Benar atau Viral? Ketika Popularitas Mengalahkan Fakta

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 19:20 WIB
Ilustrasi Post-Truth. (AI Generated)
Ilustrasi Post-Truth. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Kebenaran hari ini tidak selalu kalah karena fakta itu salah.

Kadang, fakta kalah karena kalah menarik.

Sebuah video pendek yang dikemas dramatis dapat menyebar jauh lebih cepat daripada penjelasan panjang yang disertai data. 

Satu unggahan dari seorang influencer bisa dipercaya ribuan orang hanya karena sosok yang menyampaikannya dianggap dekat dan meyakinkan.

Di tengah derasnya arus informasi, persoalannya bukan lagi sekadar apakah sebuah informasi benar atau salah, tetapi apakah masyarakat masih memiliki waktu dan kemauan untuk memeriksa kebenarannya.

Baca Juga: Social Withdrawal di Era Digital: Ketika Terhubung Justru Melelahkan

Istilah post-truth kemudian menjadi relevan untuk menggambarkan kondisi ketika fakta objektif semakin kehilangan pengaruh dalam membentuk opini publik, sementara emosi, keyakinan pribadi, dan narasi yang sesuai dengan apa yang ingin dipercaya justru memiliki daya pengaruh lebih besar.

Kita mungkin tidak sepenuhnya hidup dalam dunia tanpa kebenaran, tetapi sedang berada dalam situasi ketika kebenaran harus berkompetisi dengan sesuatu yang jauh lebih mudah dikonsumsi: cerita yang menghibur, membuat marah, menakutkan, atau membenarkan keyakinan yang sudah dimiliki.

Media sosial membuat persoalan tersebut semakin rumit. Algoritma bekerja dengan mempelajari apa yang kita sukai, tonton, komentari, dan bagikan.

Akibatnya, seseorang dapat terus-menerus disuguhi informasi yang memiliki pola serupa dengan keyakinannya sendiri.

Jika seseorang sering mengonsumsi konten tertentu, platform akan terus menawarkan konten sejenis.

Lama-kelamaan, dunia digital terasa seperti ruangan yang hanya berisi suara yang kita setujui.

Pandangan berbeda menjadi terasa asing, bahkan sebelum diperiksa apakah pandangan tersebut memiliki dasar yang kuat.

Baca Juga: Ziva Magnolya Menangis Usai Dengar Lirik “Pelindungmu”, Soundtrack Film Ayah Aku Mau Cerita

Masalah berikutnya muncul ketika batas antara pembuat informasi dan penyebarnya semakin kabur.

Dulu, masyarakat relatif mudah mengenali media sebagai sumber berita dan membedakannya dari pendapat pribadi.

Kini, siapa pun dapat menjadi penyebar informasi.

Seorang influencer, kreator konten, selebritas, bahkan akun anonim dapat membentuk opini publik dalam hitungan jam. Jumlah pengikut kemudian secara tidak langsung dianggap sebagai ukuran kredibilitas.

Padahal, popularitas dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Informasi tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan oleh orang yang memiliki jutaan pengikut.

Kehadiran kecerdasan buatan membuat tantangannya semakin besar.

Foto, suara, dan video kini dapat dibuat atau dimanipulasi dengan tingkat kemiripan yang semakin sulit dikenali secara sekilas.

Seseorang dapat dibuat seolah-olah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diucapkan.

Sebuah peristiwa yang tidak pernah terjadi dapat divisualisasikan seolah-olah nyata.

Ketika teknologi mampu membuat kebohongan terlihat begitu meyakinkan, kemampuan untuk membedakan fakta dan rekayasa tidak lagi menjadi persoalan teknis semata. Ia berubah menjadi persoalan literasi publik.

Ironisnya, kita sering kali tidak benar-benar mencari kebenaran ketika menerima sebuah informasi.

Kita mencari pembenaran.

Informasi yang sesuai dengan keyakinan akan lebih mudah diterima, sementara informasi yang bertentangan cenderung langsung dicurigai.

Inilah bagian paling berbahaya dari budaya post-truth: kebohongan tidak selalu membutuhkan orang yang sengaja berbohong.

Ia cukup membutuhkan orang yang bersedia membagikannya tanpa memeriksa karena informasi tersebut terasa benar bagi dirinya. Tombol “bagikan” akhirnya dapat menjadi lebih cepat daripada proses berpikir.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Tampil Impresif di FP1 GP Inggris Silverstone, Amankan Posisi Keenam

Dalam situasi seperti ini, kecepatan juga menjadi persoalan.

Ekosistem digital mendorong masyarakat untuk mengetahui sesuatu secepat mungkin. Berita yang baru beberapa menit beredar sudah dituntut memiliki kesimpulan, sementara proses verifikasi membutuhkan waktu.

Akibatnya, informasi yang belum lengkap dapat telanjur membentuk opini sebelum fakta yang sebenarnya muncul. Ketika klarifikasi datang, kerusakan informasi belum tentu dapat dipulihkan.

Banyak orang sudah terlanjur percaya, marah, menyebarkan, bahkan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang keliru.

Namun, menyalahkan teknologi saja juga terlalu sederhana. Persoalan post-truth pada akhirnya kembali kepada manusia.

Teknologi hanya memperbesar apa yang sudah ada dalam diri kita: keinginan untuk mendapatkan informasi secara cepat, kecenderungan mempercayai kelompok sendiri, dan dorongan untuk membagikan sesuatu yang memancing emosi.

Karena itu, kemampuan paling penting di tengah banjir informasi bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan berhenti sejenak.

Siapa yang mengatakan ini? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Apakah ada sumber lain yang dapat memverifikasinya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menjadi semakin penting ketika sebuah informasi terasa terlalu mengejutkan untuk tidak segera dipercaya.

Baca Juga: Mengapa India Memiliki Salah Satu Jaringan Kereta Terbesar di Dunia?

Pada akhirnya, era post-truth mungkin bukan berarti fakta telah mati, melainkan fakta sedang menghadapi persaingan yang semakin berat.

Kebenaran harus berhadapan dengan algoritma, popularitas, emosi, kepentingan, dan teknologi yang mampu membuat informasi palsu tampak nyata. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna internet yang aktif.

Kita harus menjadi pembaca yang skeptis, penonton yang kritis, dan pengguna media sosial yang tidak mudah menjadikan viralitas sebagai ukuran kebenaran.

Sebab, di zaman ketika siapa pun dapat menciptakan informasi dan kecerdasan buatan dapat membuat kebohongan tampak meyakinkan, mungkin kemampuan paling penting yang harus dipertahankan manusia adalah satu hal sederhana yaitu kesediaan untuk berkata. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
kebenaran hoax fakta gosip informasi