SOLOBALAPAN.COM - Tak ada lagi suara receh beradu di dalam dompet.
Tak ada lagi kebiasaan menghitung lembar demi lembar uang sebelum membayar.
Kini, cukup membuka ponsel, memindai kode QRIS, lalu dalam hitungan detik muncul notifikasi bertuliskan Pembayaran Berhasil.
Cepat, praktis, dan nyaris tanpa hambatan.
Baca Juga: Lusyana Jelita Kecelakaan Di Wonogiri Sepulang Dari Kendal, Akui Masih Trauma
Namun, di balik kenyamanan itu, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: apakah masyarakat benar-benar menjadi lebih cerdas dalam mengelola keuangan, atau justru semakin mudah menghabiskan uang tanpa menyadarinya?
Dalam beberapa tahun terakhir, gaya hidup Cashless berkembang pesat di Indonesia.
Kehadiran QRIS, dompet digital, hingga layanan pembayaran nirsentuh membuat transaksi menjadi lebih sederhana.
Mulai dari membeli kopi, membayar parkir, hingga berbelanja di pasar tradisional, semuanya kini bisa dilakukan tanpa uang tunai.
Transformasi ini membawa banyak manfaat. Transaksi menjadi lebih cepat, risiko membawa uang dalam jumlah besar berkurang, dan pencatatan pembayaran menjadi lebih rapi.
Tidak mengherankan jika masyarakat, terutama generasi muda, semakin akrab dengan dompet digital sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Namun, kemudahan sering kali memiliki sisi lain yang luput disadari.
Ketika uang berubah menjadi angka di layar, sensasi "kehilangan uang" menjadi semakin samar.
Berbeda dengan pembayaran tunai yang membuat seseorang melihat langsung lembar uang berpindah tangan, transaksi digital berlangsung begitu cepat hingga pengeluaran terasa tidak nyata. Akibatnya, keputusan membeli sesuatu menjadi lebih impulsif.
Promo, cashback, gratis ongkir, hingga diskon kilat semakin memperkuat dorongan untuk berbelanja, bahkan ketika kebutuhan tersebut sebenarnya tidak mendesak.
Pengamat ekonomi digital Bhima Yudhistira menilai, sistem pembayaran digital memang meningkatkan efisiensi transaksi.
Tapi di saat yang sama, mendorong perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang baik.
Menurutnya, kemudahan bertransaksi membuat proses berpikir sebelum membeli menjadi lebih singkat.
Ketika berbagai promo terus bermunculan di aplikasi, masyarakat berpotensi membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena merasa sayang melewatkan penawaran yang tampak menguntungkan.
Fenomena tersebut paling mudah terlihat pada kebiasaan sehari-hari.
Secangkir kopi seharga puluhan ribu rupiah terasa ringan karena hanya dibayar dengan satu kali pindai.
Langganan aplikasi hiburan diperpanjang secara otomatis tanpa banyak dipikirkan. Makanan dipesan karena ada potongan harga, bukan karena lapar.
Nominal pengeluaran mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri, tetapi ketika dikumpulkan dalam satu bulan, jumlahnya sering kali jauh lebih besar dari perkiraan.
Teknologi yang awalnya dirancang untuk mempermudah transaksi akhirnya juga mempermudah seseorang mengeluarkan uang.
Baca Juga: Balasan Komentarnya Terlalu Baku, Apris Devita Sampai Bikin Warganet Bercanda: "Kayaknya AI"
Meski demikian, menyalahkan dompet digital sepenuhnya tentu bukan jawaban.
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Yang menentukan apakah alat tersebut membawa manfaat atau justru masalah adalah cara penggunanya memanfaatkan.
Dompet digital justru dapat menjadi sarana mengelola keuangan apabila digunakan dengan bijak, misalnya melalui fitur riwayat transaksi, pembatasan anggaran, hingga pengingat pengeluaran.
Sayangnya, fitur-fitur tersebut sering kali kalah menarik dibandingkan notifikasi promo yang terus bermunculan setiap hari.
Baca Juga: Pencairan PKH dan BPNT Dikebut Bulan Ini, Kemensos Beberkan Alasan Jutaan Penerima Dialihkan
Pada akhirnya, perdebatan mengenai gaya hidup cashless bukanlah tentang memilih antara uang tunai atau dompet digital.
Persoalan utamanya terletak pada perubahan cara manusia memaknai uang. Semakin mudah proses membayar, semakin besar pula tantangan untuk tetap sadar terhadap setiap rupiah yang dikeluarkan.
Di era ketika satu kali pindai mampu menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik, mungkin yang paling dibutuhkan bukan aplikasi pembayaran yang lebih cepat, melainkan kebiasaan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya tergoda karena proses membayarnya terasa terlalu mudah? (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto