Party Pooper, Istilah untuk Orang yang Selalu Punya Komentar di Tengah Momen Bahagia

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 08:39 WIB
Ilustrasi party pooper. (AI generated)
Ilustrasi party pooper. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Seseorang mengunggah kabar kelulusannya. Kolom komentar dipenuhi ucapan selamat, sampai akhirnya muncul satu komentar, "Nanti juga susah cari kerja."

Di unggahan lain, seseorang membagikan momen bahagia menikah. Lagi-lagi, ada komentar, "Baru menikah memang romantis, lihat waktu sudah lama"

Ada pula yang membagikan momen dimana hidupnya selalu bahagia. Bukannya ikut berbahagia, justru muncul komentar seperti, "Bahagia terus, kira-kira ujiannya apa ya?"

Fenomena seperti ini semakin sering ditemui di media sosial. Di tengah banyaknya orang yang sedang berbagi kebahagiaan, hampir selalu ada satu atau dua komentar yang mengalihkan fokus pada sisi negatif. Menariknya, perilaku tersebut memiliki sebutan tersendiri dalam bahasa Inggris, yaitu party pooper.

Baca Juga: On This Day: 10 Kejadian Penting Di Tanggal 6 Agustus, Ada Tragedi Hiroshima Dan Lahirnya World Wide Web

Secara harfiah, party pooper berarti orang yang merusak suasana pesta. Namun dalam penggunaan sehari-hari, istilah ini merujuk pada seseorang yang cenderung mengurangi kesenangan orang lain dengan komentar pesimistis, sinis, atau terlalu mengingatkan pada hal-hal buruk, terutama ketika orang lain sedang menikmati sebuah momen.

Istilah ini kini semakin sering digunakan di media sosial. Tidak harus dalam pesta atau acara tertentu, tetapi dalam hampir semua momen bahagia. Ketika seseorang lulus kuliah, membeli kendaraan pertama, menikah, berlibur, bahkan sekadar membagikan makanan favoritnya, selalu ada komentar yang seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dirayakan terlalu lama.

Baca Juga: Gen Z Lebih Pilih Curhat ke ChatGPT Dibanding Manusia, Ini Alasan di Balik Fenomena AI Jadi Teman Setia

Padahal, tidak semua party pooper bermaksud jahat atau iri. Dalam psikologi, terdapat konsep negativity bias, yaitu kecenderungan otak manusia untuk lebih mudah memperhatikan, mengingat, dan merespons informasi negatif dibandingkan informasi positif.

Fenomena ini telah banyak diteliti, salah satunya oleh psikolog Roy F. Baumeister bersama rekan-rekannya melalui artikel ilmiah Bad Is Stronger Than Good. Mereka menjelaskan bahwa pengalaman negatif umumnya memberikan dampak psikologis yang lebih kuat dibandingkan pengalaman positif.

Baca Juga: Mengenang Perjuangan Pahlawan: Ini 5 Lagu Nasional Populer di Bulan Agustus Beserta Penciptanya

Akibatnya, ketika melihat seseorang sedang berbahagia, sebagian orang justru lebih cepat memikirkan kemungkinan terburuk daripada ikut menikmati kabar baik tersebut. Mereka merasa sedang bersikap realistis atau sekadar mengingatkan, meski komentar yang disampaikan bisa mengurangi kebahagiaan orang lain.

Selain itu, ada pula konsep projection dalam psikologi. Seseorang yang pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan terkadang tanpa sadar memproyeksikan pengalamannya kepada orang lain. Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kesulitan setelah lulus kuliah mungkin akan lebih mudah berkomentar, "Nanti juga susah cari kerja."

Orang yang pernah mengalami masalah dalam pernikahan bisa saja spontan berkata, "Tunggu saja setelah menikah." Komentar tersebut sering kali lebih mencerminkan pengalaman pribadi dibandingkan kondisi orang yang sedang berbagi cerita.

Di sisi lain, media sosial memang membuat siapa saja bisa berkomentar dalam hitungan detik. Tidak semua orang berhenti sejenak untuk mempertimbangkan apakah komentarnya benar-benar dibutuhkan pada saat itu. Akibatnya, ruang yang seharusnya dipenuhi ucapan selamat justru berubah menjadi tempat untuk mengingatkan berbagai kemungkinan buruk.

Bukan berarti setiap peringatan atau nasihat adalah sesuatu yang salah. Dalam situasi tertentu, mengingatkan orang lain tentu bisa menjadi bentuk kepedulian. Namun, waktu dan cara penyampaiannya juga memiliki peran penting. Ada perbedaan antara memberi masukan yang membangun dengan mengurangi kebahagiaan seseorang tepat ketika mereka sedang merayakan pencapaian.

Pada akhirnya, media sosial bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga ruang berbagi emosi. Ketika seseorang membagikan kabar baik, sering kali yang mereka harapkan bukanlah analisis mengenai kemungkinan terburuk, melainkan teman yang ikut berkata, "Selamat, kamu berhasil."

Mungkin itulah mengapa istilah party pooper semakin sering digunakan. Bukan untuk membungkam kritik atau nasihat, melainkan sebagai pengingat bahwa terkadang, ikut berbahagia untuk orang lain adalah respons yang jauh lebih berarti daripada menjadi orang pertama yang mengingatkan kemungkinan terburuk.

 

Editor : Kabun Triyatno
party pooper momen bahagia komentar negatif media sosial