Silent Quitting: Ketika Pulang Kerja Tepat Waktu Dianggap Kurang Berdedikasi

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi fenomena Silent Quitting atau Bekerja secukupnya. (AI Generated)
Ilustrasi seorang cewek sedang bekerja di perkantoran. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Sering dijumpai di lingkungan kerja perkantoran, ada anggapan pegawai terbaik adalah yang datang paling pagi, pulang paling malam, dan selalu siap menjawab pesan pekerjaan kapan pun dibutuhkan.

Lembur dipandang sebagai bentuk loyalitas. Sedangkan bekerja melebihi deskripsi tugas dianggap sebagai bukti dedikasi.

Namun, cara pandang tersebut mulai dipertanyakan.

Ditandai munculnya sebuah fenomena yang ramai diperbincangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia, yaitu silent quitting.

Baca Juga: Masih Terawat hingga Sekarang, Ini 5 Benda Asli Saksi Proklamasi 17 Agustus 1945

Meski namanya mengandung kata quitting atau berhenti.

Para pekerja sebenarnya tidak mengundurkan diri.

Mereka tetap bekerja, tetapi memilih menjalankan tugas sesuai kewajiban tanpa memberikan tenaga dan waktu lebih demi memenuhi ekspektasi yang tidak tercantum dalam kontrak kerja.

Fenomena ini memicu perdebatan. Sebagian kalangan menilai Silent quitting sebagai tanda menurunnya etos kerja generasi muda.

Pekerja dianggap kurang memiliki ambisi dan enggan berkontribusi lebih bagi perusahaan.

Namun, di sisi lain, banyak yang melihatnya sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang selama bertahun-tahun menganggap lembur, tekanan tinggi, dan pengorbanan kehidupan pribadi sebagai sesuatu yang wajar.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah pekerja kehilangan semangat, melainkan mengapa mereka merasa perlu menarik batas yang lebih tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Perubahan ini tidak muncul begitu saja. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu titik balik yang mengubah cara banyak orang memandang pekerjaan.

Ketika bekerja dari rumah membuat batas antara jam kerja dan waktu istirahat semakin kabur, banyak pekerja mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental.

Mereka merasakan kelelahan berkepanjangan, tekanan target yang terus meningkat, hingga tuntutan untuk selalu tersedia secara daring.

Pengalaman tersebut membuat sebagian orang memilih bekerja secara profesional sesuai tanggung jawab, tanpa lagi merasa harus selalu memberikan usaha di luar kapasitas demi memperoleh pengakuan.

Baca Juga: Balasan Komentarnya Terlalu Baku, Apris Devita Sampai Bikin Warganet Bercanda: "Kayaknya AI"

Di sisi lain, budaya kerja modern juga turut melahirkan fenomena ini.

Tidak sedikit pekerja yang merasa kontribusi tambahan mereka tidak diikuti dengan penghargaan yang sepadan.

Lembur dianggap biasa, sementara kenaikan gaji, promosi, atau apresiasi justru berjalan lambat.

Akibatnya, muncul rasa bahwa bekerja lebih keras tidak selalu menghasilkan kesejahteraan yang lebih baik. 

Dalam kondisi seperti itu, menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak dipandang sebagai pilihan yang lebih rasional daripada terus mengorbankan waktu dan energi tanpa kepastian imbalan.

Meski demikian, silent quitting bukan tanpa konsekuensi.

Dari sudut pandang perusahaan, fenomena ini dapat menurunkan inovasi, mengurangi kolaborasi tim, dan memperlambat penyelesaian proyek yang membutuhkan inisiatif lebih.

Lingkungan kerja berpotensi berubah menjadi sekadar tempat menjalankan rutinitas tanpa semangat untuk berkembang.

Sementara itu, bagi pekerja sendiri, jika dilakukan tanpa tujuan yang jelas, kebiasaan ini dapat membuat mereka kehilangan kesempatan belajar, memperluas keterampilan, atau membangun jenjang karier yang lebih baik.

Batas antara menjaga keseimbangan hidup dan kehilangan motivasi terkadang menjadi sangat tipis.

Fenomena silent quitting pada akhirnya mencerminkan adanya persoalan yang lebih besar daripada sekadar perubahan sikap pekerja.

Ia menunjukkan bahwa hubungan antara perusahaan dan karyawan sedang mengalami pergeseran.

Generasi pekerja saat ini tidak lagi hanya mengejar gaji, tetapi juga mencari lingkungan kerja yang sehat, penghargaan yang adil, kesempatan berkembang, dan keseimbangan hidup.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, loyalitas tidak lagi diberikan secara otomatis, melainkan harus dibangun melalui kepercayaan dan rasa saling menghargai.

Baca Juga: Felicia Angelica Juara The Icon Indonesia 2026, Vedra Victoria Siap Tancap Gas di Industri Musik

Pada akhirnya, Silent quitting bukanlah kisah tentang pekerja yang malas ataupun perusahaan yang selalu salah.

Fenomena ini menjadi cermin bahwa dunia kerja sedang berubah.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan kualitas hidup, ukuran profesionalisme tidak lagi dapat diukur dari berapa lama seseorang duduk di depan komputer atau seberapa sering ia lembur.

Mungkin sudah saatnya dunia kerja meninggalkan budaya yang memuja kesibukan semu, lalu beralih pada sistem yang menghargai hasil kerja, kesejahteraan karyawan, dan hubungan yang lebih manusiawi.

Sebab, pekerja yang dihargai bukan hanya akan bekerja lebih baik, tetapi juga akan memilih untuk bertahan dan tumbuh bersama perusahaan. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
silent quitting dunia kerja work life balance produktivitas kesehatan mental