Benarkah Thailand Memiliki 18 Gender? Memahami Ragam Identitas Gender Dalam Budaya Negeri Gajah Putih

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 20:00 WIB
Logo Gender Wanita dan Pria. (AI Generated)
Logo gender pria dan wanita. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Thailand kembali menjadi perbincangan di media sosial, setelah muncul klaim yang menyebut negara tersebut memiliki 18 gender.

Informasi itu ramai dibagikan melalui berbagai platform digital dan memicu rasa penasaran masyarakat, termasuk di Indonesia.

Banyak warganet mempertanyakan apakah angka tersebut merupakan pengakuan resmi pemerintah Thailand atau sekadar istilah yang berkembang di tengah masyarakat.

Fenomena tersebut semakin menarik perhatian karena Thailand selama ini dikenal sebagai salah satu negara di Asia yang relatif terbuka terhadap keberagaman identitas gender.

Kehadiran komunitas LGBTQ+ yang cukup terlihat di ruang publik, industri hiburan, sektor pariwisata, hingga dunia mode membuat negara berjuluk Negeri Gajah Putih itu kerap dianggap memiliki budaya yang lebih inklusif dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Spotify Bukan Satu-satunya, Ini 4 Platform Streaming Musik yang Layak Dicoba

Meski demikian, anggapan bahwa Thailand secara resmi mengakui tepat 18 gender tidak sepenuhnya tepat.

Istilah "18 gender" lebih banyak merujuk pada berbagai sebutan yang berkembang dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Thailand untuk menggambarkan identitas gender, ekspresi gender, maupun orientasi seksual.

Dengan kata lain, istilah tersebut bukan merupakan daftar kategori gender yang ditetapkan secara resmi dalam sistem hukum negara.

Berikut 8 jenis gender yang diakui di Thailand: 

  1. Pria
  2. Wanita
  3. Tom (perempuan yang berpenampilan Tomboy)
  4. Dee (Seorang wanita Feminim yang Menyukai Wanita Tomboy)
  5. Tom Gay (Seorang Wanita yang menyukai Wanita Feminim dan Tomboy)
  6. Tom Gay King (Wanita yang bertubuh gagah tetapi menyukai Wanita Feminim dan Tom)
  7. Bi (Wanita yang menyukai semua Gender)
  8. Boat (Seorang Pria yang menyukai Wanita dan Pria)
  9. Gay Queen (Seorang Pria Feminim yang menyukai pria)
  10. Gay King (Seorang Pria gagah yang menyukai pria)
  11. Tom Gay Queen (Seorang tom yang merupakan tom gay king atau tom gay queen)
  12.  Tom Gay Two Way (Seorang tom yang merupakan tom gay king atau tom gay queen)
  13. Lesbian (Kondisi Wanita yang menyukai sesama wanita)
  14. Kathoey atau Lady Boy (Pria yang operasi plastic menjadi Wanita)
  15. Adam (Pria yang operasi plastik menjadi wanita menyukai wanita tomboy)
  16. Angee (Panggilan untuk lady boy yang menyukai tom.)
  17. Cherry (Seorang Wanita yang menyukai Pria gay dan lady boy)
  18. Samyaan (Seorang wanita yang suka tom dan lesbian atau wanita.

Pengakuan terhadap keberagaman gender di Thailand tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan memiliki akar sejarah dan budaya yang telah berkembang selama berabad-abad.

Sejumlah kajian menyebutkan bahwa masyarakat Thailand sejak lama mengenal konsep keberagaman identitas gender, yang dipengaruhi oleh perpaduan nilai budaya lokal, kepercayaan tradisional, serta perkembangan sosial yang terjadi dari generasi ke generasi.

Sebelum agama Buddha menjadi agama mayoritas, masyarakat di wilayah Thailand menganut berbagai kepercayaan tradisional, termasuk animisme yang meyakini keberadaan roh dalam berbagai bentuk kehidupan.

Dalam sejumlah kajian antropologi, sistem kepercayaan tersebut dinilai turut membentuk cara pandang masyarakat yang relatif lebih terbuka terhadap keberagaman identitas dan ekspresi gender, meskipun tidak dapat disimpulkan sebagai satu-satunya faktor yang memengaruhi penerimaan tersebut.

Baca Juga: For Revenge Rilis 'I Miss You Every Brand New Day', Resmi Jadi Original Song Film Spider-Man: Brand New Day

Salah satu identitas yang paling dikenal di Thailand adalah kathoey, istilah yang umumnya digunakan untuk menyebut perempuan transgender atau individu yang lahir sebagai laki-laki tetapi mengekspresikan diri sebagai perempuan.

Keberadaan kathoey telah tercatat dalam sejarah Thailand dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat selama berabad-abad.

Dalam catatan sejarah, kathoey kerap terlibat dalam berbagai aktivitas budaya dan seni, mulai dari pertunjukan hiburan hingga sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan tradisi kerajaan pada masa lampau.

Mereka juga dikenal memiliki keahlian di bidang tata rias, tata busana, seni pertunjukan, serta kerajinan tangan, sehingga keberadaannya telah lama menjadi bagian dari dinamika sosial dan budaya Thailand.

Baca Juga: Dinda Kanyadewi Perankan Sosok Tertindas di Serial Manis di Bibir, Beda dari Mischa

Perkembangan tersebut tidak terlepas dari perubahan sosial yang berlangsung selama beberapa dekade terakhir.

Meningkatnya kesadaran akan hak asasi manusia, akses terhadap pendidikan, serta pengaruh industri hiburan dan pariwisata turut membentuk penerimaan masyarakat terhadap keberagaman identitas.

Meski demikian, kelompok LGBTQ+ di Thailand juga masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait stigma sosial dan kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan.

Di sisi lain, pemerintah Thailand terus menunjukkan langkah menuju kebijakan yang lebih inklusif terhadap kelompok LGBTQ+.

Berbagai pembaruan regulasi mengenai hak pasangan sesama jenis dan perlindungan terhadap keberagaman menjadi sorotan dunia internasional.

Perkembangan tersebut semakin menguatkan citra Thailand sebagai salah satu negara yang cukup progresif dalam isu keberagaman gender di kawasan Asia. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Gender wisata thailand bangkok thailand LGBTQ