Aura Farming, Ketika Momen Biasa Harus Terlihat Keren

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:13 WIB
Ilustrasi momen biasa bisa terlihat lebih keren ketika kamera mulai merekam. (AI Generated)
Ilustrasi momen biasa bisa terlihat lebih keren ketika kamera mulai merekam. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Coba perhatikan teman yang tiba-tiba sadar sedang direkam. Beberapa detik sebelumnya ia duduk santai. Begitu kamera mengarah kepadanya, posisi duduk dibenahi. Rambut dirapikan. Wajah dibuat lebih tenang.

Kadang malah muncul gaya yang sebenarnya tidak pernah dipakai saat tidak ada kamera.

Hal kecil seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun, di media sosial, ada istilah yang bisa dipakai untuk menggambarkannya: aura farming.

Sederhananya, aura farming adalah usaha menampilkan diri agar terlihat keren, percaya diri, menarik, atau punya kesan tertentu.

Baca Juga: Tak Harus Terus Menahan Makan, Mengenal Mindful Eating agar Lebih Berdamai dengan Makanan

Kata aura dalam slang internet merujuk pada karisma atau kesan yang terpancar dari seseorang. Sementara farming berasal dari istilah gim, yaitu melakukan sesuatu berulang kali untuk mengumpulkan sumber daya atau poin.

Jadi, kalau digabungkan, seseorang seolah sedang “mengumpulkan” poin keren.

Tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa untuk disebut sedang aura farming.

Misalnya, ketika seseorang berhasil memasukkan botol plastik ke tempat sampah dari jarak jauh. Kalau setelah berhasil ia langsung pergi tanpa melihat hasil lemparannya, momen itu bisa saja dianggap punya aura.

Baca Juga: Jenna Ortega Makin Kurus, Penampilan Pemeran Wednesday Berubah Drastis hingga Bikin Netizen Khawatir

Begitu pula saat seseorang sengaja berjalan dengan gaya tertentu ketika tahu sedang direkam. Bukan karena harus melakukan sesuatu yang penting, tetapi karena ingin memberikan kesan tertentu di depan kamera.

Yang menarik, aura farming justru sering dikaitkan dengan usaha yang tidak kelihatan.

Semakin seseorang terlihat santai dan tidak berusaha, semakin kuat kesan kerennya. Karena itu, istilah tersebut bisa menjadi pujian ketika gaya yang ditampilkan memang terlihat natural.

Namun, arahnya bisa berubah menjadi candaan jika usaha untuk terlihat keren terlalu kentara.

Baca Juga: Bukan Soal Mahal, Kenapa Hadiah Lomba 17 Agustus Tetap Dinanti?

Batasnya tipis. Sedikit gaya bisa terlihat percaya diri. Terlalu banyak gaya malah membuat orang lain sadar bahwa semuanya memang sudah direncanakan.

Situasi seperti ini sebenarnya mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat hendak berfoto bersama teman, misalnya. Ada yang langsung berdiri begitu saja. Ada pula yang mencari posisi paling pas, membetulkan rambut, memilih ekspresi, kemudian meminta foto diulang karena hasil pertama kurang sesuai.

Tidak ada yang aneh dengan kebiasaan itu.

Hampir semua orang ingin terlihat baik dalam foto yang akan disimpan atau dibagikan.

Baca Juga: Harus Selalu Cepat Balas Chat? Saatnya Belajar Set Boundaries

Persoalannya menjadi lebih menarik ketika proses memilih penampilan tidak berhenti pada foto. Sekarang, hampir setiap aktivitas bisa direkam dan dijadikan konten.

Pergi membeli kopi bisa menjadi video singkat. Jalan pulang bisa dibuat seperti potongan adegan film. Nongkrong bersama teman pun bisa direkam dari beberapa sudut agar suasananya terasa lebih menarik.

Aktivitasnya tetap sama.

Yang berubah adalah cara menampilkannya.

Di sinilah aura farming terasa dekat dengan kebiasaan bermedia sosial. Orang tidak hanya memikirkan apa yang sedang dilakukan, tetapi juga bagaimana dirinya akan terlihat ketika melakukan hal tersebut.

Baca Juga: Throwback ke Era 2016, Fashion Swag Kembali Hadir dengan Gaya Playful dan Penuh Warna

Seseorang mungkin ingin terlihat santai. Orang lain ingin terlihat percaya diri. Ada pula yang ingin memberi kesan misterius atau punya gaya sendiri.

Tidak semuanya berarti sedang mencari perhatian.

Bisa saja seseorang memang nyaman dengan cara tersebut. Namun, ketika momen itu sengaja dibuat untuk menghasilkan kesan tertentu, di situlah istilah aura farming mulai terasa pas digunakan.

Istilah ini sendiri bukan benar-benar muncul dari satu kejadian atau satu orang. Penggunaannya sudah ditemukan di internet sekitar 2024, terutama dalam percakapan yang berkaitan dengan budaya meme, anime, dan konten yang menampilkan karakter atau sosok dengan kesan sangat keren.

Lama-kelamaan, penggunaannya meluas. Tidak hanya untuk karakter fiksi atau tokoh terkenal, tetapi juga untuk kejadian sederhana yang dianggap memiliki “nilai keren”.

Baca Juga: Cuci Muka dengan Air Hangat, Bikin Kulit Kering atau Justru Lebih Bersih? Ini Faktanya

Itulah mengapa seseorang yang berhasil melakukan hal kecil dengan gaya santai pun bisa disebut sedang farming aura.

Bahasa seperti ini memang tumbuh dengan cepat di internet. Istilah yang awalnya dipakai dalam kelompok tertentu bisa menyebar karena orang merasa kata tersebut mudah digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sebelumnya sulit dijelaskan dengan satu istilah.

aura farming salah satunya.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu mencari contoh yang terlalu jauh untuk memahami istilah ini.

Memilih foto terbaik sebelum mengunggahnya. Mengulang video karena ekspresi pertama terasa kurang pas. Membenahi pakaian sebelum kamera menyala. Atau tiba-tiba berjalan lebih percaya diri ketika sadar ada yang sedang merekam.

Baca Juga: Kombinasi Ciput Kontras dengan Warna Hijab Kembali Hits, Tren Lama yang Kini Hadir dengan Gaya Baru

Bisa jadi, kita pernah melakukan semuanya.

Kalau begitu, mungkin aura farming bukan sekadar tren bahasa internet. Istilah ini hanya memberi nama pada kebiasaan yang sebenarnya sudah lama dilakukan: ingin terlihat sebagai versi diri yang paling menarik ketika sedang dilihat orang lain.

Bedanya, sekarang kebiasaan itu punya nama.

Dan kalau ada teman yang mendadak berubah gaya begitu kamera menyala, kita sudah tahu istilahnya. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista Tren Digital media sosial Aura Farming gaya hidup