Kemeja Putih Sering Jadi Pilihan Saat Klarifikasi, Ternyata Warna Outfit Bisa Pengaruhi Persepsi

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:24 WIB
Ilustrasi publik figur yang kerap menggunakan busana berwarna putih untuk menyampaikan permintaan maaf atau klarifikasi. (AI generated)
Ilustrasi publik figur yang kerap menggunakan busana berwarna putih untuk menyampaikan permintaan maaf atau klarifikasi. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Belakangan ini, warganet kerap melontarkan komentar berupa candaan setiap kali seorang figur publik mengunggah video klarifikasi atau permintaan maaf.

Alih-alih langsung membahas isi pernyataannya, perhatian justru tertuju pada satu hal yang dianggap berulang, yakni pilihan pakaian berwarna putih.

Komentar seperti, "Kayaknya baju putih sekarang bukan sekedar outfit, tapi seragam permintaan maaf", atau "Sekarang kalau klarifikasi harus pakai baju putih ya".

Ini semakin sering bermunculan di media sosial.

Baca Juga: Cinta di Era Swipe: Saat Hubungan Romantis Mulai Terasa Seperti Belanja Online

Fenomena tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah pemilihan baju putih memang disengaja?

Ataukah warna pakaian memang dapat memengaruhi cara seseorang dipersepsikan oleh publik?

Ternyata, pertanyaan tersebut bukan sekadar asumsi warganet.

Dalam dunia psikologi, warna telah lama menjadi objek penelitian karena dinilai mampu memengaruhi persepsi, emosi, hingga kesan pertama seseorang.

Salah satu kajian yang paling banyak dijadikan rujukan berasal dari psikolog Andrew J. Elliot dari University of Rochester dan Markus A.

Maier dari Ludwig Maximilian University of Munich.

Dalam artikel ilmiah berjudul Color Psychology: Effects of Perceiving Color on Psychological Functioning in Humans yang diterbitkan di Annual Review of Psychology pada 2014, keduanya menjelaskan, bahwa warna dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang orang lain, membentuk emosi, hingga memengaruhi perilaku.

Namun, mereka juga menegaskan bahwa makna warna tidak bersifat mutlak karena dipengaruhi oleh budaya, konteks, dan pengalaman setiap individu.

Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Kim K. P. Johnson, Sharron J. Lennon, dan Nancy A. Rudd yang diterbitkan dalam jurnal Fashion and Textiles tahun 2014.

Baca Juga: Influencer Endang Yustika Sebut Threads Sebagai Platform Paling Toxic, Ada Apa Gerangan?

Dalam kajian mengenai psikologi sosial pakaian (Dress, Body and Self: Research in the Social Psychology of Dress), mereka menjelaskan bahwa pakaian merupakan bagian dari komunikasi nonverbal.

Sebelum seseorang berbicara, orang lain telah lebih dahulu membentuk kesan melalui apa yang dikenakannya, termasuk model pakaian, aksesori, hingga warna.

Putih: Simbol Keterbukaan dan Kesederhanaan

Di banyak budaya, warna putih sering diasosiasikan dengan kebersihan, kesederhanaan, ketulusan, dan awal yang baru.

Karena itulah, warna ini kerap muncul dalam momen yang ingin menunjukkan niat baik atau keterbukaan, mulai dari konferensi pers, permintaan maaf, kegiatan sosial, hingga video klarifikasi figur publik.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa mengenakan pakaian putih bukan berarti seseorang otomatis lebih jujur atau tulus.

Warna hanya membantu membentuk kesan pertama, sedangkan penilaian terhadap karakter seseorang tetap ditentukan oleh tindakan dan perilakunya.

Hitam: Elegan dan Berwibawa

Berbeda dengan putih, warna hitam lebih sering diasosiasikan dengan kesan elegan, profesional, kuat, dan berwibawa.

Tak heran jika warna ini banyak dipilih dalam acara formal, presentasi bisnis, maupun penampilan di atas panggung. Dalam konteks tertentu, hitam juga dapat memberikan kesan misterius dan tegas.

Merah: Berani dan Menarik Perhatian

Merah dikenal sebagai warna yang paling mudah menarik perhatian.

Berdasarkan teori Color-in-Context yang dikembangkan Andrew J. Elliot, merah dapat memunculkan persepsi dominan, penuh energi, dan berani, terutama dalam situasi kompetitif.

Dalam konteks lain, merah juga sering dikaitkan dengan daya tarik dan kepercayaan diri. Namun, persepsi tersebut tetap dipengaruhi oleh situasi dan budaya.

Baca Juga: Mengenal Fenomena Cancel Culture, Pentingnya Pemahaman Sebab-Akibat Sebelum Bertindak

Biru: Tenang dan Dapat Dipercaya

Biru sering dikaitkan dengan ketenangan, stabilitas, dan kepercayaan.

Tidak mengherankan jika banyak perusahaan, lembaga keuangan, hingga institusi kesehatan menggunakan warna biru sebagai identitas visual mereka untuk membangun citra profesional dan dapat dipercaya.

Hijau: Seimbang dan Menenangkan

Sementara itu, hijau identik dengan alam, kesehatan, pertumbuhan, dan keseimbangan.

Warna ini banyak digunakan pada produk yang ingin menghadirkan kesan alami serta dalam berbagai kampanye bertema lingkungan dan kesehatan.

Pada akhirnya, warna pakaian memang dapat memengaruhi kesan pertama yang muncul di benak orang lain.

Namun, seperti yang ditegaskan Andrew J. Elliot dan Markus A. Maier, makna sebuah warna tidak pernah berdiri sendiri.

Budaya, pengalaman, dan konteks memiliki peran besar dalam membentuk persepsi.

Karena itu, meski baju putih kerap dianggap sebagai "seragam klarifikasi" di media sosial, ketulusan seseorang tetap tidak bisa diukur hanya dari warna pakaian yang dikenakannya. (rastri rafiarum) 

Editor : Ferry Ardi Susanto
warna baju psikologi warna outfit klarifikasi