SOLOBALAPAN.COM - Ketika mendengar istilah independent woman, sosok yang muncul di kepala banyak orang sering kali hampir sama.
Perempuan dengan karier mapan, bekerja di perusahaan besar, memiliki penghasilan tinggi, bahkan tak jarang digambarkan mampu menghasilkan lebih banyak daripada pasangannya.
Gambaran tersebut seolah menjadi standar tidak tertulis tentang seperti apa perempuan mandiri seharusnya.
Padahal, benarkah kemandirian seorang perempuan hanya bisa diukur dari angka di rekening atau jabatan yang dimilikinya?
Cara pandang seperti itu tanpa disadari justru mempersempit makna independent woman.
Seolah-olah hanya ada satu jalan untuk menjadi perempuan mandiri, yaitu memiliki pekerjaan bergengsi dan penghasilan besar.
Sementara perempuan yang memilih membangun usaha kecil dari rumah, membantu perekonomian keluarga lewat jualan daring, menerima pesanan katering, menjadi penjahit, atau bahkan mengatur keuangan rumah tangga sering kali luput dari label tersebut.
Padahal, perempuan yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri tidak selalu berarti harus berdiri sendirian.
Kemandirian juga berarti memiliki kemampuan mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihannya, serta tetap berdaya sesuai dengan kondisi yang dimiliki.
Pandangan ini sejalan dengan Self-Determination Theory yang dikembangkan psikolog Edward L. Deci dan Richard M. Ryan.
Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia adalah autonomy, yaitu kemampuan untuk mengatur hidup, mengambil keputusan, dan bertindak sesuai nilai yang diyakini.
Artinya, ukuran kemandirian tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan sejauh mana seseorang memiliki kendali atas hidupnya.
Hal serupa juga dijelaskan oleh akademisi Naila Kabeer dalam kajiannya mengenai pemberdayaan perempuan.
Menurutnya, perempuan yang berdaya adalah mereka yang memiliki kemampuan menentukan pilihan hidup dan memiliki kendali terhadap keputusan-keputusan penting yang memengaruhi dirinya.
Pemberdayaan bukan hanya berbicara mengenai akses terhadap pekerjaan formal, tetapi juga kemampuan menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup.
Karena itu, seorang perempuan yang menjadi direktur perusahaan tentu dapat disebut sebagai independent woman.
Namun, ibu rumah tangga yang setiap hari mengelola usaha rumahan, berjualan makanan, membuka toko kelontong, menjadi reseller, atau menerima pesanan jahitan juga menunjukkan bentuk kemandirian yang sama.
Mereka tidak hanya membantu ekonomi keluarga, tetapi juga membangun nilai bagi dirinya sendiri melalui kemampuan, keterampilan, dan keputusan yang diambil.
Bahkan, tidak sedikit ibu rumah tangga yang tidak memiliki usaha sekalipun tetap menunjukkan kemandirian.
Mengelola keuangan keluarga, mengambil keputusan bersama pasangan, mengatur pendidikan anak, hingga menjadi penopang emosional dalam rumah tangga merupakan bentuk tanggung jawab yang tidak dapat diukur hanya dengan nominal penghasilan.
Pada akhirnya, tidak ada satu definisi yang dapat mewakili seluruh perempuan.
Ada yang memilih mengejar karier profesional, ada yang membangun usaha dari rumah, ada pula yang menjalankan keduanya secara bersamaan.
Baca Juga: Panen Kritik Usai Dibantai Vietnam, Kapten Timnas Indonesia Rizky Ridho: Saya Terima Itu!
Semuanya memiliki tantangan dan bentuk kemandirian masing-masing.
Mungkin sudah saatnya istilah independent woman dimaknai lebih luas.
Sebab perempuan yang benar-benar mandiri bukan selalu mereka yang memiliki gaji paling besar, melainkan mereka yang mampu menentukan arah hidupnya sendiri, bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil, dan tetap berdaya dengan cara yang mereka pilih. (rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto