SOLOBALAPAN.COM – Bagi para pencinta audio vintage, tape deck bukan sekadar perangkat pemutar kaset. Di balik suara analog yang khas, tersimpan nilai sejarah, nostalgia, sekaligus kepuasan tersendiri yang membuat para kolektornya rela mengeluarkan biaya untuk merawat perangkat berusia puluhan tahun itu.
Salah satunya Hendric Laksana, 42, penghobi tape deck asal Temanggung, Jawa Tengah. Sejak beberapa tahun terakhir, ia mempercayakan perawatan seluruh koleksi tape deck miliknya kepada Ferry Solo, teknisi spesialis servis audio jadul yang dikenal luas di kalangan komunitas pencinta perangkat vintage.
Hendric mengenal Ferry melalui rekomendasi teman dan media sosial yang sama-sama memiliki ketertarikan terhadap tape deck.
"Saya penikmat tape deck. Kalau sudah bosan kadang saya jual lagi. Jadi mengoleksi sekaligus sesekali berjualan. Tape deck yang saya pakai untuk membuat konten semuanya dikerjakan Pak Ferry," ujarnya kepada wartawan Solobalapan.com melalui WhatsApp.
Baca Juga: Kisah Penjaga Kenangan Audio Jadul di Kota Solo, Tangan Dingin Ferry Sulap Rongsokan Jadi Cuan
Hendric mulai mengoleksi tape deck sejak 2018. Namun, aktivitasnya di dunia audio vintage semakin intens sejak 2025.
Selain sebagai kolektor, ia juga aktif membuat konten mengenai tape deck dan audio lawas melalui akun TikTok @audiokampung. Seluruh perangkat yang tampil dalam kontennya dipastikan dalam kondisi prima berkat perawatan rutin.
Baginya, kualitas suara analog yang dihasilkan tape deck memiliki sensasi berbeda dibandingkan perangkat audio digital masa kini.
"Pada dasarnya saya memang pecinta musik. Menikmati musik lewat tape deck memberikan sensasi yang berbeda," katanya.
Baca Juga: Baru Pertama Nonon Konser Musik, Ini Daftar Barang Yang Boleh Dibawa Masuk Ke Depan Panggung
Menurut Hendric, memiliki tape deck membutuhkan perhatian lebih dibandingkan perangkat elektronik modern.
Salah satu perawatan paling sederhana adalah menyalakan perangkat minimal sekali dalam sepekan agar komponen berbahan karet, seperti belt, tetap lentur dan tidak cepat rusak.
Selain itu, beberapa komponen seperti belt, gear, hingga mekanisme tombol juga perlu diganti secara berkala karena faktor usia.
"Kalau perawatannya ya minimal dihidupkan seminggu sekali. Kalau ada yang aus biasanya ganti belt, gear, lalu servis tombol-tombolnya. Biayanya tergantung part yang diganti, sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 600 ribu," jelasnya.
Baca Juga: Jenuh Di Perjalanan Jauh, Hilangkan Gabutmu Dengan Musik
Meski biaya perawatan tergolong tidak murah, Hendric mengaku tidak mempermasalahkannya. Baginya, nilai emosional jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan.
Ia bahkan masih menyimpan koleksi kaset yang dimilikinya sejak duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2002.
"Kaset-kaset itu memang bukan seri langka, tetapi masih saya simpan sampai sekarang karena punya nilai kenangan," ujarnya.
Menurut Hendric, kecintaannya terhadap musik menjadi alasan utama mengapa ia tetap bertahan di dunia audio vintage, meski perangkat digital kini jauh lebih praktis.
Hendric hanyalah satu dari banyak pelanggan Ferry Solo yang datang dari berbagai daerah. Banyak penghobi rela mengirimkan perangkat mereka ke Solo demi mendapatkan hasil servis yang memuaskan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di tengah dominasi layanan musik digital, perangkat audio analog seperti tape deck masih memiliki komunitas penggemar yang loyal. Bagi mereka, tape deck bukan sekadar alat pemutar musik, melainkan bagian dari sejarah, kenangan, sekaligus hobi yang terus dirawat hingga kini.
Editor : Kabun Triyatno