Fatherless Bukan Sekadar Kehilangan Sosok Ayah, tetapi Kehadiran yang Tak Terasa

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:59 WIB
Ilustrasi aktivitas ayah dan anak di rumah. Kedekatan keluarga dapat dibangun melalui interaksi sederhana sehari-hari. (AI Generated)
Ilustrasi aktivitas ayah dan anak di rumah. Kedekatan keluarga dapat dibangun melalui interaksi sederhana sehari-hari. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Seorang anak mungkin masih melihat ayahnya setiap hari. Sosok yang sama yang berangkat bekerja sejak pagi, pulang ketika hari mulai sore atau malam, lalu memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Namun, di antara rutinitas itu, ada percakapan yang mungkin semakin jarang terjadi. Cerita tentang kegiatan di sekolah, hal kecil yang membuat anak senang, atau sekadar obrolan ringan sebelum tidur bisa perlahan hilang karena kesibukan masing-masing.

Bukan karena seorang ayah tidak peduli. Banyak ayah menunjukkan kasih sayang melalui cara mereka sendiri, salah satunya dengan bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.

Namun, memenuhi kebutuhan anak secara materi tidak selalu cukup untuk membangun kedekatan emosional.

Baca Juga: Saat Gaji Tak Lagi Hanya untuk Diri Sendiri, Memahami Fenomena Sandwich Generation

Hal inilah yang membuat makna fatherless tidak sesederhana kehilangan sosok ayah. Istilah tersebut tidak hanya merujuk pada anak yang tumbuh tanpa ayah

Tetapi juga dapat menggambarkan kondisi ketika hubungan antara ayah dan anak tidak terbangun secara dekat.

Seorang ayah bisa saja berada di rumah, tetapi anak tetap membutuhkan lebih dari sekadar keberadaan.

Baca Juga: Banyak Pilihan, Kenapa Justru Makin Sulit Memutuskan? Ternyata Ini yang Disebut FOBO

Anak membutuhkan sosok yang mau mendengarkan ceritanya, memahami perasaannya, dan terlibat dalam perjalanan tumbuh kembangnya.

Persoalan ini menjadi perhatian karena peran ayah dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Berdasarkan hasil Pendataan Keluarga 2025 (PK25) yang dirilis Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sebanyak 25,8 persen anak di Indonesia tercatat mengalami kondisi fatherless.

Baca Juga: Kebiasaan Ini Bikin Pemakaian Skincare Tak Maksimal

Pengukuran tersebut tidak hanya melihat ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga mempertimbangkan keterlibatan ayah melalui aspek interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, dan perannya dalam kehidupan anak.

Data tersebut menunjukkan bahwa keberadaan ayah secara fisik belum selalu menggambarkan seberapa dekat hubungan yang terbangun bersama anak.

Ketika Ayah Ada, tetapi Jarak Tetap Terasa

Dalam banyak keluarga, kasih sayang seorang ayah sering kali terlihat melalui tanggung jawab yang dilakukan sehari-hari.

Baca Juga: Ingin Punya Foto Strip Aesthetic? Ini 6 Website Digital Photobooth yang Wajib Dicoba

Bekerja, memenuhi kebutuhan rumah tangga, serta memastikan anak mendapatkan pendidikan yang baik menjadi bentuk perhatian yang banyak dilakukan.

Hal tersebut tentu menjadi bagian penting dalam peran seorang ayah. Namun, bagi anak, perhatian juga hadir melalui hal-hal sederhana yang sering kali tidak membutuhkan banyak waktu.

Menanyakan bagaimana hari anak berjalan, mendengarkan cerita mereka, menemani belajar, atau mengetahui hal-hal kecil yang sedang mereka sukai merupakan bentuk interaksi yang dapat memperkuat hubungan.

Baca Juga: Satu Klik Bisa Menguras Rekening, Waspadai Link Phishing Perbankan

Sebab, kedekatan tidak selalu terbentuk dari momen besar. Hubungan antara ayah dan anak sering kali tumbuh melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Seorang ayah mungkin tahu apakah anaknya sudah makan atau sudah berangkat sekolah.

Namun, anak juga ingin memiliki sosok yang mengetahui apakah hari mereka menyenangkan, apa yang sedang mereka khawatirkan, atau hal apa yang ingin mereka ceritakan.

Baca Juga: Naskah Kuno Berusia Lebih dari 100 Tahun Ditemukan di Boyolali, Ada Safinatun Najah dan Petung-Petung

Bukan Tentang Menyalahkan Ayah

Membicarakan fatherless bukan berarti menilai bahwa para ayah tidak menjalankan perannya. Banyak ayah berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga melalui cara yang mereka pahami.

Di sisi lain, pola pengasuhan dalam masyarakat masih sering menempatkan ibu sebagai sosok yang lebih dekat dengan aktivitas anak, sementara ayah lebih banyak dipandang sebagai pencari nafkah utama.

Pandangan tersebut membuat keterlibatan ayah dalam aspek emosional terkadang belum mendapat perhatian yang sama.

Baca Juga: Bukan Lagi Matcha? Rasa Ube Kian Curi Perhatian di Tengah Tren Minuman Kekinian

Padahal, pengasuhan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga tentang membangun hubungan yang membuat anak merasa diperhatikan.

Keterlibatan ayah pun tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Meluangkan waktu untuk berbicara, menunjukkan ketertarikan terhadap cerita anak, atau sekadar hadir ketika anak membutuhkan dukungan dapat menjadi langkah sederhana yang bermakna.

Ayah Tidak Hanya Dibutuhkan untuk Ada

Peran ayah dalam keluarga terus mengalami perkembangan. Ayah tidak hanya menjadi sosok yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan emosional dengan anak.

Bagi seorang anak, ayah bukan hanya seseorang yang berada di rumah, tetapi seseorang yang membuat mereka merasa didengar dan dihargai.

Baca Juga: Siapa Sangka, Rich Brian Jadi Sosok di Balik Suara "Om Telolet Om" di Lagu HONK! NO NA

Pada akhirnya, fatherless tidak selalu berarti kehilangan ayah secara fisik. Ada kalanya seorang anak tetap memiliki ayah, tetapi kehilangan kedekatan yang membuat hubungan tersebut terasa jauh.

Karena bagi anak, kehadiran seorang ayah bukan hanya tentang siapa yang ada di dekatnya, tetapi siapa yang benar-benar hadir dalam kehidupannya.

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
pengasuhan keluarga ayah fatherless anak