SOLOBALAPAN.COM - Pernikahan bisa berakhir. Tinggal serumah bisa selesai. Tetapi bagi pasangan yang sudah memiliki anak, ada satu hubungan yang tidak ikut selesai begitu saja.
Hubungan itu adalah hubungan sebagai orang tua.
Gading Marten dan Gisella Anastasia, misalnya. Keduanya sudah tidak lagi menjadi pasangan sejak bercerai pada 2019. Namun, Gempi tetap menjadi bagian dari kehidupan keduanya.
Mereka masih bisa terlihat bersama ketika ada momen penting untuk Gempi. Pada Maret 2026, Gading dan Gisel bahkan berlibur bersama putrinya ke Disneyland Tokyo.
Baca Juga: Dari Tradisi Syukuran hingga 17 Agustus, Mengapa Tumpeng Tetap Dipertahankan?
Pemandangan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Dua orang tua menghabiskan waktu bersama anaknya. Tetapi di baliknya ada cara baru dalam menjalani hubungan setelah rumah tangga tidak lagi berjalan seperti dulu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah co-parenting.
Istilah tersebut merujuk pada pola pengasuhan ketika dua orang tua tetap berbagi tanggung jawab membesarkan anak meskipun sudah tidak lagi menjadi pasangan.
Mereka tetap berkomunikasi mengenai kebutuhan anak, membagi waktu, dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan kehidupan anak.
Baca Juga: Indra Priawan Bacakan Alquran saat Peresmian Masjid di Kanada, Momen Ini Tuai Pujian Warganet
Tidak berarti harus selalu pergi bersama. Tidak pula berarti hubungan keduanya harus kembali seperti ketika masih menikah.
Yang tetap berjalan adalah urusan anak.
Hal itu pula yang terlihat dari Desta dan Natasha Rizky. Setelah bercerai, keduanya tetap menjalankan peran sebagai orang tua bagi tiga anak mereka.
Kebersamaan mereka tidak selalu berupa kegiatan besar. Ada momen ketika keduanya hadir dalam acara anak, menghabiskan waktu bersama, atau sekadar memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Baca Juga: Dulu Canggung, Kini Lumrah: Split Bill dan Kebiasaan Mengatur Uang
Bagi anak, hal-hal semacam itu mungkin jauh lebih penting daripada bagaimana hubungan orang tuanya terlihat di depan publik.
Tetapi menjalankan pengasuhan bersama setelah perceraian tidak selalu mudah.
Di sini, co-parenting tidak hanya soal hubungan antara ayah dan ibu. Ketika salah satu atau kedua orang tua sudah memiliki pasangan baru, ada orang lain yang ikut berada di sekitar kehidupan anak.
Kondisi tersebut membutuhkan penyesuaian lagi. Contoh lain datang dari Ferry Maryadi dan Risma Nilawati. Keduanya telah bercerai sejak 2009 dan memiliki seorang putri, Leya.
Baca Juga: Diva Azzura Ulang Tahun ke-24, Momen Surprise dari Na Daehoon Banjir Pujian
Bertahun-tahun setelah perceraian, hubungan mereka tetap baik. Risma bahkan dekat dengan Deswita Maharani, istri Ferry. Mereka tetap bisa berada dalam lingkungan yang sama ketika berkaitan dengan Leya.
Hubungan seperti ini memperlihatkan bahwa keluarga setelah perceraian tidak selalu terbagi menjadi dua bagian yang saling berjauhan.
Ada ayah. Ada ibu. Ada anak. Lalu, dalam beberapa keluarga, ada pula pasangan baru dan keluarga yang ikut tumbuh di dalamnya.
Baca Juga: Pistachio Kian Digemari, Bukan Sekadar Pelengkap Dessert
Sementara itu, Acha Septriasa dan Vicky Kharisma menghadapi situasi yang berbeda. Mereka tidak selalu berada di tempat yang sama ketika menjalankan peran sebagai orang tua.
Acha pernah menjelaskan bahwa dirinya dan Vicky menerapkan co-parenting, termasuk dalam mengatur waktu bersama putri mereka.
Jarak membuat pengasuhan membutuhkan pengaturan yang lebih rapi. Kapan anak bersama ayah, kapan bersama ibu, bagaimana komunikasi dilakukan, dan bagaimana keduanya tetap terlibat dalam kehidupan anak meskipun tidak selalu berada di satu tempat.
Baca Juga: Saat Fatherless Bukan Sekadar Tidak Punya Ayah
Dari sini terlihat bahwa bentuk co-parenting memang bisa berbeda pada setiap keluarga.
Ada yang tinggal berdekatan. Ada yang berbeda kota. Ada yang masih sering bertemu karena anak. Ada pula yang harus mengandalkan komunikasi untuk mengatur pengasuhan.
Yang sama adalah adanya tanggung jawab yang tetap dibagi.
Dalam praktiknya, urusan tersebut bisa sangat sederhana. Membicarakan jadwal sekolah. Mengatur waktu liburan. Menghadiri acara anak.
Menentukan kegiatan yang boleh diikuti. Sampai memastikan anak tetap bisa berkomunikasi dengan kedua orang tuanya.
Hal-hal kecil itu mungkin tidak terlihat menarik dari luar. Namun, justru di sanalah pengasuhan berjalan.
Karena itu, co-parenting juga tidak sama dengan sekadar membagi jadwal bertemu anak.
Ada komunikasi yang harus dijaga. Ada keputusan yang perlu dibicarakan bersama. Dan ada batas yang perlu dibuat agar persoalan antara dua orang dewasa tidak ikut menjadi beban anak.
Itulah sebabnya perceraian tidak selalu menjadi akhir dari hubungan keluarga. Bentuknya saja yang berubah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba 17 Agustus, Ini Makna Filosofi di Balik Permainan Bakiak
Co-parenting menjadi salah satu cara bagi orang tua untuk menjalani perubahan tersebut. Bukan dengan kembali menjadi pasangan, tetapi dengan tetap hadir dalam kehidupan anak melalui cara yang baru.
Sebab ada hubungan yang memang bisa berakhir ketika pernikahan selesai. Menjadi orang tua bukan salah satunya. (Rahma Azra Calista)
Editor : Adi Pras