SOLOBALAPAN.COM – Gaslighting tidak selalu hadir dalam suatu masalah atau pertengkaran besar. Dalam kehidupan sehari-hari kebiasaan ini kadan hadir bahkan tanpa disadari.
Manipulasi emosional ini terkadang justru hadir dalam percakapan-percakapan sederhana atau tidak sengaja.
Kalimat seperti, “Kamu saja yang terlalu sensitif.”, “Mungkin kamu yang salah ingat.”, “Aku tidak pernah bilang begitu. ” bisa menjadi bagian dari pola komunikasi yang membuat seseorang perlahan meragukan perasaan dan ingatannya sendiri.
Istilah gaslighting merujuk pada bentuk manipulasi emosi atau psikologis agar orang lain meragukan kemampuan, persepsi, ingatan, atau penilaiannya dalam suatu keadaan tertentu.
Baca Juga: Shenina Cinnamon dan Angga Yunanda Ungkap Kelahiran Sang Buah Hati
Jika terjadi berulang, korban gaslighting ini dapat kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Salah satu hal yang membuat perilaku ini sulit dikenali adalah karena berlangsungnya tidak harus berupa bentakan ataupun ancaman yang cenderung manipulatif.
Manipulasi ini dapat berupa pengulangan pola percakapan yang dapat mengubah cara berpikir seseorang terhadap suatu keadaan.
Satu kalimat saja tidak langsung membuat seseorang sadar telah melakukan gaslighting.
Tapi apabila sebuah kalimat manipulatif itu terus diucapkan untuk menyangkal kejadian, memutarbalikkan fakta, hingga melimpahkan kesalahan, maka pola percakapannya perlu diperhatikan.
Yang perlu diperhatikan adalah pola percakapan.
Saat terjadi masalah, alih alih membahas masalah yang terjadi, pelaku gaslighting akan mengubah alur pembicaraan menjadi “siapa yang salah di sini?”. Persoalan awal justru ditinggalkan untuk memenuhi ego orang yang merasa terluka.
Pola serupa muncul ketika pelaku mengatakan “aku tidak pernah berbicara begitu”, untuk megalihkan pembicaraan. Akibatnya, korban merasa “apa iya aku yang salah ingat”, dan berakhir meragukan ingatannya.
Meskipun begitu, tidak semua contoh kalimat tersebut digunakan untuk memanipulasi. Bisa saja fakta terjadinya memang seperti itu.
Baca Juga: Biasa Tampil di Depan Puluhan Ribu Suporter, Marselino dan Ragnar Malah Gugup Saat Coba G-Swing
Hanya memang terdapat perbedaan pendapat dan pandangan terhadap suatu kejadian. Kalimat-kalimat tersebut dapat dianggap manipulatif apabila diketahui keseluruhan percakapan yang berlangsung.
Perbedaan pandangan dan pendapat merupakan hal wajar dalam suatu komunikasi.
Hal yang tidak wajar adalah apabila salah satu pihak selalu menyangkal, memutarbalikkan fakta, tidak bertanggungjawab, serta selalu ingin membuat pihak yang lain merasa salah atau meragukan dirinya sendiri.
Karena itu, peristiwa gaslighting tidak bisa hanya disimpulkan dengan satu atau dua kalimat percakapan.
Untuk mengenalinya kita harus tahu apa yang terjadi setelahnya, apa permasalahan yang diselesaikan? Apakah kedua belah pihak mengakui kesalahan?
Apakah salah satu pihak yang keberatan jutru yang meminta maaf? Dengan begitu baru dapat disimpulkan apakah dalam percakapan tersebut terjadi gaslighting.
Komunikasi yang sehat bukan berarti kedua belah pihak harus selalu sepakat.
Akan tetapi bagaimana kedua belah pihak tersebut dapat menciptakan ruang untuk saling menghargai, menerima, dan menghormati tanpa harus membuat salah satu pihak merasa selalu bersalah. (rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto