Ketika Gaya Hidup Dibayar Dengan Utang: Gen Z Dan Jebakan Paylater

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 16:34 WIB
Ilustrasi Terjebak PayLater. (AI Generated)
Ilustrasi terjebak pinjaman online. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pagi dimulai dengan membuka media sosial (medsos). 

Di layar, seseorang memamerkan kopi di kafe, gawai terbaru, pakaian yang sedang tren, konser akhir pekan, perjalanan ke luar kota, hingga makan malam di restoran yang sedang ramai diperbincangkan.

Semuanya terlihat biasa saja sampai muncul satu pertanyaan: berapa banyak dari gaya hidup itu yang benar-benar dibayar dengan uang yang sudah dimiliki?

Bagi sebagian anak muda, keinginan untuk mengikuti ritme kehidupan digital tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan finansial.

Ketika penghasilan belum cukup untuk memenuhi standar hidup yang terus naik, paylater menawarkan jalan keluar yang tampak sederhana: beli sekarang, bayar kemudian.

Baca Juga: Darjeeling Himalayan Railway, Jalur Kereta Warisan Dunia UNESCO yang Menembus Pegunungan Himalaya

Nah, masalah datang saat tagihan mulai menumpuk dan tidak memiliki uang untuk melunasi.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan anak muda yang tidak mampu mengatur uang.

Ekosistem konsumsi digital memang dirancang untuk membuat transaksi terasa semakin mudah.

Barang yang muncul di layar dapat dibeli hanya dengan beberapa sentuhan, sementara pilihan pembayaran ditawarkan dalam bentuk cicilan yang membuat harga besar terlihat seperti nominal kecil.

Di titik tertentu, utang tidak lagi terasa seperti utang.

Ia tampil sebagai fasilitas, kemudahan, bahkan bagian dari gaya hidup.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa outstanding BNPL perbankan mencapai Rp29,3 triliun pada April 2026, tumbuh 37,29 persen secara tahunan, dengan 31,76 juta rekening.

Angka tersebut menunjukkan betapa cepat penggunaan layanan “beli sekarang, bayar nanti” berkembang, meskipun porsinya terhadap total kredit perbankan masih relatif kecil.

Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah media sosial tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual standar kehidupan.

Algoritma terus mempertemukan pengguna dengan gambaran tentang bagaimana seseorang seharunya hidup.

Baca Juga: Isyarat Haldy Sabri Bikin Warganet Menebak, Irish Bella Akhirnya Umumkan Kehamilan Anak Pertama Mereka

Harus tampil menarik, memiliki gawai terbaru, pergi ke tempat tertentu, mengikuti tren fesyen, menikmati kuliner populer, atau memiliki pengalaman yang layak dipamerkan.

Tidak ada yang secara langsung mengatakan bahwa semua itu wajib dimiliki.

Namun, paparan berulang dapat menciptakan kesan bahwa kehidupan orang lain selalu lebih maju.

Dari sinilah FOMO atau fear of missing out bekerja.

Ketika teman membeli, influencer merekomendasikan, dan tren bergerak begitu cepat, keputusan konsumsi dapat berubah dari “saya membutuhkan” menjadi “saya tidak mau ketinggalan”.

Persoalan kemudian bergeser dari kemampuan membeli menjadi kemampuan mempertahankan citra.

Seseorang mungkin sebenarnya belum mampu membeli barang tertentu secara tunai, tetapi cicilan membuatnya tetap bisa memilikinya sekarang.

Gawai baru bisa digunakan hari ini. Sepatu bisa dipakai akhir pekan ini. Tiket perjalanan bisa dipesan sebelum promonya habis. Tagihannya? Dipikirkan nanti.

Pola seperti inilah yang membuat paylater memiliki daya tarik psikologis yang kuat: rasa senang dari barang diterima sekarang, sementara konsekuensi finansial dipindahkan ke masa depan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba 17 Agustus, Ini Makna Filosofi di Balik Permainan Bakiak

Penelitian tentang fenomena paylater pada Gen Z juga menemukan bahwa pengaruh media sosial, budaya digital, dan karakter konsumsi yang mengutamakan kepraktisan menjadi faktor yang berkaitan dengan meningkatnya penggunaan layanan tersebut.

