SOLOBALAPAN.COM – Dahulu, jatuh cinta identik dengan proses panjang.
Orang mengenal karakter satu sama lain, belajar menerima kekurangan, lalu perlahan membangun kepercayaan.
Kini, pengalaman itu mulai berubah.
Di era aplikasi kencan dan media sosial, hubungan romantis semakin sering dipandang layaknya memilih produk di etalase digital.
Baca Juga: Influencer Endang Yustika Sebut Threads Sebagai Platform Paling Toxic, Ada Apa Gerangan?
Fenomena ini dikenal sebagai komodifikasi hubungan, yaitu kondisi ketika seseorang diperlakukan seperti komoditas yang dapat dinilai, dibandingkan, lalu diganti apabila dianggap tidak lagi memenuhi ekspektasi.
Kehadiran berbagai aplikasi kencan membuat proses mencari pasangan menjadi semakin mudah. Cukup dengan satu gerakan swipe, ratusan profil baru dapat muncul dalam hitungan menit.
Tidak hanya itu, budaya memberi Rating terhadap penampilan, penghasilan, gaya berpakaian, hingga "red flag" dan "green flag" semakin memperkuat cara pandang tersebut.
Banyak konten di media sosial secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk mengukur nilai seseorang melalui angka atau daftar kriteria tertentu.
Akibatnya, hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar saling mengenal justru berubah menjadi proses seleksi yang menyerupai mencari produk dengan spesifikasi terbaik.
Baca Juga: Dulu Dianggap Norak, Kini Gaya Biduan Jadi Inspirasi Outfit Hipdut Gen Z
Psikolog menilai kondisi ini melahirkan fenomena yang dikenal sebagai paradox of choice.
Ketika pilihan terasa tidak terbatas, seseorang justru semakin sulit merasa puas dengan keputusan yang telah diambil.
Selalu muncul anggapan bahwa mungkin masih ada pasangan yang lebih menarik, lebih mapan, lebih perhatian, atau lebih sesuai dengan keinginan.
Cara berpikir seperti itu perlahan memengaruhi kualitas hubungan.
Kesalahan kecil yang sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi kini lebih sering dianggap sebagai alasan untuk mengakhiri hubungan.
Alih-alih memperbaiki, sebagian orang memilih kembali membuka aplikasi kencan dengan harapan menemukan sosok yang dianggap lebih sempurna.
Di sisi lain, budaya rating juga memberikan tekanan tersendiri. Tidak sedikit orang merasa harus terus tampil menarik, sukses, dan sempurna agar tetap dianggap layak dipilih.
Hubungan akhirnya berubah menjadi ruang kompetisi, bukan lagi ruang untuk bertumbuh bersama. Penilaian yang berlebihan terhadap penampilan maupun status sosial membuat banyak individu merasa nilai dirinya bergantung pada pengakuan orang lain.
Fenomena tersebut berdampak pada ketahanan mental dalam menjalani hubungan jangka panjang.
Membangun hubungan sejatinya membutuhkan kesabaran, kemampuan berkompromi, serta kesiapan menghadapi perbedaan.
Namun ketika seseorang terbiasa dengan budaya serba instan, toleransi terhadap konflik menjadi semakin rendah. Sedikit rasa bosan, perbedaan pendapat, atau kekurangan pasangan sering kali dianggap cukup untuk mengakhiri hubungan.
Media sosial juga memperkuat ilusi bahwa hubungan orang lain selalu terlihat lebih bahagia.
Foto-foto romantis, hadiah mewah, hingga momen liburan yang dibagikan setiap hari membuat sebagian orang membandingkan hubungan yang dijalaninya dengan potongan kehidupan orang lain yang belum tentu mencerminkan kenyataan.
Perbandingan semacam ini sering memunculkan rasa tidak puas terhadap pasangan sendiri.
Meski demikian, para pemerhati hubungan menilai teknologi bukanlah penyebab utama. Aplikasi kencan hanyalah alat yang mempermudah seseorang bertemu orang baru.
Yang menentukan kualitas hubungan tetaplah cara individu memandang komitmen, komunikasi, dan proses saling memahami. Teknologi dapat membantu mempertemukan dua orang, tetapi tidak dapat menggantikan usaha untuk mempertahankan hubungan.
Fenomena komodifikasi hubungan menjadi pengingat bahwa cinta bukan sekadar soal menemukan pasangan yang paling sempurna. Hubungan yang sehat justru lahir dari kemampuan menerima kekurangan, menyelesaikan konflik, dan bertumbuh bersama.
Di tengah budaya swipe, rating, dan pilihan yang seolah tidak ada habisnya, tantangan terbesar generasi saat ini bukan lagi menemukan pasangan, melainkan belajar bertahan ketika hubungan mulai menghadapi ketidaksempurnaan.
Pada akhirnya, cinta tidak bekerja seperti algoritma yang selalu menawarkan pilihan baru.
Hubungan yang langgeng dibangun melalui waktu, komitmen, dan kemauan untuk saling memahami.
Ketika manusia mulai memperlakukan pasangan layaknya barang yang bisa diganti kapan saja, yang hilang bukan hanya kualitas hubungan, tetapi juga kemampuan untuk mencintai secara utuh. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto