SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan teknologi memang melahirkan banyak profesi baru.
Namun di sisi lain, ada sejumlah pekerjaan yang justru mulai kehilangan penerus dari kalangan generasi muda.
Bukan karena profesi tersebut sudah tidak dibutuhkan, melainkan karena semakin sedikit anak muda yang memilih menekuninya.
Fenomena ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, penghasilan yang dianggap kurang menjanjikan, hingga pandangan bahwa beberapa profesi tidak lagi memiliki prospek karier yang menarik.
Padahal, sebagian besar pekerjaan ini masih memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat.
1. Petani
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling merasakan minimnya regenerasi.
Berdasarkan Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS), petani Indonesia masih didominasi kelompok usia di atas 45 tahun.
Sementara itu, jumlah petani muda terus menurun.
Banyak anak petani memilih bekerja di kota karena menganggap sektor pertanian memiliki pendapatan yang tidak menentu, bergantung pada musim, dan membutuhkan tenaga besar.
2. Nelayan
Kondisi serupa juga terjadi pada sektor perikanan tangkap.
Banyak keluarga nelayan berharap anak-anak mereka memiliki pekerjaan yang lebih stabil dibanding melaut yang sangat dipengaruhi cuaca, hasil tangkapan, dan harga pasar.
Akibatnya, regenerasi nelayan menjadi salah satu tantangan di wilayah pesisir Indonesia.
3. Pembatik Tulis
Batik memang tetap berkembang, tetapi pembatik tulis semakin sulit dicari.
Proses membatik secara manual membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang panjang. Tidak sedikit sentra batik yang mengaku kesulitan menemukan anak muda yang bersedia belajar dari nol.
4. Pengrajin Wayang
Wayang merupakan warisan budaya dunia yang diakui UNESCO. Namun, banyak pengrajin wayang mengaku penerus profesi ini semakin sedikit. Selain membutuhkan keterampilan tinggi, proses pembuatannya juga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai.
5. Pembuat Gamelan
Di Solo, Yogyakarta, hingga beberapa daerah di Jawa Timur masih terdapat bengkel pembuatan gamelan tradisional.
Sayangnya, banyak pengrajin mengaku anak muda lebih memilih bekerja di sektor lain dibanding meneruskan keahlian membuat instrumen musik tradisional.
6. Empu Keris
Menjadi empu keris bukan sekadar pandai menempa logam.
Profesi ini memerlukan pengetahuan mengenai teknik, filosofi, hingga sejarah. Jumlah empu keris di Indonesia kini semakin sedikit, sementara regenerasinya berjalan lambat.
Baca Juga: PGS Tutup, Pemkot Surakarta Siapkan 97 Kios di Pasar Jongke dan Pasar Klewer untuk Eks Pedagang
7. Perajin Gerabah dan Keramik Tradisional
Sentra gerabah seperti Kasongan di Yogyakarta atau Bayat di Klaten masih bertahan hingga kini.
Namun banyak pengrajin mengaku generasi muda enggan melanjutkan usaha keluarga karena memilih pekerjaan yang dianggap lebih modern dan memiliki pendapatan lebih pasti.
8. Pengrajin Anyaman Bambu dan Rotan
Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil kerajinan bambu dan rotan. Sayangnya, industri ini juga menghadapi tantangan regenerasi. Banyak perajin senior kesulitan mencari penerus karena anak muda lebih tertarik bekerja di sektor jasa atau industri kreatif modern.
9. Kusir Delman
Delman masih menjadi ikon wisata di sejumlah kota seperti Jogja, Solo, dan Jakarta.
Namun sebagian besar kusir kini berusia lanjut. Sangat sedikit anak muda yang berminat meneruskan profesi tersebut karena pendapatan yang tidak menentu dan perubahan sistem transportasi.
10. Tukang Becak
Becak memang masih menjadi bagian dari wajah beberapa kota di Indonesia.
Namun hampir seluruh pengemudinya berasal dari kelompok usia lanjut.
Seiring berkembangnya transportasi modern dan layanan berbasis aplikasi, semakin sedikit generasi muda yang memilih profesi ini sebagai mata pencaharian.
Regenerasi bukan hanya soal menggantikan tenaga kerja yang pensiun.
Pada sejumlah profesi tradisional, hilangnya penerus juga berarti hilangnya pengetahuan, keterampilan, bahkan nilai budaya yang diwariskan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Di sisi lain, pilihan generasi muda juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan.
Banyak dari mereka mempertimbangkan stabilitas pendapatan, peluang pengembangan karier, hingga keseimbangan hidup ketika memilih pekerjaan.
Perubahan zaman memang menghadirkan pilihan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar mengajak anak muda kembali melirik profesi-profesi tersebut, tetapi juga bagaimana pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat mampu membuat pekerjaan itu tetap layak, menjanjikan, serta relevan dengan kebutuhan masa kini.
Sebab jika tidak ada regenerasi, yang hilang bukan hanya sebuah profesi, melainkan juga bagian dari identitas dan kekayaan budaya Indonesia. (rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto