In Another Life, What If, Hingga If Only: Mengapa Kita Suka Bayangkan Hal Yang Mustahil

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:02 WIB
ilustrasi orang yang selalu mengharapkan kemungkinan yang sulit terjadi. (AI generated)
Ilustrasi orang yang selalu mengharapkan kemungkinan yang sulit terjadi. (AI generated)

 SOLOBALAPAN.COM - Tidak semua kalimat yang viral di media sosial lahir sebagai tren semata.

Ada beberapa frasa yang justru bertahan karena berhasil mewakili perasaan banyak orang.

Salah satunya adalah "in another life".

Belakangan, kalimat ini semakin sering muncul di TikTok, Instagram, hingga X sebagai penutup cerita yang tidak memiliki akhir sesuai harapan.

Baca Juga: Sudah Tarik Tiket Masuk tapi Pengelola Belum Ditetapkan, Siapa Penampung Retribusi Tahir Solo Museum?

Namun, "in another life" bukan satu-satunya. Ada pula "what if", "if only", "in another universe", hingga "maybe in a parallel universe".

Frasa-frasa tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni membayangkan kemungkinan yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Kalimat seperti, "What if waktu itu aku mengambil kesempatan itu?", "If only aku lebih berani," atau "Maybe in another universe semuanya akan berbeda," kini tidak lagi terdengar asing.

Baca Juga: Kades Tersangka Penambangan Ilegal di Merapi Masih Aktif, Pemkab Boyolali Tunggu Konfirmasi Bareskrim

Menariknya, frasa-frasa tersebut tidak selalu berkaitan dengan kisah cinta.

Banyak orang menggunakannya untuk membahas keluarga, pendidikan, pekerjaan, persahabatan, bahkan mimpi yang belum sempat diwujudkan.

Di media sosial, seseorang bisa menulis, "In another life, mungkin aku tetap mengejar cita-cita masa kecilku." Ada pula yang berkata, "What if aku tidak pindah kota?" atau "If only aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua."

Meski konteksnya berbeda, semuanya berangkat dari pertanyaan yang sama: bagaimana jika hidup berjalan dengan pilihan yang berbeda?

Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini dikenal sebagai counterfactual thinking, yaitu proses mental ketika seseorang membayangkan alternatif dari kejadian yang sudah terjadi.

Menurut penelitian psikolog Neal J. Roese, pemikiran semacam ini merupakan bagian normal dari cara manusia mengevaluasi pengalaman.

Seseorang membayangkan "seandainya" bukan karena ingin hidup di masa lalu, melainkan karena otak secara alami mencoba memahami keputusan, belajar dari kesalahan, atau memberi makna pada pengalaman yang telah berlalu.

Menariknya, counterfactual thinking tidak selalu berdampak negatif.

Membayangkan kemungkinan lain memang bisa memunculkan rasa penyesalan, tetapi juga dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan. Dalam banyak kasus, pikiran "what if" justru menjadi cara manusia belajar dari pengalaman.

Baca Juga: Resmi! Pol Espargaro Gantikan Maverick Vinales di MotoGP Inggris 2026

Di sisi lain, media sosial membuat frasa-frasa tersebut berkembang menjadi bahasa yang lebih puitis.

Alih-alih menuliskan penjelasan panjang, seseorang cukup menulis "in another life", dan banyak orang langsung memahami emosi di baliknya. Frasa itu menjadi semacam "kode" yang mewakili harapan, kehilangan, rasa syukur, atau penerimaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa di internet terus berkembang.

Dahulu orang mungkin akan mengatakan, "Seandainya saja..." atau "Andai waktu bisa diulang." Kini, ungkapan itu bergeser menjadi "what if", "if only", atau "in another universe."

Meski menggunakan bahasa Inggris, makna yang dibawanya tetap sama: keinginan untuk membayangkan jalan hidup yang berbeda.

Pada akhirnya, frasa-frasa tersebut bukanlah tentang percaya atau tidak percaya pada semesta paralel.

Lebih dari itu, kalimat-kalimat tersebut menjadi cara baru untuk mengekspresikan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. 

Sebab hampir setiap orang pernah memiliki satu pertanyaan yang tak akan pernah benar-benar terjawab: bagaimana jika hidup mengambil arah yang berbeda?

Mungkin memang tidak ada kesempatan untuk mengetahui jawabannya.

Namun, melalui kalimat sederhana seperti "in another life", "what if", atau "if only", banyak orang menemukan cara untuk menerima bahwa tidak semua kemungkinan ditakdirkan menjadi kenyataan. (rastri rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
in another life what if counterfactual thinking harapan