SOLOBALAPAN.COM – Ternyata tanpa disadari, masih sering ditemui pelecehan dalam bentuk verbal di ruang publik.
Contohnya catcalling.
Paling sering siulan atau panggilan yang bikin risih perempuan.
Sialnya, masih banyak yang menganggap itu sebagai bahan candaan.
Catcalling sering dijumpai di lingkungan kampus, tempat kerja, dan ruang publk.
Umumnya kasus ini dialami perempuan, namun tidak menutup kemungkinan laki laki juga menjadi korban.
Dampak catcalling tidak hanya dirasakan saat kejadian berlangsung, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis korban.
Sering kali korban merasa cemas dan menurunnya tingkat kepercayaan diri.
Contoh kasus catcalling di ruang publik yang masih sering ditemui. yakni bersiul kepada orang lain ketika sedang melintas di jalan.
Kemudian berkomentar ke lawan jenis seperti: “hai cantik,, senyum dulu dong”.
Bentuk lainnya, yakni mengeluarkan suara atau komentar yang menyebut bagian tubuh seseorang. Atau seringnya memanggil perempuan dengan sebutan “baby”, “sayang”, atau “cantik”.
Perlu dipahami, catcalling bukanlah sebuah bentuk pujian. Catcalling umumnya dilakukan tanpa persetujuan, bersifat mengganggu, dan berpotensi membuat merasa takut, malu, atau tidak nyaman saat di ruang publik.
Pencegahan catcalling memerlukan kesadaran masyarakat, bahwa setiap orang berhak menerima rasa aman di ruang publik.
Jika melihat Tindakan tersebut, sebaiknya beranikan diri untuk menegur atau melaporkan ke pihak berwajib.
Di sisi lain, meningkatkan edukasi mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual juga menjadi penting, agar masyarakat memahami catcalling bukanlah bahan candaan. Melainkan perilaku yang merugikan dan mengganggu seseorang. (ramadhan pujo kusumo)
Editor : Ferry Ardi Susanto