SOLOBALAPAN.COM - “Umur segini kok belum nikah?”
"Bapak dan ibu dulu menikah umur 20 tahun, kenapa kamu belum?"
Kalimat seperti ini mungkin tidak asing didengar banyak anak muda.
Generasi orang tua memang banyak yang menikah di usia awal 20-an, bahkan tidak sedikit yang telah memiliki anak sebelum menginjak usia 25 tahun.
Sementara itu, generasi sekarang justru cenderung menunda pernikahan hingga usia akhir 20-an atau bahkan 30-an.
Perbedaan ini kerap dianggap sebagai perubahan pola pikir, padahal ada perubahan sosial yang jauh lebih besar di baliknya.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan sistem dukungan setelah menikah.
Pada masa lalu, pasangan muda umumnya tidak langsung hidup sepenuhnya mandiri.
Baca Juga: Mengenal Juru Langsir KAI, Pekerjaan di Balik Aman dan Tepat Waktunya Kereta Api
Banyak yang masih tinggal bersama orang tua atau keluarga besar, sehingga urusan tempat tinggal, pengasuhan anak, hingga kebutuhan sehari-hari dapat dibantu oleh keluarga.
Budaya gotong royong dan ikatan keluarga besar juga membuat beban membangun rumah tangga terasa lebih ringan dibanding sekarang.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Banyak pasangan muda dituntut untuk mandiri sejak awal pernikahan.
Mereka harus memikirkan biaya tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, hingga pengasuhan anak dengan sumber daya yang lebih terbatas.
Mobilitas pekerjaan yang tinggi juga membuat banyak pasangan tinggal jauh dari orang tua, sehingga dukungan keluarga tidak selalu mudah diperoleh.
Faktor ekonomi turut menjadi pertimbangan.
Harga rumah yang terus meningkat, biaya pendidikan, biaya kesehatan, hingga kebutuhan membesarkan anak membuat banyak orang merasa perlu memiliki kondisi finansial yang lebih stabil sebelum menikah.
Di sisi lain, pendidikan yang semakin panjang dan persaingan dunia kerja juga membuat sebagian anak muda memilih menyelesaikan studi atau membangun karier terlebih dahulu.
Selain faktor ekonomi dan perubahan pola dukungan keluarga, pendidikan juga menjadi salah satu penyebab bergesernya usia menikah.
Jika beberapa dekade lalu banyak orang menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sekolah menengah, kini semakin banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi, bahkan hingga program magister.
Proses pendidikan yang lebih panjang membuat banyak anak muda memilih menyelesaikan studi terlebih dahulu sebelum membangun rumah tangga.
Tak hanya itu, pengalaman selama menempuh pendidikan juga turut mengubah cara pandang terhadap pernikahan.
Banyak anak muda kini memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, membangun karier, hingga mengenal diri sendiri sebelum memutuskan menikah.
Perubahan cara pandang terhadap pernikahan juga ikut berpengaruh.
Jika dahulu menikah sering dipandang sebagai tahap awal menuju kedewasaan, kini banyak orang menganggap pernikahan sebagai langkah yang memerlukan kesiapan emosional, finansial, dan mental.
Tidak sedikit pasangan yang merasa membangun rumah tangga bukan hanya soal siap menikah, tetapi juga siap menjadi orang tua.
Sejumlah penelitian menunjukkan tren tersebut.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata usia kawin pertama di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga: Lagu Kicau Mania Viral Di Luar Negeri, "Get Your Money Up" Jadi Running Joke Warganet
Sementara itu, berbagai penelitian sosiologi dan demografi menjelaskan bahwa meningkatnya tingkat pendidikan, urbanisasi, partisipasi perempuan di dunia kerja, serta perubahan kondisi ekonomi menjadi faktor yang mendorong masyarakat menunda usia pernikahan.
Organisasi seperti BKKBN juga selama beberapa tahun terakhir mengampanyekan pentingnya pendewasaan usia perkawinan agar pasangan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam membangun keluarga.
Pada akhirnya, perbedaan usia menikah antar generasi bukan semata-mata karena generasi sekarang enggan berkomitmen.
Kondisi sosial, ekonomi, dan pola dukungan keluarga yang berubah membuat keputusan menikah menjadi pertimbangan yang jauh lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu.
Dulu, membangun rumah tangga sering kali dilakukan bersama keluarga besar.
Kini, banyak pasangan harus memulainya dengan mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Perubahan itulah yang membuat usia menikah ikut bergeser seiring perubahan zaman. (rastri rafiarum)
Editor : Ferry Ardi Susanto