SOLOBALAPAN.COM - Pukul 05.00 pagi, alarm berbunyi. Kamera dinyalakan.
Secangkir kopi diletakkan di samping laptop, tempat tidur dirapikan dengan rapi, lalu musik lo-fi mengiringi potongan gambar yang terlihat begitu tenang.
Beberapa menit kemudian, video bertajuk Day in My Life sudah memenuhi beranda media sosial.
Rutinitas sederhana berubah menjadi tontonan yang memikat jutaan pasang mata.
Baca Juga: Lusyana Jelita Kecelakaan Di Wonogiri Sepulang Dari Kendal, Akui Masih Trauma
Namun, di balik visual yang estetik dan alur yang tampak sempurna, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah kita sedang menyaksikan kehidupan apa adanya, atau sebuah realitas yang telah dikurasi sedemikian rupa?
Dalam beberapa tahun terakhir, konten Day in My Life berkembang menjadi salah satu format paling populer di berbagai platform media sosial.
Kreator membagikan aktivitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur, bekerja, berolahraga, hingga menikmati waktu bersama keluarga atau teman.
Bagi banyak penonton, konten semacam ini terasa dekat dan menghibur.
Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk membangun rutinitas yang lebih sehat, mengatur waktu, atau memotivasi diri agar lebih produktif.
Kehidupan orang lain seolah menjadi referensi baru tentang bagaimana menjalani hari dengan lebih baik.
Namun, tidak semua yang terlihat di layar mencerminkan kenyataan secara utuh.
Sebuah video berdurasi dua menit bisa saja merupakan hasil rekaman selama berjam-jam, melalui proses penyuntingan yang panjang dan pemilihan momen terbaik.
Konflik, rasa lelah, kegagalan, hingga kekacauan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sering kali tidak ikut ditampilkan.
Akibatnya, penonton hanya melihat versi kehidupan yang telah dipoles.
Baca Juga: Ketika Jam Tangan Lebih Mengenal Tubuh Kita: Teknologi Yang Mengubah Cara Berolahraga
Tanpa disadari, standar tentang kehidupan yang Ideal perlahan terbentuk dari potongan-potongan visual yang sebenarnya tidak mewakili keseluruhan cerita.
Fenomena ini juga mendapat perhatian dalam kajian psikologi melalui konsep social comparison atau perbandingan sosial.
Teori tersebut menjelaskan bahwa seseorang cenderung menilai diri dengan membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Di era media sosial, kecenderungan ini semakin mudah terjadi karena pengguna terus-menerus terpapar unggahan yang menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang.
Akibatnya, tidak sedikit orang merasa hidupnya kurang menarik, kurang produktif, atau bahkan kurang berhasil, meskipun apa yang mereka lihat hanyalah sebagian kecil dari realitas.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang berlebihan di media sosial dapat berkaitan dengan menurunnya kepuasan diri, meningkatnya kecemasan, hingga munculnya tekanan psikologis.
Di sisi lain, tekanan tidak hanya dirasakan oleh penonton, tetapi juga oleh para kreator.
Demi mempertahankan perhatian audiens, mereka dituntut menghadirkan kehidupan yang selalu menarik.
Aktivitas biasa pun sering kali harus dikemas agar terlihat lebih estetik, lebih produktif, atau lebih inspiratif.
Batas antara berbagi pengalaman dan membangun citra diri menjadi semakin tipis.
Ketika jumlah penonton, likes, dan komentar berubah menjadi ukuran keberhasilan, kehidupan sehari-hari berisiko bergeser dari sesuatu yang dijalani menjadi sesuatu yang dipertontonkan.
Baca Juga: Buntut 108 Siswa Keracunan MBG di Solo, DPRD Desak Evaluasi Total SPPG dan Pengetatan SOP
Meski demikian, tidak adil jika seluruh konten Day in My Life dianggap sebagai bentuk pencitraan.
Banyak kreator justru memanfaatkan format ini untuk berbagi pengalaman yang jujur, mulai dari perjuangan menghadapi tekanan pekerjaan, proses membangun kebiasaan sehat, hingga perjalanan bangkit dari kegagalan.
Konten seperti ini menghadirkan perspektif bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus.
Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat sebuah cerita terasa lebih dekat dan lebih manusiawi.
Di tengah banjir konten yang serba sempurna, kejujuran menjadi nilai yang semakin dihargai.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah konten Day in My Life merupakan inspirasi atau pencitraan.
Jawabannya bisa keduanya, tergantung pada siapa yang membuat dan bagaimana penonton memaknainya.
Media sosial pada dasarnya hanyalah jendela kecil yang memperlihatkan sebagian cerita, bukan keseluruhan kehidupan.
Karena itu, setiap kali melihat rutinitas yang tampak sempurna di layar, kita perlu mengingat satu hal: kehidupan nyata tidak pernah disunting sehalus video berdurasi satu menit.
Inspirasi memang penting, tetapi membandingkan hidup dengan potongan realitas orang lain bukanlah jalan menuju kebahagiaan. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto