Dari Primbon ke Layar Ponsel, Mengapa Weton Tetap Bertahan?

Adi Pras • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 08:13 WIB
Ilustrasi percakapan keluarga saat menentukan tanggal acara. Tradisi penanggalan Jawa masih dikenali sebagian masyarakat, termasuk melalui media digital. (AI Generated)
Ilustrasi percakapan keluarga saat menentukan tanggal acara. Tradisi penanggalan Jawa masih dikenali sebagian masyarakat, termasuk melalui media digital. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Tanggal resepsi hampir diputuskan. Gedung sudah dipesan, keluarga besar mulai menyamakan jadwal, dan daftar tamu terus bertambah. Semuanya tampak beres sampai seseorang mengucapkan satu kalimat.

"Kalau menurut wetonnya bagaimana?"

Pembicaraan yang semula hampir selesai kembali berlanjut. Ada yang mengambil ponsel untuk mencari hitungan weton, ada yang mencoba mengingat hari pasaran dari cerita orang tua, sementara yang lain hanya mendengarkan.

Beberapa menit kemudian, obrolan bergeser lagi. Kali ini tentang menu makanan dan susunan acara.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Permainan, Lomba-Lomba Agustusan Ini Ternyata Punya Cerita di Baliknya

Percakapan seperti itu masih mudah ditemui di banyak keluarga Jawa. Kadang muncul saat menentukan tanggal pernikahan, kadang ketika membahas pindah rumah atau memulai usaha.

Tidak selalu menjadi penentu, tetapi cukup sering menjadi bagian dari obrolan sebelum keputusan diambil.

Yang menarik, kehadiran weton tidak selalu berkaitan dengan soal percaya atau tidak percaya.

Ada yang memang masih menjadikannya sebagai pertimbangan. Ada yang sekadar mengikuti kebiasaan keluarga.

Ada pula yang hanya ingin tahu karena sejak kecil sudah akrab mendengar istilah Legi, Pon, atau Kliwon di rumah. Cara memaknainya boleh jadi berbeda, tetapi tradisinya masih terus dikenali.

Bagi masyarakat Jawa, weton merupakan gabungan antara hari dalam satu pekan dengan lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Baca Juga: Siapa Suami Maliya Finda? Pendaki Usia 51 Tahun Asal Surabaya yang Meninggal di Gunung Piramid Bondowoso, Ditemukan di Dasar Jurang

Sistem penanggalan ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan digunakan dalam berbagai keperluan, mulai dari menandai hari kelahiran hingga menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan waktu penyelenggaraan acara tertentu.

Namun, jika diperhatikan, yang membuat weton tetap bertahan bukan semata-mata karena cara menghitungnya. Ada kebiasaan yang terus hidup di dalam keluarga.

Di sebagian rumah, penanggalan Jawa masih tergantung berdampingan dengan kalender Masehi. Ada pula orang tua yang masih hafal hari pasaran anak-anaknya tanpa perlu melihat catatan.

Baca Juga: Playlist Mood: Ketika Perasaan Dikurasi, Musik Jadi Pelarian Dan Ekspresi Didi

Ketika ada anggota keluarga yang bertanya tentang wetonnya, jawaban itu sering kali muncul begitu saja dari ingatan, seolah menjadi bagian dari cerita yang terus dibawa dari tahun ke tahun.

Sebagian keluarga mungkin masih menyimpan primbon lama di lemari, meski sudah jarang dibuka. Sebagian lainnya tidak lagi memilikinya.

Namun nama-nama hari pasaran tetap bertahan dalam percakapan, berpindah dari cerita orang tua kepada anak-anaknya, lalu muncul kembali ketika ada momen yang dianggap penting.

Tradisi semacam itu tidak diwariskan lewat pelajaran di sekolah. Ia tumbuh melalui obrolan sehari-hari, melalui cerita saat berkumpul, atau ketika beberapa generasi duduk bersama membahas sebuah rencana.

Baca Juga: Sosok Dokter Tamara Jasmine yang Viral Usai Sindir Pasien BPJS di Threads, Ternyata Istri Polisi? Ini Rekam Jejaknya

Karena itulah, banyak orang mengenal weton jauh sebelum mereka memahami cara menghitungnya.

Perubahan zaman tidak memutus kebiasaan tersebut. Yang berubah justru cara orang mencari jawabannya.

Kalau dahulu seseorang harus membuka primbon atau bertanya kepada orang yang memahami penanggalan Jawa, sekarang cukup mengetik tanggal lahir di internet.

Dalam hitungan detik, hasil perhitungan weton langsung muncul lengkap dengan berbagai penjelasan yang menyertainya.

Media sosial ikut membawa tradisi ini ke ruang yang lebih luas. Video tentang weton, penanggalan Jawa, atau kecocokan pasangan kerap muncul di linimasa.

Baca Juga: Chelsea vs AC Milan di SUGBK 8 Agustus 2026 Tayang Dimana? Pemerintah Beri Dukungan Penuh, Live di TV Ini

Tidak sedikit pengguna yang ikut menuliskan wetonnya di kolom komentar, lalu saling berbagi pengalaman atau sekadar bercanda.

Menariknya, media sosial tidak serta-merta membuat orang percaya pada weton. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia membuat lebih banyak orang mengenal istilah yang sebelumnya mungkin hanya mereka dengar sepintas di rumah.

Rasa penasaran yang dahulu muncul dari cerita orang tua, kini bisa berawal dari video berdurasi kurang dari satu menit.

Setelah itu, percakapan sering berlanjut di meja makan atau di grup keluarga. Dari ruang digital, tradisi kembali pulang ke ruang-ruang yang lebih akrab.

Baca Juga: Di Balik Rasa Asam Manisnya, Ternyata Ini Fakta Menarik Kiamboy

Di sisi lain, cara masyarakat memaknai weton juga semakin beragam.

Ada keluarga yang masih menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan ketika memilih tanggal pernikahan atau memulai usaha. Ada pula yang tidak lagi menggunakannya sebagai dasar mengambil keputusan, tetapi tetap menganggapnya sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dihormati.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pembicaraan tentang weton tidak sesederhana membagi masyarakat menjadi kelompok yang percaya dan tidak percaya. Banyak orang justru berada di antaranya.

Mereka tidak merasa harus mengikuti seluruh perhitungannya, tetapi juga tidak melihat alasan untuk memutus hubungan dengan tradisi yang telah lama hidup di keluarganya.

Barangkali, di situlah letak daya tahan weton.

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, orang tetap mencari sesuatu yang membuat mereka merasa dekat dengan asal-usulnya. Bagi sebagian orang, keterhubungan itu hadir melalui bahasa daerah yang masih dipakai di rumah.

Baca Juga: Kebiasaan yang Kelihatan Sepele tapi Bikin Keuangan Gen Z Berantakan

Bagi yang lain melalui masakan keluarga saat hari raya, cerita masa kecil dari kakek dan nenek, atau kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang tanpa disadari. Weton menjadi salah satu bagian dari rangkaian itu.

Mungkin, setelah tanggal resepsi akhirnya dipilih, keluarga itu akan kembali membahas urusan lain yang tak kalah penting. Memesan undangan, memilih menu hidangan, atau menyusun tempat duduk tamu. Percakapan tentang weton pun selesai begitu saja.

Namun dari obrolan singkat itulah terlihat bahwa sebuah tradisi belum benar-benar pergi. Ia tidak selalu bertahan karena dipercaya oleh semua orang, melainkan karena terus hidup dalam cerita, kebiasaan, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di zaman yang serba digital, cara menyampaikannya boleh berubah. Akan tetapi, tradisinya masih menemukan jalan untuk tetap dikenali. (Rahma Azra Calista) 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
Penanggalan Jawa budaya weton Tradisi Jawa era digital