Ada kebiasaan pasangan yang mungkin membuat kita mengernyitkan dahi, tetapi sebenarnya tidak membahayakan hubungan.
Di media sosial, kondisi seperti ini belakangan kerap disebut sebagai beige flag.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kebiasaan atau karakter pasangan yang unik, sedikit aneh, bahkan terkadang membuat kesal, tetapi pada dasarnya tidak menunjukkan masalah serius dalam hubungan.
Berbeda dengan beige flag, ada istilah yang sudah lebih dulu populer, yakni red flag.
Jika beige flag cenderung berada di wilayah netral, red flag merupakan tanda peringatan yang perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan perilaku atau pola hubungan yang tidak sehat.
Ketika Keanehan Hanya Sebatas Keanehan
Contoh beige flag sebenarnya sangat sederhana.
Pasangan selalu menonton film yang sama berulang kali, memiliki kebiasaan makan yang unik, terlalu serius membicarakan hobinya, atau selalu menggunakan kalimat tertentu dalam percakapan.
Hal-hal tersebut mungkin terasa mengganggu atau membuat pasangan bertanya-tanya.
Namun, selama kebiasaan itu tidak merugikan, mengontrol, atau menyakiti pasangan, perilaku tersebut lebih tepat dilihat sebagai bagian dari keunikan seseorang.
Makna beige flag sendiri memang sangat subjektif. Sesuatu yang dianggap aneh oleh satu orang belum tentu terasa aneh bagi orang lain.
Red Flag Bikin Kesal
Situasinya berbeda ketika perilaku pasangan mulai menyentuh batas keamanan, kepercayaan, atau penghormatan dalam hubungan.
Berbohong berulang kali, melakukan kekerasan, berselingkuh, atau menunjukkan perilaku yang sangat mengontrol merupakan contoh yang dapat masuk dalam kategori red flag.
Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan lagi soal pasangan memiliki kebiasaan yang aneh.
Yang menjadi persoalan adalah dampak perilaku tersebut terhadap hubungan dan orang yang menjalaninya.
Baca Juga: Antre dan Etika di Ruang Publik, Kebiasaan Kecil yang Mencerminkan Karakter
Karena itu, menyamakan beige flag dengan red flag justru dapat membuat seseorang keliru membaca sebuah hubungan.
Jangan Semua Kebiasaan Disebut Red Flag
Fenomena beige flag juga menunjukkan bagaimana media sosial mengubah cara orang membicarakan hubungan.
Kebiasaan pasangan yang sebenarnya sederhana bisa dikemas menjadi konten, diberi label tertentu, lalu menjadi bahan candaan bersama.
Namun, istilah populer tersebut tetap perlu digunakan dengan hati-hati.
Psikolog dari Psychology Today mengingatkan, bahwa beberapa perilaku yang awalnya terlihat sebagai beige flag ternyata dapat menjadi petunjuk adanya persoalan kompatibilitas jika terus berulang dan mulai mengganggu hubungan.
Artinya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar labelnya.
Lihat perilakunya, frekuensinya, konteksnya, dan dampaknya.
Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun ke-29, Kylie Jenner Tampil Memesona dengan Gaya Serba Pink
Beige Flag Jangan Diabaikan
Ada kalanya kebiasaan kecil pasangan memang terasa menjengkelkan.
Misalnya, pasangan selalu terlambat memilih tempat makan, terlalu lama membalas pesan ketika sedang sibuk, atau memiliki kebiasaan tertentu yang sulit dipahami.
Hal seperti ini belum tentu menjadi masalah besar.
Namun, jika kebiasaan tersebut berkembang menjadi pola yang mengabaikan kebutuhan, batasan, atau perasaan pasangan, situasinya perlu dilihat kembali.
Di sinilah garis antara “unik” dan “bermasalah” mulai menjadi penting.
Jadi, Mana yang Harus Dikhawatirkan?
Sederhananya, beige flag adalah sesuatu yang membuat kita berkata: “Kok dia begitu, ya?”
Sementara red flag lebih dekat dengan pertanyaan: “Apakah perilaku ini membuat hubungan menjadi tidak sehat atau tidak aman?”
Perbedaannya memang terdengar sederhana.
Tetapi dalam hubungan, konteks jauh lebih penting daripada sekadar memberi warna pada sebuah perilaku.
Baca Juga: Sekarang Menghilang, 8 Fitur Barang Lama Yang Ternyata Praktis Banget
Sebab, tidak semua kebiasaan aneh adalah tanda bahaya.
Dan tidak semua tanda bahaya selalu terlihat mencolok sejak awal.
Pada akhirnya, mengenali beige flag maupun red flag bukan tentang mencari pasangan yang sempurna.
Ini lebih kepada memahami perilaku pasangan, mengetahui batas diri, serta melihat apakah sebuah hubungan masih dibangun atas dasar rasa hormat, kepercayaan, dan keamanan emosional. (Siti Putri Lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto