Tradisi yang Dulu Menjadi Bagian Kehidupan Masyarakat, Kini Tak Lagi Seramai Dulu

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Kegiatan ronda malam yang dahulu sering dilakukan oleh bapak-bapak. (AI generated)
Kegiatan ronda malam yang dahulu sering dilakukan oleh bapak-bapak. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi dan budaya gotong royong. Tidak hanya dalam upacara adat, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari yang mempererat hubungan antarmasyarakat. Namun, seiring perkembangan teknologi, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup, sejumlah tradisi yang dulu terasa begitu akrab kini mulai jarang ditemui, terutama di kawasan perkotaan.

Bukan berarti tradisi-tradisi ini benar-benar hilang. Sebagian masih terus dijaga di berbagai daerah. Namun, banyak di antaranya mulai mengalami perubahan, baik dari cara pelaksanaan maupun intensitasnya. Berikut beberapa tradisi yang perlahan mulai memudar.

Baca Juga: Kenapa Setiap HUT RI Selalu Ada Balap Karung? Ini Sejarah yang Jarang Diketahui

1. Sambatan atau Gotong Royong Membangun Rumah

Di sejumlah daerah di Jawa, membangun rumah dulu dilakukan bersama-sama oleh warga tanpa mengharapkan upah. Kini, tradisi sambatan mulai berkurang karena banyak keluarga memilih menggunakan jasa tukang atau kontraktor.

2. Rewang Saat Hajatan

Sebelum katering menjadi hal yang umum, tetangga biasanya ikut membantu memasak, menyiapkan makanan, hingga mencuci peralatan saat ada hajatan. Tradisi ini masih ada di beberapa daerah, tetapi mulai berkurang di wilayah perkotaan.

Baca Juga: 17 Agustus Selalu Meriah, Tetapi Makna Merdeka Tak Pernah Selesai

3. Ronda Malam

Ronda bukan hanya soal menjaga keamanan, tetapi juga menjadi tempat warga berkumpul dan saling mengenal. Kini, keberadaan CCTV dan sistem keamanan modern membuat tradisi ini semakin jarang dilakukan.

4. Kerja Bakti Lingkungan

Membersihkan selokan, memotong rumput, atau memperbaiki jalan kampung dulu dilakukan bersama secara rutin. Sekarang, kegiatan ini mulai berkurang karena kesibukan warga dan hadirnya petugas kebersihan di banyak lingkungan.

5. Duduk di Teras Rumah Sambil Mengobrol dengan Tetangga

Dulu menjelang sore atau selepas Magrib, banyak orang duduk di teras rumah sambil berbincang dengan tetangga yang lewat. Tidak ada agenda khusus, sekadar bertukar cerita tentang aktivitas sehari-hari. Kini, waktu luang lebih sering dihabiskan di depan gawai atau televisi.

6. Bermain Bersama Anak-Anak Sekampung

Sore hari dulu identik dengan suara anak-anak bermain gobak sodor, petak umpet, bentengan, atau sepak bola di lapangan. Kini, lebih banyak anak menghabiskan waktu dengan gawai atau permainan daring.

7. Kentongan

Kentongan dulu digunakan sebagai penanda bahaya atau panggilan berkumpul bagi warga. Kini, fungsinya banyak digantikan oleh pengeras suara, telepon, dan grup percakapan digital.

8. Halalbihalal Keliling

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah saat Idulfitri masih ada, tetapi di kota-kota besar mulai berkurang. Banyak orang kini memilih bersilaturahmi melalui pesan instan atau panggilan video.

9. Saling Mengenal Hampir Semua Tetangga

Dulu, satu kampung biasanya saling mengenal. Bahkan orang tua sering mengetahui nama seluruh anak yang tinggal di lingkungan sekitar. Kini, terutama di kawasan perkotaan atau perumahan, tidak sedikit orang yang bahkan belum mengenal tetangga di sebelah rumahnya.

10. Arisan Kampung

Arisan dulu menjadi ajang berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga, bukan sekadar mengumpulkan uang. Kini, sebagian arisan mulai beralih ke format daring atau semakin jarang dilakukan karena kesibukan anggotanya.

Perubahan adalah hal yang tidak dapat dihindari. Banyak tradisi beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Namun, di balik perubahan tersebut, terdapat nilai-nilai yang tetap penting untuk dipertahankan, seperti gotong royong, kepedulian, musyawarah, dan kebersamaan.

Karena pada akhirnya, yang membuat tradisi bertahan bukan semata-mata bentuk kegiatannya, melainkan semangat yang hidup di dalamnya.

 

 

Editor : Kabun Triyatno
moderm adat istiadat tradisi sosial masyarakat