Dilema Kaum Hawa Soal Nikah Nggak Worth It

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 10:48 WIB
Utas milih salah satu pengguna Thread yang menggambarkan dilema perempuan. (Thread/@aya.aar_)
Utas milih salah satu pengguna Thread yang menggambarkan dilema perempuan. (Thread/@aya.aar_)

SOLOBALAPAN.COM - Sebuah utas di media sosial belakangan ramai menjadi perbincangan, karena dianggap mewakili kegelisahan yang dirasakan banyak perempuan saat ini.

Utas tersebut diawali dengan kalimat, "Nggak usah nikah deh, nggak worth it juga".

Namun, tepat setelahnya muncul pengakuan yang justru menyentuh hati banyak orang.

"But then I remember, my mom's doa has always been about me finding a good husband".

Baca Juga: Mengapa Lokomotif Mengeluarkan Asap Hitam? Ini Penjelasan di Baliknya

Kalimat sederhana itu memantik banyak tanggapan dari warganet.

Bagi sebagian perempuan, persoalannya bukan lagi soal ingin atau tidak ingin menikah.

Di tengah maraknya cerita tentang perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga beban mental yang kerap dibagikan di media sosial, muncul rasa ragu apakah pernikahan masih menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan.

Namun, di balik keraguan itu, masih tersimpan harapan untuk suatu hari dipertemukan dengan pasangan yang baik, seperti doa yang selama ini dipanjatkan oleh orang tua mereka.

Baca Juga: On This Day: 11 Momen Penting Pada Tanggal 1 Agustus, Ada Teror Bom Jakarta Dan Penemuan Oksigen

Kolom komentar pun dipenuhi kisah-kisah serupa.

Banyak warganet mengaku bukan tidak ingin menikah, melainkan merasa semakin sulit menemukan seseorang yang benar-benar cocok untuk diajak membangun kehidupan bersama.

Salah satu komentar yang paling banyak mendapat perhatian datang dari seorang warganet yang membagikan pengalaman pribadinya.

"Been there. Walau nggak bilang 'nggak worth it', tapi ngerasa sulit banget dapat yang match di akhir zaman kayak gini. Pas mau umrah bahkan nggak masuk list doa, tapi mama ngingetin terus buat minta jodoh yang baik dunia akhirat. Bener-bener diingetin tiap hari selama di Mekkah dan Madinah tiga minggu. Pas terucap doa di Multazam dan di Rawdah, tiba-tiba nangis sesenggukan pas minta ini. Ternyata ya di lubuk hati yang terdalam tuh mau nikah, cuma belum ketemu yang terbaik aja".

Komentar tersebut menuai banyak respons karena dianggap mewakili perasaan yang selama ini sulit diungkapkan.

Banyak perempuan menyadari bahwa mereka sebenarnya masih memiliki keinginan untuk membangun keluarga.

Mereka ingin memiliki pasangan yang dapat menjadi teman hidup, ingin merasakan kehadiran anak, hingga suatu hari dipanggil dengan sebutan "Ibu".

Baca Juga: Sejarah Kereta Api Pengangkut Garam, Ketika Rel Menjadi Jalur Distribusi "Emas Putih"

Namun, impian itu kerap berbenturan dengan rasa takut salah memilih pasangan dan kekhawatiran menghadapi berbagai risiko dalam kehidupan rumah tangga.

Fenomena ini juga sejalan dengan perubahan cara pandang terhadap pernikahan.

Jika dahulu menikah di usia muda sering dianggap sebagai pencapaian yang perlu segera diraih, kini banyak perempuan memilih menyelesaikan pendidikan, membangun karier, serta mempersiapkan diri secara finansial dan emosional terlebih dahulu.

Di saat yang sama, standar dalam memilih pasangan pun ikut berubah.

Bukan lagi sekadar mencari seseorang untuk dinikahi, melainkan sosok yang mampu menjadi rekan hidup, berbagi tanggung jawab, serta menciptakan hubungan yang sehat dan saling mendukung.

Pada akhirnya, utas tersebut menyentuh banyak orang karena menggambarkan konflik batin yang mungkin dirasakan sebagian perempuan saat ini.

Di balik kalimat "nggak usah nikah deh, nggak worth it juga", ternyata masih ada harapan yang diam-diam disimpan.

Bagi sebagian perempuan, yang dipertanyakan bukanlah pernikahan itu sendiri, melainkan apakah suatu hari nanti mereka akan dipertemukan dengan seseorang yang tepat untuk menjadi teman hidup dunia dan akhirat. (rastri rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
dilema jodoh nikah pernikahan perempuan