Ketika Media Sosial Membuat Kita Merasa Tidak Pernah Cukup

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi Fenomena Gen Z yang tidak pernah merasa cukup. (AI Generated)
Ilustrasi gen Z yang tidak pernah merasa cukup. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pagi belum benar-benar dimulai, tetapi perlombaan sudah berjalan.

Jempol menggeser layar ponsel dari satu unggahan ke unggahan berikutnya.

Seseorang baru saja wisuda, teman yang lain diterima bekerja di perusahaan impian, ada yang memamerkan perjalanan ke luar negeri, sementara yang lain mengunggah foto pertunangan.

Di layar, hidup seolah bergerak begitu cepat.

Baca Juga: On This Day: 10 Momen Penting Di Tanggal 10 Agustus, Ada Kereta Api Pertama Hingga Pemugaran Candi Borobudur

Ironisnya, semakin lama melihat kehidupan orang lain, semakin mudah seseorang merasa hidupnya sendiri tidak bergerak ke mana-mana.

Bagi sebagian Gen Z, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita, melainkan ruang tempat mereka diam-diam mengukur apakah dirinya sudah cukup berhasil.

Perasaan tertinggal itu sering disebut Fear of Missing Out atau FOMO.

Namun, dalam konteks kehidupan Gen Z, persoalannya terasa lebih luas daripada sekadar takut melewatkan sebuah acara atau tren.

Yang ditakutkan bukan lagi ketinggalan konser, tempat nongkrong, atau produk terbaru, melainkan ketinggalan kehidupan itu sendiri.

Ada kecemasan ketika melihat teman sebaya sudah memiliki pekerjaan tetap, penghasilan sendiri, kendaraan, pasangan, bahkan rumah.

Pertanyaan sederhana, “Kapan saya menyusul?”, perlahan berubah menjadi tekanan yang terus berulang.

Padahal, kehidupan manusia tidak pernah benar-benar berjalan dalam satu jadwal yang sama.

Masalahnya, media sosial hanya memperlihatkan bagian kehidupan yang paling layak ditampilkan.

Kita melihat foto wisuda, tetapi tidak melihat bertahun-tahun perjuangan di baliknya.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak tahu berapa banyak lamaran yang pernah ditolak.

Kita melihat perjalanan mahal, tetapi tidak tahu kondisi keuangan setelahnya.

Bahkan ketika seseorang tampak bahagia dalam sebuah unggahan, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.

Media sosial akhirnya menciptakan perbandingan yang tidak adil: kita membandingkan kehidupan nyata yang penuh kekurangan dengan kehidupan orang lain yang sudah melalui proses penyuntingan.

Baca Juga: On This Day: 10 Kejadian Penting Di Tanggal 8 Agustus, Lahirnya ASEAN Hingga Foto Ikonik The Beatles

Di titik inilah algoritma memiliki peran yang tidak sederhana.

Semakin sering seseorang memperhatikan konten tentang kesuksesan, kekayaan, kecantikan, produktivitas, atau gaya hidup tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang disodorkan kepadanya.

Dunia digital kemudian terasa seperti ruangan dengan cermin tanpa ujung.

Setiap kali membuka layar, selalu ada seseorang yang terlihat lebih maju.

Ada yang lebih produktif, lebih kaya, lebih menarik, lebih sukses, atau lebih bahagia.

Jika tidak disadari, seseorang dapat mulai menganggap apa yang sebenarnya merupakan potongan kehidupan orang lain sebagai gambaran kehidupan yang seharusnya ia miliki.

Yang lebih berbahaya, rasa takut tertinggal dapat mengubah cara gen Z mengambil keputusan.

Baca Juga: JJ Tak Lagi Hanya Bernyanyi, CoComelon Siap Hadir di Layar Lebar

Keinginan untuk terlihat berhasil, akan mendorong seseorang mengikuti tren yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Membeli sesuatu demi gengsi, mengejar pekerjaan hanya karena status, atau merasa harus segera mencapai pencapaian tertentu sebelum usia tertentu.

Hidup akhirnya tidak lagi dijalani berdasarkan kebutuhan dan tujuan pribadi, tetapi berdasarkan pertanyaan: “Apa yang sudah dimiliki orang seusia saya?”

Ketika pencapaian berubah menjadi perlombaan, kebahagiaan pun mudah bergeser menjadi kompetisi.

Padahal, tidak ada garis start yang benar-benar sama.

Seseorang mungkin dapat fokus mengejar karier karena tidak memiliki beban ekonomi keluarga.

Orang lain mungkin harus bekerja sambil kuliah.

Ada yang mendapatkan dukungan finansial penuh dari keluarga, sementara yang lain harus membiayai hidupnya sendiri.

Ada yang menemukan kesempatan lebih cepat, sementara sebagian lainnya harus melewati jalan yang jauh lebih panjang.

Membandingkan hasil akhir tanpa melihat titik awal hanya akan melahirkan kesimpulan yang keliru.

Karena itu, pertanyaan “Mengapa saya belum seperti dia?”, seharusnya tidak selalu menjadi pertanyaan tentang kegagalan.

Tetapi tentang kondisi dan tujuan hidup kita memang sama.

Baca Juga: Rekam Jejak 30 Tahun Timnas Indonesia di Piala AFF, 11 Pelatih, 6 Gelar Runner-up, Juaranya Kapan?

Generasi muda juga perlu berhati-hati terhadap budaya yang menjadikan usia sebagai tenggat keberhasilan.

Usia 20-an seolah harus menjadi masa untuk memiliki semuanya: pekerjaan mapan, tabungan, pasangan, kendaraan, rumah, dan kehidupan yang terlihat menarik di media sosial.

Mereka yang belum mencapainya mudah merasa terlambat.

Padahal, hidup bukan kalender perlombaan yang menetapkan kapan seseorang harus sampai pada titik tertentu.

Ada orang yang menemukan jalannya pada usia dua puluhan, ada yang baru menemukannya setelah tiga puluhan, dan ada pula yang berkali-kali mengubah arah.

Terlambat dalam satu ukuran belum tentu berarti gagal dalam kehidupan.

Karena itu, persoalan terbesar gen Z mungkin bukan kurangnya ambisi, melainkan terlalu banyaknya standar keberhasilan yang mereka konsumsi setiap hari. 

Kita hidup dalam zaman ketika pencapaian dapat dipamerkan dalam satu unggahan dan kegagalan dapat disembunyikan dengan mudah.

Tantangannya bukan berhenti menggunakan media sosial, melainkan belajar memahami bahwa apa yang muncul di layar bukanlah keseluruhan realitas.

Sesekali, mungkin kita perlu berhenti menggulir layar dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar menginginkan kehidupan itu, atau hanya takut dianggap tertinggal karena orang lain sudah memilikinya?

Baca Juga: Jadi Ujung Tombak! Aria Bima Instruksikan Pengurus Ranting PDIP Kawal Masalah Warga Lewat Program Jaring Asmara

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan yang dimulai dari garis yang sama dan selesai pada waktu yang sama.

Tidak semua orang harus lulus pada usia yang sama, bekerja di tempat yang sama, menikah pada usia tertentu, atau memiliki kekayaan sebelum memasuki usia tiga puluh.

Gen Z tidak harus memenangkan perlombaan yang sebenarnya tidak pernah mereka sepakati.

Sebab, mungkin yang paling perlu dikejar bukan kehidupan orang lain, melainkan kehidupan yang memang ingin kita jalani.

Di tengah dunia yang terus berteriak tentang siapa yang sudah berhasil, keberanian terbesar justru mungkin terletak pada kemampuan untuk berkata: ”Saya tidak terlambat, saya hanya sedang menempuh jalan saya sendiri”. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
ambisi Gen Z proses pikiran perubahan