Mengenal Fenomena Cancel Culture, Pentingnya Pemahaman Sebab-Akibat Sebelum Bertindak

Ramadhan Pujo Kusumo • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:09 WIB
Poster Foto Terkait Cancel Culture
Poster terkait cancel culture. (AI GENERATED)

SOLOBALAPAN.COM - Bagi sebagian orang, melakukan kesalahan di ruang publik bisa berujung sanksi sosial.

Berupa hukuman teguran atau paling parah dikucilkan masyarakat.

Di tengah kemajuan zaman ini, kita mengenal istilah cancel culture yang ditujukan kepada seseorang, kelompok atau publik figur yang dinilai melanggar tatanan norma dan hukum.

Dalam pratiknya, cancel culture berupa ajakan boikot karya artis, hingga menghentikan dukungan terhadap produk atau layanan tertentu.

Fenomena ini berkembang seiring pesatnya kemajuan teknologi.

Baca Juga: Catcalling Sering Dianggap Candaan, Butuh Edukasi Masif Untuk Perlindungan Hak Perempuan

Khususnya penggunaan sosial media yang memungkinkan informasi tersebar secara luas dalam waktu singkat, serta memicu respons publik secara masif.

Dampak dari cancel culture dapat dirasakan dalam berkehidupan sehari hari.

Seseorang kehilangan integritas yang telah dibangunnya selama bertahun tahun, hanya karena melakukan kesalahan dan dirasa telah merugikan masyarakat.

Bagi individu, sanksi sosial yang diterima saat mengalami cancel culture dapat berupa perundungan di dunia maya, hingga dikucilkan.

Selain mendapat tekanan dari luar, cancel culture juga menyebabkan pihak yang mengalaminya menjadi tertekan dan memengaruhi psikologis. Sebab terlalu lama mendapatkan tekanan berkepanjangan dari publik. 

Tidak sedikit pihak yang mengalami stress dan cemas hingga gangguan mental karena mendapat tekanan dan sanksi sosial yang terus berkelanjutan.

Contoh yang paling mudah ditemui, yakni ketika seorang musisi memposting pernyataan yang menyinggung dan dianggap merendahkan kelompok tertentu melalui media sosial.

Unggahan tersebut bisa menjadi bumerang dan memicu kritik dari para netizen, bahkan penggemarnya.

Dalam waktu singkat, tagar untuk seruan mengajak menghentikan dukungan atau istilahnya memboikot kepada musisi yang bersangkutan menjadi tren dalam jagat dunia maya.

Baca Juga: Perseteruan Makin Panas! Sarwendah Umbar Dugaan Perselingkuhan Sejak 2017, Pihak Ruben Onsu Minta Bukti Nyata

Sejumlah penggemar mulai berhenti untuk mengikuti akun media sosialnya, beberapa pihak juga membatalkan kerja sama secara komersial.

Namun dalam kondisi ini, fenomena cancel culture berisiko memicu penghakiman masal, tanpa memberikan ruang yang cukup untuk pihak tertentu melakukan klarifikasi, permintaan maaf, dan perbaikan diri.

Bagi pihak yang mengalami cancel culture, tak sedikit yang menekankan pentingnya kebebasan berpendapat dengan prinsip keadilan. (ramadhan pujo kusumo)

Editor : Ferry Ardi Susanto
cancel culture solobalapancom