SOLOBALAPAN.COM - Sebuah kedai baru tidak selalu langsung dipenuhi pembeli. Ada yang melewati hari-hari pertamanya dengan suasana biasa saja. Namun, beberapa minggu kemudian, kondisinya berubah.
Meja mulai penuh, antrean terlihat mengular, bahkan pengunjung rela datang lebih awal agar tidak kehabisan. Menariknya, perubahan itu sering kali terjadi setelah video tentang makanan tersebut berulang kali muncul di TikTok atau Instagram.
Fenomena seperti ini semakin mudah ditemui. Banyak orang kini mengenal sebuah makanan bukan dari cerita teman atau keluarga, melainkan dari media sosial. Saat ingin mencari rekomendasi kuliner, mereka lebih dulu membuka TikTok atau Instagram.
Baca Juga: Eco-Friendly Kian Populer, Beragam Produk Reusable Kian Digemari
Mereka menonton beberapa video, membaca komentar, lalu melihat bagaimana orang lain menggambarkan rasa, porsi, hingga suasana tempat makannya. Dari sana, muncul daftar tempat yang ingin dikunjungi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa cara orang memilih makanan perlahan ikut berubah. Dahulu, keputusan mencoba sebuah menu lebih banyak dipengaruhi rekomendasi dari orang terdekat. Kini, rekomendasi itu datang dari layar ponsel.
Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat puluhan ulasan tentang makanan yang sama, lengkap dengan gambar, video, dan pengalaman orang yang sudah lebih dulu mencobanya.
Menariknya, keinginan untuk membeli tidak selalu muncul saat melihat satu unggahan. Justru setelah makanan yang sama berkali-kali lewat di beranda, rasa ingin tahu mulai tumbuh.
Hari ini melihat video seorang food reviewer, besok muncul lagi dari akun lain, lalu disusul unggahan teman yang ternyata juga ikut mencobanya. Tanpa disadari, makanan yang awalnya terasa biasa saja perlahan berubah menjadi sesuatu yang ingin dicicipi.
Hal itu sering terjadi dalam keseharian. Seseorang mungkin sedang mencari hiburan di media sosial, bukan berniat mencari tempat makan. Namun, di sela-sela video yang ditonton, muncul konten tentang makanan yang sedang ramai dibicarakan.
Baca Juga: Kilau Kecil di Gigi, Tooth Gems Jadi Aksesori Favorit Gen Z
Video tersebut menampilkan proses pembuatannya, isian yang melimpah, atau ekspresi puas orang yang mencicipinya. Konten serupa terus bermunculan hingga akhirnya memunculkan keinginan untuk datang dan membuktikan sendiri seperti apa rasanya.
Bukan berarti setiap orang langsung percaya begitu saja. Sebelum memutuskan membeli, banyak yang memilih melihat lebih dari satu ulasan. Mereka membandingkan pendapat dari beberapa kreator, membaca komentar pengguna lain, atau mencari video dari sudut pandang yang berbeda.
Ketika sebagian besar ulasan memberikan kesan positif, keyakinan untuk mencoba pun semakin besar.
Baca Juga: Mengapa Childfree Semakin Banyak Dibicarakan di Tengah Biaya Hidup yang Terus Berubah?
Fenomena tersebut sejalan dengan penelitian berjudul "Pengaruh e-WOM Terhadap Keputusan Pembelian Makanan Viral". Penelitian itu menjelaskan bahwa ulasan, rekomendasi, dan pengalaman yang dibagikan pengguna di media sosial berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk membeli makanan yang sedang ramai diperbincangkan.
TikTok dan Instagram juga menjadi saluran utama penyebaran tren kuliner karena memungkinkan informasi menyebar dengan cepat melalui video pendek maupun unggahan pengguna.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebuah makanan tidak hanya "dijual" melalui tampilannya, tetapi juga melalui pengalaman yang dibagikan orang lain.
Baca Juga: Salt Bread Jadi Tren Kuliner Baru, Intip Fakta Menarik di Balik Roti Ini
Ketika banyak pengguna menceritakan pengalaman yang menyenangkan, memperlihatkan antrean panjang, atau menunjukkan antusiasme saat mencicipinya, calon pembeli memperoleh gambaran mengenai makanan tersebut bahkan sebelum datang ke lokasi.
Bagi pelaku usaha kuliner, kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Viralitas memang mampu mendatangkan perhatian dalam waktu singkat, tetapi perhatian itu tidak selalu bertahan lama.
Setelah rasa penasaran masyarakat terjawab, kualitas makanan dan pelayanan tetap menjadi faktor yang menentukan apakah pelanggan akan kembali atau hanya datang sekali karena sedang mengikuti tren.
Baca Juga: Dulu Dianggap Norak, Kini Gaya Biduan Jadi Inspirasi Outfit Hipdut Gen Z
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pengaruh media sosial terhadap keputusan membeli bukan sekadar anggapan. Berdasarkan survei terhadap 130 responden, ulasan dan rekomendasi yang beredar di media sosial terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian makanan viral.
Penelitian itu juga menemukan bahwa sekitar 40,4 persen variasi keputusan pembelian dipengaruhi oleh informasi yang diterima melalui media sosial.
Meski demikian, makanan yang viral belum tentu akan disukai semua orang. Selera setiap orang berbeda. Ada yang merasa makanan tersebut memang sesuai dengan ekspektasi setelah melihat berbagai ulasan, tetapi ada pula yang menganggap rasanya biasa saja.
Baca Juga: Kenapa Tab Browser Sering Dibiarkan Terbuka? Ternyata Bukan Sekadar Lupa
Perbedaan itu wajar karena pengalaman menikmati makanan tidak hanya ditentukan oleh seberapa ramai pembahasannya, tetapi juga oleh selera pribadi.
Di sisi lain, fenomena makanan viral menunjukkan bahwa media sosial kini bukan sekadar tempat berbagi foto atau video, melainkan juga ruang tempat orang saling bertukar rekomendasi. Satu unggahan dapat memancing unggahan lain, kemudian berkembang menjadi perbincangan yang lebih luas.
Semakin banyak orang ikut berbagi pengalaman, semakin besar pula peluang sebuah makanan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Sebuah makanan bisa saja tidak berubah sejak hari pertama dijual. Rasa, resep, bahkan tempatnya mungkin tetap sama. Yang berubah adalah seberapa jauh cerita tentang makanan itu menyebar.
Ketika satu video berkembang menjadi ratusan ulasan dan ribuan komentar, sebuah menu yang semula hanya dikenal oleh segelintir orang perlahan menjadi tujuan banyak orang.
Dari situlah sebuah makanan sering kali benar-benar ramai, bukan karena baru hadir, melainkan karena berhasil menarik perhatian melalui pengalaman yang dibagikan banyak orang.
Editor : Adi PrasSumber : Berbagai Sumber