SOLOBALAPAN.COM - "Pernah dibalas chat berjam-jam?
Ya sudah, aku juga balasnya selama itu."
Kalimat seperti ini belakangan sering muncul di media sosial.
Banyak warganet menyebutnya sebagai mirroring treatment, yaitu membalas perlakuan seseorang dengan perlakuan yang sama.
Baca Juga: Dulu Menikah Muda Terasa Wajar, Generasi Sekarang Cenderung Menunggu
Jika seseorang bersikap cuek, ia akan dibalas cuek. Jika seseorang jarang memberi kabar, perlakuan serupa pun diberikan sebagai bentuk respons.
Cara ini dianggap mampu membuat orang lain merasakan bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.
Fenomena ini banyak ditemukan dalam hubungan pertemanan maupun percintaan. Tidak sedikit yang mengaku sengaja melakukan mirroring treatment karena merasa sudah lelah menjelaskan perasaannya secara langsung.
Bagi mereka, membalas perlakuan dengan cara yang sama dianggap lebih efektif agar lawan bicara menyadari kesalahannya. Namun, benarkah cara tersebut mampu memperbaiki hubungan, atau justru memperpanjang konflik?
Meski populer di media sosial, mirroring treatment sebenarnya bukan istilah psikologi yang baku.
Dalam psikologi sosial, perilaku tersebut dapat dipahami melalui konsep reciprocity atau timbal balik, yaitu kecenderungan seseorang merespons perlakuan yang diterimanya dengan perilaku yang serupa.
Respons ini bisa muncul sebagai upaya mencari keadilan, melindungi diri, atau berharap orang lain memahami pengalaman yang sedang dirasakan.
Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunikasi tidak langsung tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa seseorang terkadang memilih cara-cara tidak langsung, termasuk perilaku pasif-agresif, untuk menguji kepedulian atau komitmen orang lain.
Sayangnya, strategi tersebut justru sering memicu kesalahpahaman dan menurunkan kualitas hubungan apabila kedua belah pihak sama-sama memilih saling membalas daripada berkomunikasi secara terbuka.
Baca Juga: Dinda Kanyadewi Perankan Sosok Tertindas di Serial Manis di Bibir, Beda dari Mischa
Temuan serupa juga disampaikan dalam Journal of Experimental Social Psychology.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa komunikasi yang dilakukan secara terbuka cenderung lebih efektif dalam membangun kerja sama dan menyelesaikan konflik dibanding membalas perlakuan dengan tindakan serupa.
Dengan kata lain, seseorang belum tentu memahami maksud di balik mirroring treatment, bahkan bisa saja menganggap perlakuan tersebut sebagai tanda bahwa hubungan memang mulai merenggang.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara berkomunikasi di era digital.
Jika dahulu rasa kecewa lebih sering disampaikan melalui percakapan langsung, kini tidak sedikit orang yang memilih menyampaikan pesan lewat tindakan.
Respons yang diberikan menjadi semacam "kode" agar lawan bicara menyadari kesalahannya tanpa harus dijelaskan secara verbal.
Karena itu, mirroring treatment menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji. Di satu sisi, banyak orang merasa cara ini membuat orang lain akhirnya "merasakan sendiri".
Di sisi lain, psikologi justru menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka agar pesan tidak berhenti pada asumsi.
Lantas, mengapa semakin banyak orang memilih mirroring treatment, dan apakah cara tersebut benar-benar efektif untuk menyelesaikan konflik? Pertanyaan inilah yang menarik untuk dikupas bersama psikolog. (rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto