Perencanaan Keuangan Matang Dan Komunikasi Terbuka, Kunci Sandwich Generation Jaga Keharmonisan Keluarga

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 17:52 WIB
Ilustrasi gambar keluarga (foto by pinterest)
Ilustrasi gambar keluarga (foto by pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Istilah sandwich generation menggambarkan kondisi yang dialami sebagian masyarakat, khususnya di rentang usia produktif -antara 30-40 tahun. 

Istilah ini merujuk seseorang yang memiliki tanggung jawab terhadap dua generasi, yakni merawat atau membantu memenuhi kebutuhan orang tua sekaligus anak.

Fenomena ini memiliki perumpamaan sebuah roti lapis atau sandwich yang berada di tengah.

Sehingga mereka seolah "terjepit" di antara berbagai tuntutan keluarga.

Baca Juga: Sri Mulyani Punya Jabatan Mentereng Baru di Bank Dunia, Dipercaya Pimpin Penggalangan Dana IDA22 hingga 2031

Tanggung jawab tersebut tidak hanya meliputi kebutuhan finansial, tetapi juga mencakup perhatian, waktu, hingga dukungan emosional yang harus diberikan kepada kedua generasi tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang termasuk dalam sandwich generation umumnya harus membagi penghasilannya untuk memenuhi biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, hingga terkadang harus membantu biaya hidup atau pengobatan orang tua.

Kondisi tersebut membuat mereka dihadapkan pada tantangan dalam mengatur keuangan sekaligus menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.

Baca Juga: Tak Sekadar Hiburan, Film Tokoh Nasional Ajarkan Arti Penting Sejarah dan Jiwa Nasionalisme

Fenomena sandwich generation dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Meningkatnya biaya hidup dan pendidikan, usia harapan hidup yang semakin panjang, serta belum meratanya kesiapan dana pensiun pada sebagian orang tua menjadi beberapa penyebab yang mendorong munculnya kondisi ini. 

Di Indonesia, budaya kekeluargaan yang kuat juga membuat banyak anak merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu memenuhi kebutuhan orang tuanya ketika telah memiliki penghasilan.

Meski kerap dikaitkan dengan tekanan finansial dan beban psikologis, menjadi bagian dari sandwich generation bukan berarti seseorang tidak dapat merencanakan masa depannya. 

Perencanaan keuangan yang matang dan komunikasi terbuka dengan anggota keluarga dalam pembagian tanggung jawab di antara saudara dapat membantu mengurangi beban yang dihadapi. 

Oleh karena itu, kebutuhan keluarga tetap dapat terpenuhi tanpa mengabaikan kesiapan finansial untuk masa depan.

Seiring semakin populernya istilah ini, pemahaman mengenai sandwich generation diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini.

Langkah tersebut dinilai penting agar generasi berikutnya memiliki kesiapan finansial yang lebih baik dan tidak mengalami siklus beban yang sama di kemudian hari. (ramadhan pujo kusumo)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Sandwich Generation perencanaan keuangan komunikasi terbuka keluarga