SOLOBALAPAN.COM - "Ngortis banget." Komentar itu muncul begitu saja saat seorang mahasiswa datang ke kelas dengan sweater abu-abu, celana baggy, dan sneakers putih.
Teman-temannya tertawa kecil. Tidak ada yang bertanya apa maksudnya. Semua sudah paham.
Pemandangan seperti itu kini bukan hal yang asing. Di kampus, pusat perbelanjaan, konser musik, sampai kolom komentar media sosial, istilah "ngortis" semakin sering terdengar.
Baca Juga: Fatherless Bukan Sekadar Kehilangan Sosok Ayah, tetapi Kehadiran yang Tak Terasa
Menariknya, sebutan itu tidak selalu ditujukan kepada penggemar boy group Korea Selatan, CORTIS. Siapa pun yang tampil dengan gaya tertentu bisa saja mendapat komentar serupa.
Padahal, kalau dilihat sekilas, pakaian yang dikenakan bukan sesuatu yang istimewa. Sweater, jaket denim, hoodie, baggy jeans, cargo pants, atau sneakers sudah lama menjadi bagian dari gaya berpakaian anak muda.
Hampir semua item itu mudah ditemukan di toko pakaian, bahkan mungkin sudah tersimpan di lemari.
Baca Juga: Saat Gaji Tak Lagi Hanya untuk Diri Sendiri, Memahami Fenomena Sandwich Generation
Lalu, kenapa orang langsung menyebutnya "ngortis"?
Rupanya, yang diingat bukan satu jenis pakaiannya. Yang melekat justru cara memadukannya.
Gaya ini identik dengan potongan pakaian yang longgar, tetapi tetap terasa seimbang. Warna-warnanya cenderung tenang dan tidak saling berebut perhatian.
Ada permainan layering yang membuat tampilan terlihat lebih berdimensi, sementara aksesori seperti topi, shoulder bag, atau headphone hanya menjadi pelengkap, bukan pusat perhatian.
Baca Juga: Banyak Pilihan, Kenapa Justru Makin Sulit Memutuskan? Ternyata Ini yang Disebut FOBO
Kalau diperhatikan, tidak ada aturan yang benar-benar kaku. Seseorang bisa memilih sweater, orang lain memakai jaket denim, sementara yang lain lagi tampil dengan flanel sebagai outer.
Meski begitu, nuansanya tetap terasa serupa. Mungkin karena itulah banyak orang bisa langsung mengenalinya hanya dari sekali lihat.
Yang menarik, gaya ini juga berkembang dengan caranya sendiri. Tidak sedikit anak muda yang mengadopsinya tanpa berniat meniru penampilan para member CORTIS secara utuh.
Baca Juga: Mengapa Lightstick Wajib Ada di Konser K-Pop? Penanda Identitas Hingga Lautan Cahaya Arena
Ada yang hanya menyukai perpaduan warnanya. Ada yang merasa lebih percaya diri dengan potongan pakaian yang longgar. Ada pula yang sekadar ingin tampil lebih santai tanpa kehilangan kesan rapi.
Di titik itu, outfit Cortis tidak lagi berhenti sebagai inspirasi dari seorang idola. Gaya ini mulai berbaur dengan keseharian dan diolah sesuai selera masing-masing.
Orang-orang mengambil bagian yang mereka sukai, lalu memadukannya dengan pakaian yang sudah mereka miliki.
Baca Juga: Kebiasaan Ini Bikin Pemakaian Skincare Tak Maksimal
Barangkali di situlah alasan gaya ini cepat diterima. Tidak menuntut orang membeli lemari baru atau mengikuti semua yang dikenakan idolanya.
Justru sebaliknya, gaya ini menunjukkan bahwa pakaian sederhana pun bisa terlihat berbeda ketika dipadukan dengan cara yang tepat.
Tidak semua tren fashion meninggalkan jejak dalam percakapan sehari-hari. Sebagian hanya lewat di linimasa media sosial, lalu perlahan dilupakan.
Baca Juga: Siapa Sangka, Rich Brian Jadi Sosok di Balik Suara "Om Telolet Om" di Lagu HONK! NO NA
Namun, ketika sebuah gaya sampai melahirkan istilah yang dipahami banyak orang, itu menjadi tanda bahwa tren tersebut telah bergerak lebih jauh dari sekadar cara berpakaian.
Ia sudah menjadi bagian dari budaya populer yang hidup dalam obrolan sehari-hari.
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber