SOLOBALAPAN.COM – Perunggu, band lokal asal Indonesia ini, kini rilisan fisiknya diburu oleh para kolektor musik.
Memiliki sebutan band bapak bapak pulang kantor, Perunggu telah sukses membuat kalangan masyarakat berantusias dalam memburu koleksi rilisan fisik dari band tersebut.
Band yang terbentuk pada tahun 2019 ini beranggotakan tiga orang didalamnya, mereka telah sukses merilis dua album studio, dengan judul, “Memorandum” dan “Dalam Dinamika”.
Mereka memiliki sebutan band bapak bapak pulang kantor karena aktivitas pekerjaan mereka, yang selepas itu dilanjutkan dengan manggung dan bermain musik.
Baca Juga: Dea Annisa Resmi Bertunangan dengan Achmad Zacky Setelah Dua Tahun Pacaran
Terlepas dari istilah tersebut, saat ini rilisan fisik mereka banyak diburu oleh para kalangan gen z dan kolektor. Salah satu rilisan fisiknya yang banyak digemari adalah piringan hitam.
Piringan hitam merupakan format audio jadul yang digunakan untuk mendengarkan musik, seperti namanya, bentuknya bundar pipih dan berwarna hitam.
Piringan hitam dari band tersebut kini menjadi salah satu barang yang memiliki nilai jual nominal yang tinggi.
Album pertama mereka yang berjudul “Memorandum” merupakan maha karya yang merajai skena musik indie lokal.
Baca Juga: Amanda Manopo Alami Kulit Kering hingga Rambut Rontok Saat Menyusui
Album “Memorandum” dirilis oleh independen label asal Bandung, Disaster Records.
Harga retailnya sekitar empat ratus ribu rupiah, namun saat kita mengunjungi laman marketplace, di sana kita akan melihat perbedaan harga yang cukup terasa, tak jarang juga hingga menyentuh angka jutaan.
Nilai tersebut tak lepas dari keterbatasan peredaran dari album "Memorandum", karena dicetak terbatas dan permintaan pasar yang tinggi.
Hingga muncullah penjual dadakan yang "menggoreng" harga dari album "Memorandum".
Faktor tahun rilis juga bisa mempengaruhi harga dari suatu album, jika suatu album telah dirilis dalam waktu yang lama, bisa dipastikan harganya akan berbeda dengan cetakan berikutnya.
Hal itu biasa terjadi karena faktor apa yang didapat bisa berbeda, contohnya, mungkin dirilisan awal kita bisa mendapatkan gift berupa kartu ucapan atau poster.
Namun saat kita membeli cetakan selanjutnya, yang kita dapat hanyalah rilisan fisik tersebut. Tidak ada gift kartu ucapan atau poster.
Selain sukses dengan tawaran manggung yang banyak di tiap kota, secara tidak langsung Perunggu perlahan membawa kalangan gen Z untuk mulai mencoba mengoleksi dan membeli rilisan fisik, sebagai bentuk dukungan nyata kepada musisi. (ramadhan pujo kusumo)
Editor : Ferry Ardi Susanto