nasional pun masih mencatat beras sebagai salah satu pangan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dalam data konsumsi nasional 2025, rata-rata konsumsi beras tercatat 87,3 kilogram per kapita per tahun.
Baca Juga: Jenna Ortega Makin Kurus, Penampilan Pemeran Wednesday Berubah Drastis hingga Bikin Netizen Khawatir
Angka itu menunjukkan bahwa nasi memang masih punya tempat besar dalam pola makan masyarakat.
Namun, mungkin yang lebih menarik bukan sekadar seberapa banyak nasi yang kita makan.
Melainkan seberapa jauh nasi sudah masuk ke dalam kebiasaan sehari-hari.
Ia hadir dalam pertanyaan “sudah makan belum?”, dalam menu rumahan, sampai dalam keputusan sederhana ketika memilih makanan. Bahkan setelah makan mi sekalipun, sebagian orang masih merasa belum benar-benar makan kalau belum bertemu nasi.
Di situlah julukan “diktator” terasa masuk akal.
Baca Juga: Bukan Soal Mahal, Kenapa Hadiah Lomba 17 Agustus Tetap Dinanti?
Bukan karena nasi benar-benar memaksa kita. Justru kita yang sudah lama memberinya posisi utama.
Bukan berarti nasi harus ditinggalkan. Tidak ada yang salah dengan menjadikannya makanan pokok. Hanya saja, mungkin sesekali kita bisa melihat lagi kebiasaan yang selama ini terasa otomatis.
Ketika makan roti lalu merasa belum makan, misalnya. Benarkah kita belum makan?
Atau kita hanya belum menemukan makanan yang selama ini paling akrab dengan kita?
Sebab mungkin persoalannya bukan pada nasi yang terlalu berkuasa.
Kita saja yang sudah terlalu terbiasa memberinya kursi paling tengah di meja makan. (Rahma Azra Calista)
Editor : Adi Pras