Harus Selalu Cepat Balas Chat? Saatnya Belajar Set Boundaries

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi memberi jeda dari ponsel dan tidak selalu cepat membalas pesan juga menjadi cara menjaga batas pribadi. (AI Generated)
Ilustrasi memberi jeda dari ponsel dan tidak selalu cepat membalas pesan juga menjadi cara menjaga batas pribadi. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba ada pesan masuk. Belum sempat membalas, notifikasi dari grup lain muncul. Begitu terus sampai akhirnya kita merasa harus membuka ponsel lagi.

Tidak semua pesan harus dijawab saat itu juga. Meski begitu, rasa tidak enak sering muncul ketika kita membiarkannya terlalu lama.

Takut dianggap mengabaikan. Takut dibilang cuek. Atau khawatir muncul pertanyaan, “Kok lama banget balasnya?”

Lama-lama, muncul perasaan bahwa kita harus selalu siap ketika ada orang yang menghubungi. Padahal, ada waktu untuk belajar, makan bersama keluarga, beristirahat, atau sekadar meletakkan ponsel.

Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun ke-29, Kylie Jenner Tampil Memesona dengan Gaya Serba Pink

Kedekatan anak dan remaja dengan internet memang sudah menjadi bagian dari keseharian. UNICEF Indonesia mencatat 95 persen anak usia 12-17 tahun di Indonesia mengakses internet setidaknya dua kali sehari.

Internet digunakan bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk berkomunikasi, menggunakan media sosial, dan mencari hiburan.

Artinya, komunikasi lewat layar sudah menjadi hal yang biasa. Pesan bisa masuk kapan saja, bahkan ketika seseorang sedang tidak ingin berkomunikasi.

Tidak Semua Pesan Harus Langsung Dibalas

Membalas pesan dengan cepat memang menyenangkan bagi penerimanya. Namun, lama atau cepatnya seseorang merespons tidak selalu menunjukkan seberapa peduli ia kepada orang lain.

Baca Juga: Batik Sekar Jagat Madura Jadi Pameran Imersif Ivan Gunawan, NUSANOVA 2.0 Raih Rekor MURI

Ada pesan yang masuk ketika seseorang sedang belajar. Ada juga chat yang datang saat sedang makan, bepergian, atau ingin beristirahat.

Dalam keadaan seperti itu, membalas beberapa jam kemudian seharusnya bukan persoalan besar.

Sayangnya, respons cepat kadang berubah menjadi sebuah harapan. Ketika seseorang lebih lama membalas, pertanyaan pun bisa muncul.

“Lagi sibuk?”

“Kenapa nggak dibalas?”

Padahal, bisa saja orang tersebut sedang mengerjakan tugas, berada di perjalanan, atau memang sedang ingin beristirahat dari ponsel.

Baca Juga: Burgundy atau Maroon? Kenali Perbedaan Dua Warna yang Sering Bikin Keliru

Slow response tidak selalu berarti tidak peduli.

Batas Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Dari hal sederhana seperti itulah set boundaries bisa diterapkan.

Batas tidak harus selalu berupa keputusan besar. Tidak langsung membalas chat ketika sedang belajar juga termasuk bentuk batas. Begitu pula menolak ajakan karena memang sudah memiliki rencana lain.

Kita juga bisa memberi tahu teman jika sedang tidak bisa membalas pesan.

“Aku lagi ngerjain tugas, nanti aku balas.”

Baca Juga: Saat “Harus Bisa” Mulai Terasa Menekan, Ini yang Harus Dilakukan

Kalimat sederhana seperti itu sudah cukup untuk memberi tahu keadaan tanpa harus merasa bersalah.

Batas juga berlaku pada hal-hal yang ingin dibagikan kepada orang lain.

Tidak semua cerita pribadi harus diketahui teman. Tidak semua pertanyaan harus dijawab. Begitu pula tidak semua permintaan harus diterima hanya karena datang dari orang yang dekat.

Menetapkan batas bukan berarti menjauh. Justru, batas yang jelas dapat membuat seseorang tahu kapan harus hadir dan kapan perlu memberi ruang.

Baca Juga: Tiga Bulan Jadi Mama, Alyssa Daguise Ingin Waktu Berjalan Lebih Lambat

Belajar Bilang “Tidak”

Menetapkan batas kadang terasa sulit karena ada rasa sungkan untuk menolak.

Misalnya, teman meminta bantuan ketika kita sendiri sedang punya banyak pekerjaan. Karena tidak enak mengatakan tidak, kita akhirnya mengiyakan. Setelah itu, pekerjaan sendiri justru semakin menumpuk.

Padahal, menolak satu permintaan bukan berarti menolak pertemanan.

Kita bisa menyampaikannya dengan sederhana.

Baca Juga: Saat Belanja Jadi Cara Memanjakan Diri, Kenali Bedanya Self Reward dan Self Sabotage

“Maaf, hari ini aku belum bisa.”

“Aku lagi banyak tugas.”

“Aku bantu kalau sudah selesai yang ini.”

Tidak semua penolakan harus disertai penjelasan panjang. Yang penting, kita tahu kemampuan dan waktu yang dimiliki.

Tidak Harus Selalu Ada

Teknologi membuat orang lain semakin mudah menjangkau kita. Namun, kemudahan untuk menghubungi seseorang tidak otomatis berarti kita harus selalu siap menjawab.

Baca Juga: John Herdman Aman dari Pemecatan PSSI Usai Kegagalan Timnas Indonesia, Media Vietnam Bandingkan dengan STY

Ada waktunya kita membalas pesan, membantu teman, atau hadir ketika seseorang membutuhkan. Ada pula waktunya kita perlu menyelesaikan urusan sendiri tanpa terus memikirkan notifikasi yang masuk.

Slow response juga tidak selalu berarti tidak peduli. Bisa jadi, seseorang sedang menjalani harinya tanpa terus-menerus melihat layar.

Tidak semua pesan harus segera dijawab. Tidak semua ajakan harus diterima. Dan punya waktu untuk diri sendiri bukan berarti menjauh dari orang lain. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Rahma Azra Calista Set Boundaries anak muda komunikasi lifestyle