Merasa Menjadi Dua Sisi Berbeda? Bisa Jadi Alter Ego, Bukan Dissociative Identity Disorder

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 09:22 WIB
Ilustrasi (foto by pinterest)
Ilustrasi alter ego (pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah maraknya penggunaan istilah psikologi di media sosial, alter ego menjadi salah satu istilah yang cukup sering terdengar.

Tapi, terkadang masyarakat yang masih salah menafsirkannya.

Bahkan ada yang menganggap alter ego sama dengan kepribadian ganda atau gangguan mental.

Padahal, dua-duanya memiliki konsep berbeda.

Secara harfiah, alter ego berasal dari bahasa latin yang berarti "diri yang lain" atau "aku yang lain”. 

Baca Juga: Sering Merasa Penat? Kenali Istilah Stress Release

Dalam ilmu psikologi, alter ego mengacu pada sisi atau persona alternatif yang dimiliki seseorang.

Kemudian muncul ketika menjalankan peran atau menghadapi situasi tertentu. 

Persona ini bukanlah identitas yang terpisah, melainkan bagian dari kepribadian yang sama dan masih berada dalam kendali individu.

Dapat diartikan, alter ego merupakan "versi lain" dari diri seseorang yang membantu menyesuaikan perilaku sesuai kebutuhan.

Contohnya seperti seseorang yang pendiam dalam kehidupan sehari-hari, tapi justru tampil percaya diri saat berbicara di depan umum. 

Seorang musisi mungkin memiliki karakter energik dan ekspresif ketika berada di atas panggung, tetapi kembali menjadi pribadi yang tenang saat berada di rumah. 

Perubahan tersebut bukan berarti seseorang memiliki dua kepribadian, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap peran yang sedang dijalankan.

Dalam kajian psikologi, setiap individu memiliki kemampuan untuk menampilkan sisi kepribadian yang berbeda sesuai konteks sosial. 

Hal ini merupakan proses adaptasi yang normal dan membantu seseorang menjalankan berbagai peran dalam kehidupan.

Baca Juga: On This Day: 10 Momen Penting Di Tanggal 10 Agustus, Ada Kereta Api Pertama Hingga Pemugaran Candi Borobudur

Seperti sebagai pekerja, orang tua, mahasiswa, pemimpin, maupun anggota masyarakat.

Memiliki kemampuan alter ego, sejatinya memberikan banyak manfaat.

Sebagian orang memanfaatkannya untuk meningkatkan rasa percaya diri, mengatasi rasa gugup, atau membangun pola pikir lebih positif saat menghadapi tantangan. 

Karena itu, banyak atlet, seniman, pembicara publik, hingga tokoh hiburan yang secara sadar membangun karakter tertentu ketika tampil di hadapan banyak orang.

Namun, penting dipahami bahwa alter ego berbeda dengan gangguan identitas disosiatif alias dissociative identity disorder (DID).

Dalam konsep alter ego, seseorang tetap menyadari siapa dirinya dan dapat mengendalikan kapan persona tersebut ditampilkan. 

Sementara itu, DID merupakan kondisi kesehatan mental yang melibatkan dua atau lebih identitas berbeda yang dapat bergantian menguasai perilaku seseorang.

Pada dasarnya, alter ego merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk beradaptasi dan mengekspresikan berbagai sisi kepribadian sesuai situasi.

Dengan catatan tetap berada dalam kesadaran dan kendali individu. (ramadhan pujo)

Editor : Ferry Ardi Susanto
alter ago did dissociative identity disorder kepribadian