SOLOBALAPAN.COM - Ponsel masih berada di tangan, tetapi rasanya tidak ingin membuka apa pun. Notifikasi yang biasanya langsung diperiksa mulai dibiarkan. Pesan yang masuk belum dibalas, sementara unggahan di media sosial dilewati begitu saja.
Bagi sebagian orang, kondisi seperti itu menjadi tanda bahwa mereka membutuhkan jeda. Ada yang memilih mengurangi aktivitas, berhenti mengunggah cerita, hingga menonaktifkan akun media sosial untuk sementara waktu.
Keputusan tersebut mungkin terlihat tiba-tiba bagi orang lain. Seseorang yang biasanya aktif membagikan keseharian mendadak tidak lagi muncul. Tidak ada unggahan baru, tidak ada aktivitas seperti biasanya, bahkan akun yang sebelumnya mudah ditemukan tiba-tiba menghilang.
Baca Juga: Pernikahan Generasi Media Sosial dan Cara Baru Mengabadikan Momen
Tidak sedikit yang kemudian bertanya-tanya, "Ada apa?"
Padahal, seseorang yang memilih menjauh dari media sosial tidak selalu sedang marah, mencari perhatian, atau ingin memutus hubungan dengan orang lain. Terkadang, mereka hanya sedang merasa terlalu banyak menerima hal dalam waktu bersamaan dan membutuhkan waktu untuk mengurangi berbagai hal yang masuk ke pikirannya.
Media sosial memang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui layar ponsel, seseorang bisa berkomunikasi, mencari informasi, mengikuti kabar terbaru, hingga mendapatkan hiburan kapan saja.
Namun, kemudahan tersebut juga membuat seseorang terus terhubung. Setiap membuka aplikasi, ada banyak hal yang muncul bersamaan, mulai dari pesan yang belum dibalas, unggahan terbaru, berbagai pendapat, hingga cerita kehidupan orang lain.
Saat kondisi sedang baik-baik saja, semua itu mungkin terasa biasa. Akan tetapi, ketika seseorang sedang menghadapi banyak persoalan, hal-hal kecil di media sosial bisa terasa lebih berat dari biasanya.
Baca Juga: Cancel Culture di Media Sosial: Antara Kontrol Sosial dan Penghakiman Publik
Ada orang yang memilih berhenti membuka media sosial setelah kehilangan pekerjaan karena belum siap melihat unggahan teman-temannya yang sedang merayakan pencapaian baru. Ada mahasiswa yang mengurangi penggunaan media sosial karena harus menyelesaikan banyak tugas dan merasa notifikasi membuat fokusnya mudah terpecah. Ada pula seseorang yang baru mengalami perpisahan lalu memilih menjauh sementara karena tidak ingin terus menemukan hal-hal yang mengingatkannya pada masa lalu.
Pilihan tersebut bukan berarti mereka tidak senang melihat kehidupan orang lain atau membenci media sosial. Hanya saja, setiap orang memiliki waktu ketika dirinya membutuhkan lebih sedikit gangguan dari luar.
Selain banyaknya informasi yang muncul setiap hari, media sosial juga terkadang menghadirkan tuntutan untuk terus terlihat. Ada dorongan untuk membalas pesan dengan cepat, mengikuti percakapan, mengunggah aktivitas, atau menunjukkan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.
Padahal, ada masa ketika seseorang tidak ingin menjelaskan banyak hal kepada orang lain. Mereka hanya ingin menjalani hari tanpa harus terus hadir dan memberikan respons di dunia digital.
Menariknya, orang yang menghilang dari media sosial tidak selalu benar-benar menjauh dari kehidupan sosialnya. Banyak yang masih berkomunikasi dengan keluarga atau teman dekat melalui pesan pribadi maupun telepon. Yang dikurangi bukan hubungan dengan orang lain, melainkan aktivitas di media sosial yang untuk sementara terasa terlalu ramai.
Berbeda dengan dulu ketika seseorang mungkin akan memberi tahu bahwa dirinya sedang ingin berhenti bermain media sosial, kini banyak orang memilih pergi tanpa penjelasan panjang. Tidak ada unggahan terakhir, tidak ada pengumuman. Mereka hanya berhenti muncul dan kembali ketika merasa sudah siap.
Meski begitu, mengambil jarak dari media sosial bukan berarti semua masalah langsung selesai. Mengurangi aktivitas di media sosial memang dapat memberi waktu untuk beristirahat, tetapi persoalan yang sedang dihadapi tetap perlu diselesaikan.
Jika rasa lelah, kehilangan semangat, atau keinginan untuk terus menarik diri berlangsung lama hingga mengganggu keseharian, dukungan dari orang terdekat maupun bantuan profesional tetap menjadi hal yang penting.
Fenomena ini menunjukkan bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang sebenarnya. Ada orang yang tetap aktif meski sedang menghadapi banyak hal, ada pula yang memilih berhenti muncul untuk sementara.
Karena itu, akun yang tiba-tiba menghilang tidak selalu menyimpan cerita besar. Bisa jadi, seseorang hanya sedang memberi dirinya waktu untuk beristirahat, menenangkan pikiran, lalu kembali ketika sudah merasa lebih siap.
Editor : Kabun Triyatno