Ketika Skena Cuma Jadi Gaya: Hilangnya Makna di Balik Subkultur

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi Outfit Skena. (AI Generated)
Ilustrasi outfit skena. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COMDi tengah hiruk-pikuk budaya anak muda di media sosial, satu istilah semakin sering muncul, tetapi sekaligus semakin sering disalahpahami: skena.

Di TikTok, Instagram, hingga percakapan sehari-hari, skena kerap identik dengan sosok fashion  celana gombrong, kaus band, tote bag, sepatu tertentu, atau gaya pakaian yang dianggap anak indie.

Penampilan seolah menjadi kartu identitas untuk menentukan siapa yang layak disebut anak skena dan siapa yang tidak.

Ironisnya, ketika istilah tersebut semakin populer, makna aslinya justru berpotensi semakin dangkal.

Baca Juga: Geger Sepak Bola Asia! KFA Minta Maaf Soal Tuduhan Layanan Seksual Wasit Asing Lebih dari Sedekade Lalu

Skena yang semestinya menggambarkan sebuah ruang sosial dan budaya berubah menjadi semacam kode berpakaian.

Secara sederhana, skena merujuk pada lingkungan atau komunitas yang terbentuk karena adanya kesamaan ketertarikan terhadap bidang tertentu.

Dalam konteks musik, misalnya, dikenal istilah skena musik independen, punk, hardcore, metal, jazz, elektronik, hingga berbagai musik underground.

Di dalamnya terdapat musisi, penonton, promotor, pengelola ruang pertunjukan, kolektor rilisan, komunitas, dan berbagai individu yang saling berinteraksi.

Mereka bukan sekadar berkumpul karena menyukai musik yang sama, tetapi juga membangun jaringan, menghasilkan karya, menghadiri pertunjukan, bertukar gagasan, dan menjaga keberlangsungan ekosistem tersebut.

Dengan demikian, skena lebih tepat dipahami sebagai ruang kebudayaan yang hidup daripada sekadar gaya penampilan.

Masalah muncul ketika ekspresi visual dari sebuah komunitas justru dianggap sebagai definisi utamanya.

Celana gombrong, kaus band lawas, sepatu sneakers, rambut tertentu, atau aksesori yang identik dengan komunitas tertentu kemudian diperlakukan seperti outfit skena.

Seseorang yang memakai atribut tersebut dapat dengan mudah diberi label anak skena, sementara orang yang tidak menggunakannya dianggap berada di luar lingkaran.

Padahal, fashion hanyalah salah satu bentuk ekspresi budaya. Ia dapat memperlihatkan identitas, selera, atau afiliasi seseorang, tetapi tidak otomatis membuktikan keterlibatan seseorang dalam sebuah komunitas.

Menyamakan skena dengan pakaian pada akhirnya sama saja dengan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya.

Baca Juga: Semarak Warga Menghias Kampung Jelang HUT RI? Ini Makna di Balik Tradisinya

Media sosial ikut mempercepat penyederhanaan tersebut.

Algoritma platform digital bekerja dengan mengutamakan sesuatu yang mudah dikenali secara visual dan cepat dikonsumsi. 

Akibatnya, aspek-aspek budaya yang kompleks seperti sejarah komunitas, perkembangan musik, relasi antarpelaku, hingga nilai yang diperjuangkan sebuah skena sulit mendapatkan ruang sebesar tampilan visual.

Foto seseorang berdiri di depan venue dengan outfit tertentu jauh lebih mudah menjadi konten daripada cerita panjang tentang bagaimana sebuah komunitas musik bertahan secara mandiri.

Dari sinilah estetika perlahan menggantikan substansi.

Skena tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk berkarya dan berjejaring, tetapi ikut berubah menjadi sebuah Penampilan yang dapat direplikasi siapa saja.

Perubahan tersebut bukan berarti penampilan tidak memiliki arti.

Justru dalam berbagai subkultur, pakaian sering menjadi bahasa untuk mengekspresikan identitas dan solidaritas.

Masalahnya, ketika simbol tersebut dipisahkan dari konteks yang melahirkannya, celana gombrong tidak otomatis memiliki makna yang sama bagi semua orang.

Kaus band juga tidak selalu menunjukkan keterlibatan seseorang dalam komunitas musik tertentu.

Ketika simbol budaya dipindahkan ke ruang konsumsi dan media sosial, ia dapat kehilangan sebagian konteksnya dan berubah menjadi komoditas estetika.

Apa yang sebelumnya menjadi ekspresi identitas komunitas kemudian dapat dijual, dibeli, dipotret, dan dipamerkan sebagai bagian dari gaya hidup.

Baca Juga: Tampil Gelap Dengan Gaya, Kenali Beragam Aliran Fashion Dark Aesthetic

Di sisi lain, fenomena ini memperlihatkan paradoks budaya populer: sesuatu yang awalnya berada di pinggiran justru dapat menjadi tren ketika masuk ke arus utama.

Gaya yang dahulu dianggap identik dengan komunitas tertentu kini dapat ditemukan di pusat perbelanjaan, katalog merek fesyen, hingga konten influencer.

Ketika estetika subkultur menjadi populer, batas antara anggota komunitas dan konsumen gaya tersebut menjadi semakin kabur.

 Seseorang tidak harus memahami sejarah musik underground untuk mengenakan atribut yang terinspirasi darinya.

Di sinilah muncul persoalan yang lebih besar: apakah seseorang benar-benar menjadi bagian dari sebuah skena karena memahami dan terlibat di dalamnya, atau cukup dengan mengadopsi penampilannya?

Namun, mengkritik fenomena tersebut juga tidak berarti harus membuat “ujian keanggotaan” bagi siapa pun yang mengaku sebagai anak skena.

Budaya selalu bergerak dinamis. Bercampur, dan mengalami perubahan.

Orang baru tentu berhak memasuki sebuah komunitas tanpa harus terlebih dahulu mengetahui seluruh sejarahnya.

 Yang perlu dipersoalkan justru kecenderungan untuk menghapus kompleksitas sebuah skena dan menggantinya dengan stereotip visual.

Ketika seseorang hanya dianggap “skena” karena pakaiannya, sementara musisi, penonton, pekerja kreatif, atau komunitas yang benar-benar membangun ekosistemnya justru tidak terlihat.

Maka yang hilang bukan sekadar definisi sebuah kata, melainkan konteks kultural di baliknya.

Baca Juga: Attar Syach dan Ananda Lontoh Selalu Berhasil Bikin Gemas, Tingkah Kocak Keluarga Ini Jadi Hiburan Warganet

Pada akhirnya, “skena” tidak tinggal di dalam potongan celana, desain kaus, model sepatu, atau estetika foto media sosial.

Skena hidup melalui orang-orang yang menciptakan, menikmati, mendukung, dan mempertahankan sebuah kebudayaan bersama.

Ia tumbuh dari musik yang dimainkan, ruang yang digunakan untuk berkumpul, karya yang diproduksi, pertemanan yang terbentuk, hingga jaringan sosial yang terus bergerak.

Karena itu, mungkin sudah waktunya berhenti bertanya, “Apakah bajunya sudah cukup skena?” dan mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam skena tersebut?”

Sebab pada akhirnya, menjadi bagian dari sebuah subkultur bukan perkara terlihat paling sesuai dengan estetikanya.

Melainkan tentang sejauh mana seseorang hadir, terlibat, dan ikut memberi kehidupan pada komunitas yang ia pilih. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
perkumpulan outfit anak-anak skena