Tren Parfum Merebak di Kalangan Gen Alpha, Antara Fashion Dan FOMO

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:02 WIB
Kalangan Gen Alpha yang menyukai parfum. (AI Generated)
Kalangan Gen Alpha yang menyukai parfum. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Di tengah berbagai tren yang berkembang di media sosial, muncul satu fenomena yang mulai menarik perhatian.

Gen Alpha cenderung menyukai parfum.

Jika sebelumnya produk wewangian identik dengan remaja dan dewasa, kini anak-anak justru mulai mengenal berbagai merek parfum, memahami karakter aromanya, bahkan mengikuti perkembangan produk yang sedang populer.

Fenomena tersebut terlihat dari banyaknya konten di TikTok, Instagram, maupun YouTube yang menampilkan ulasan parfum oleh kreator muda.

Tidak sedikit anak-anak yang mampu menyebutkan nama merek, membedakan aroma manis, segar, hingga woody, serta memberikan penilaian mengenai ketahanan parfum layaknya seorang reviewer.

Di berbagai pusat perbelanjaan, toko kosmetik, hingga gerai parfum lokal, kehadiran anak-anak yang berburu parfum bersama orang tua juga semakin mudah ditemui.

Sebagian datang karena penasaran setelah melihat ulasan di media sosial, sementara yang lain menjadikan parfum sebagai salah satu barang yang ingin dimiliki layaknya aksesori penunjang penampilan.

Baca Juga: Jejak Aset Bank Harapan Sentosa Masih Tersebar di Solo

"Anak saya hampir selalu mengajak saya ke toko kosmetik untuk mencari parfum yang sedang dia inginkan. Padahal, di rumah sudah ada banyak parfum yang pernah dibeli. Saya juga heran, kok dia bisa tahu banyak merek dan jenis parfum. Setelah saya perhatikan, ternyata sebagian besar dia mengetahuinya dari media sosial dan teman-temannya," ujar Rina yang mengaku buah hatinya mulai menyukai parfum.

Sejumlah merek parfum lokal pun ikut menjadi sorotan karena kerap muncul di media sosial.

Popularitas produk-produk tersebut tidak hanya didorong oleh promosi dari kreator konten, tetapi juga rekomendasi antarteman yang membuat tren penggunaan parfum semakin cepat menyebar di kalangan Generasi Alpha.

Bagi sebagian anak, memakai parfum bukan lagi sekadar untuk membuat tubuh harum.

Wewangian mulai dipandang sebagai bagian dari identitas diri dan cara mengekspresikan kepribadian.

Mereka cenderung memilih aroma yang dianggap sesuai dengan karakter maupun suasana hati, sebagaimana tren yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada kalangan remaja.

Baca Juga: Salah yang Sulit Dicari Penggantinya, Liverpool Pantau Barcola hingga Olise

Perubahan pola konsumsi ini tidak lepas dari besarnya pengaruh media sosial.

Algoritma platform digital membuat anak-anak lebih mudah menemukan konten seputar gaya hidup, termasuk rekomendasi parfum, ulasan aroma, hingga tren koleksi produk yang sedang viral. Paparan tersebut turut membentuk preferensi mereka terhadap suatu merek.

Selain media sosial, lingkungan pertemanan juga memiliki peran penting dalam mendorong tren tersebut.

Tidak sedikit anak yang tertarik membeli parfum karena melihat teman sebayanya menggunakan produk tertentu atau membicarakan aroma yang sedang populer. Kondisi ini membuat parfum perlahan menjadi bagian dari budaya pergaulan di kalangan Generasi Alpha.

Di sisi lain, fenomena tersebut memunculkan beragam tanggapan dari orang tua. Sebagian menganggap penggunaan parfum sebagai bentuk pembelajaran menjaga kebersihan diri sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak saat beraktivitas di sekolah maupun di lingkungan sosial.

Namun, ada pula yang mulai khawatir apabila kebiasaan tersebut berkembang menjadi perilaku konsumtif.

Baca Juga: Salah yang Sulit Dicari Penggantinya, Liverpool Pantau Barcola hingga Olise

Para pengamat juga menilai tren ini menunjukkan adanya perubahan karakter konsumen sejak usia dini.

Generasi Alpha tumbuh di era digital dengan akses informasi yang sangat cepat sehingga lebih mudah mengenal berbagai produk gaya hidup dibandingkan generasi sebelumnya. Akibatnya, keputusan membeli suatu produk sering kali dipengaruhi oleh tren yang beredar di media sosial.

Dari sisi industri, fenomena tersebut membuka peluang baru bagi produsen parfum, khususnya merek lokal.

Meningkatnya minat dari kelompok usia yang lebih muda dapat memperluas pasar sekaligus mendorong lahirnya inovasi produk dengan aroma yang lebih ringan, kemasan menarik, dan harga yang terjangkau.

Namun, strategi pemasaran kepada anak-anak juga perlu memperhatikan aspek etika dan perlindungan konsumen.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa orang tua tetap memiliki peran penting dalam mendampingi anak saat mengikuti tren.

Baca Juga: Kian Marak Digunakan, AI Menghapus Batas antara Visual Produk dan Realitas

Edukasi mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dinilai penting agar anak tidak menjadikan kepemilikan suatu produk sebagai tolok ukur status sosial atau penerimaan dalam lingkungan pergaulan.

Fenomena Generasi Alpha yang mulai menggemari parfum menjadi gambaran bagaimana perubahan gaya hidup terus terjadi seiring berkembangnya teknologi digital.

Di balik botol-botol wewangian yang kini digemari anak-anak, tersimpan dinamika baru mengenai pengaruh media sosial, perilaku konsumsi, serta pembentukan identitas generasi yang tumbuh di era serba terkoneksi.

Untuk memahami fenomena ini secara utuh, diperlukan pandangan dari psikolog, akademisi, pelaku industri, orang tua, maupun Generasi Alpha itu sendiri. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Genalpha viral parfum medsos TREND