Playlist Mood: Ketika Perasaan Dikurasi, Musik Jadi Pelarian Dan Ekspresi Didi

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi memilih atau membuat playlist. (AI Generated)
Ilustrasi memilih atau membuat playlist musik sesuai genre yang kita sukai. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah banjir konten digital yang bergerak tanpa henti, muncul satu kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.

Generasi muda kini tidak sekadar mendengarkan musik, melainkan mengelompokkannya ke dalam playlist berdasarkan suasana hati.

Muncul playlist berjudul "galau", "hujan sore", "naik motor malam", hingga "kerja sambil pura-pura sibuk".

Sekilas, tren ini terlihat seperti cara praktis mengatur lagu.

Namun, jika diamati lebih jauh, playlist tersebut adalah potret bagaimana manusia modern mengelola emosi di tengah kehidupan yang serba cepat.

Baca Juga: Karier Dokter Elda Putri Rahardini di Ujung Tanduk, Dinonaktifkan RSUP Dr Sardjito Usai Kasus Komentar Pedas Almarhum Yurizal

Dulu, orang memilih lagu karena menyukai penyanyinya atau sedang mengikuti tangga lagu. Kini polanya berubah.

Musik dipilih bukan lagi berdasarkan popularitas, melainkan berdasarkan kondisi batin.

Saat hujan turun, seseorang membuka playlist "hujan". Ketika patah hati, playlist "galau" menjadi tujuan utama.

Bahkan perjalanan malam yang sunyi terasa belum lengkap tanpa playlist "naik motor malam".

Musik tidak lagi sekadar terdengar di telinga, tetapi menjadi latar yang membingkai pengalaman hidup.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara generasi digital memahami dirinya sendiri.

Di satu sisi, membuat playlist berdasarkan mood merupakan bentuk kesadaran emosional.

Seseorang mengenali apa yang sedang dirasakan, lalu mencari lagu yang mampu menemani perasaan tersebut.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang layak dipikirkan: apakah kita benar-benar sedang menikmati musik, atau justru sedang membiarkan algoritma menentukan bagaimana seharusnya kita merasa sesuatu hal.

Baca Juga: Balasan Komentarnya Terlalu Baku, Apris Devita Sampai Bikin Warganet Bercanda: "Kayaknya AI"

Platform musik digital secara perlahan membentuk kebiasaan baru. Rekomendasi lagu berdasarkan aktivitas, cuaca, hingga waktu tertentu membuat pengguna semakin bergantung pada sistem.

Tanpa disadari, emosi pun ikut dikotakkan dalam kategori-kategori yang sudah tersedia. Sedih berarti playlist galau. Produktif berarti playlist fokus.

Malam berarti lagu-lagu lo-fi. Padahal, perasaan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar label yang disusun dalam daftar putar.

Yang menarik justru muncul dari kreativitas para pengguna.

Judul playlist seperti "kerja sambil pura-pura sibuk", "deadline besok tapi santai dulu”, atau "lagi capek jadi manusia" memperlihatkan bagaimana humor menjadi cara untuk menghadapi tekanan hidup.

Di balik kalimat yang mengundang tawa, tersimpan realitas tentang tuntutan pekerjaan, beban akademik, hingga kelelahan mental yang semakin akrab dengan kehidupan generasi muda.

Playlist akhirnya menjadi ruang kecil tempat seseorang bisa jujur tanpa harus menjelaskan apa pun.

Baca Juga: Felicia Angelica Juara The Icon Indonesia 2026, Vedra Victoria Siap Tancap Gas di Industri Musik

Di media sosial, playlist bahkan telah berubah menjadi bentuk komunikasi baru.

Banyak orang membagikan tautan playlist sebagai pengganti curahan hati.

Lagu-lagu dipilih dengan cermat karena dianggap mampu menyampaikan sesuatu yang sulit diucapkan secara langsung.

Dalam dunia yang dipenuhi unggahan singkat dan komunikasi serba cepat, musik justru menawarkan bahasa yang lebih tenang.

Satu lagu sering kali mampu mengatakan lebih banyak daripada serangkaian kalimat panjang.

Pada akhirnya, tren membuat playlist sesuai mood bukan hanya soal selera musik.

Ia mencerminkan wajah generasi digital yang terus mencari ruang untuk memahami dirinya sendiri di tengah kebisingan informasi.

Playlist menjadi arsip perasaan, tempat menyimpan kenangan, sekaligus cara bertahan dari rutinitas yang melelahkan.

Namun, di balik semua kemudahan yang ditawarkan teknologi, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: apakah kita masih memilih lagu sesuai hati, atau hati kita yang perlahan diarahkan oleh algoritma? (siti putri lestari) 

Editor : Ferry Ardi Susanto
GenZ mood Musik digital tren musik Playlist