Di sinilah budaya konsumsi mulai memasuki wilayah yang lebih serius.

Ketika satu cicilan terasa kecil, pengguna mungkin merasa masih sanggup membayarnya.

Masalah muncul ketika cicilan kecil datang dari banyak arah: satu untuk gawai, satu untuk pakaian, satu untuk perjalanan, satu untuk kebutuhan harian, dan seterusnya.

Masing-masing terlihat ringan ketika berdiri sendiri, tetapi menjadi beban ketika dikumpulkan.

OJK mencatat saldo BNPL perbankan pada Juli 2025 mencapai Rp24,05 triliun dengan 28,25 juta rekening, tumbuh 33,56 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kemudahan kredit digital perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap kemampuan membayar, bukan sekadar kemampuan mendapatkan limit.

Baca Juga: Tampil Gelap Dengan Gaya, Kenali Beragam Aliran Fashion Dark Aesthetic

Namun, menyebut Gen Z sebagai generasi boros juga terlalu mudah dan berpotensi menutup persoalan yang lebih besar.

Anak muda hidup dalam situasi ekonomi yang tidak selalu sederhana: harga kebutuhan meningkat, persaingan kerja semakin ketat, pendapatan awal karier terbatas, sementara ekspektasi sosial terhadap keberhasilan semakin tinggi.

Di ruang digital, seseorang bahkan dapat membandingkan kehidupannya dengan orang lain tanpa mengetahui kondisi finansial di balik layar. Foto liburan tidak menunjukkan cicilannya. 

Gawai baru tidak memperlihatkan tagihannya. Makan di restoran mahal tidak menjelaskan apakah transaksi tersebut dibayar tunai atau ditunda. Media sosial menampilkan hasil akhir, bukan neraca keuangan.

Masalah terbesar muncul ketika utang mulai digunakan bukan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak atau produktif, tetapi untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu ditanggung.

Pada titik itu, paylater bukan lagi sekadar instrumen pembayaran, melainkan alat untuk menunda kenyataan. Penghasilan bulan depan digunakan untuk membayar keputusan bulan ini.

Gaji berikutnya sudah memiliki daftar tagihan sebelum diterima.

Kebebasan finansial akhirnya berubah menjadi siklus menunggu tanggal gajian.

Ironisnya, semakin seseorang berusaha mempertahankan standar hidup yang terlihat baik di media sosial, semakin kecil ruang yang tersisa untuk membangun tabungan, dana darurat, atau investasi masa depan.

Karena itu, persoalan paylater di kalangan Gen Z seharusnya tidak berhenti pada nasihat klise seperti ”Jangan boros” atau “Belajarlah mengatur keuangan”.

Literasi finansial memang penting, tetapi konsumen juga perlu memahami bagaimana desain platform, promosi digital, algoritma, influencer, dan budaya FOMO bekerja membentuk keputusan konsumsi.

Pada saat yang sama, penggunaan paylater tidak otomatis buruk; layanan kredit dapat memiliki fungsi apabila digunakan secara terukur dan pengguna memahami biaya serta kewajibannya.

Baca Juga: Tampil Gelap Dengan Gaya, Kenali Beragam Aliran Fashion Dark Aesthetic

Yang perlu dikritisi adalah ketika utang konsumtif dinormalisasi sebagai cara mempertahankan citra kehidupan yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansial.

Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesar Gen Z bukan karena mereka terlalu ingin terlihat kaya, melainkan karena media sosial telah membuat kehidupan orang lain terlihat begitu mudah untuk dimiliki.

Di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk membeli lebih banyak dan terlihat lebih berhasil, kemampuan mengatakan: “Saya tidak mampu membelinya sekarang” justru bisa menjadi bentuk kedewasaan finansial yang paling mahal nilainya. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Gen Z anak muda hutang PayLater gaya hidup