Cuaca Panas Bisa Bikin Tanaman Hidroponik Stres, Ini Cara Merawatnya

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 12:28 WIB
Tanaman selada di Mantri Hidroponik, Baki, Sukoharjo, tetap tumbuh optimal di musim kemarau berkat perawatan rutin, seperti menjaga suhu air dan pH nutrisi. (Rahma Azra Calista/Solobalapan.com)
Tanaman selada di Mantri Hidroponik, Baki, Sukoharjo, tetap tumbuh optimal di musim kemarau berkat perawatan rutin, seperti menjaga suhu air dan pH nutrisi. (Rahma Azra Calista/Solobalapan.com)

SOLOBALAPAN.COM - Tanaman hidroponik yang tiba-tiba layu saat siang hari sering kali dianggap kekurangan air. Padahal, penyebabnya belum tentu karena volume air di dalam tandon berkurang.

Saat musim kemarau, suhu air yang meningkat justru menjadi salah satu penyebab tanaman mengalami stres. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan akar membusuk.

Kondisi itu perlu menjadi perhatian karena suhu udara di Indonesia memang cenderung meningkat selama musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara rata-rata Indonesia pada Juni 2026 mencapai 27,3 derajat Celsius atau lebih tinggi 0,7 derajat Celsius dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991-2020.

Baca Juga: Solo Anggrek Festival 2026 Suguhkan Koleksi Bernilai Fantastis, Harga Jual Tembus Puluhan Juta

Peningkatan suhu tersebut turut memengaruhi budidaya tanaman, termasuk hidroponik yang sangat bergantung pada kualitas air sebagai media tanam.

Pemilik Mantri Hidroponik Agus Sukarno mengatakan, menjaga suhu air di dalam tandon menjadi tantangan terbesar dalam merawat tanaman hidroponik saat musim kemarau.

Menurutnya, suhu air yang terlalu tinggi akan mengurangi kandungan oksigen di dalam air sehingga mengganggu pertumbuhan akar.

Baca Juga: Membeli Waktu di Tengah Kesibukan: Mengapa Orang Rela Membayar Kemudahan?

"Kalau suhu air semakin tinggi, kandungan oksigen di dalam air juga semakin berkurang," ujar Agus Sukarno, Senin (27/7/2026).

Ia menjelaskan, volume air di dalam tandon harus selalu dipantau. Saat air mulai berkurang, sebaiknya segera ditambahkan agar suhu air tetap stabil.

Jumlah lubang tanam juga perlu disesuaikan dengan kapasitas tandon sehingga kebutuhan air setiap tanaman tetap terpenuhi.

Baca Juga: Apa Itu Londo Ireng? Asal Usul Istilah Kontroversial yang Dipakai Presiden Prabowo ke Jurnalis dan LSM

Selain itu, kelembapan lingkungan sekitar tanaman juga perlu dijaga, terutama saat cuaca sedang terik. Menurut Agus, area di sekitar instalasi hidroponik dapat disemprot air untuk membantu menjaga kelembapan sehingga tanaman tidak mudah mengalami stres akibat suhu yang tinggi.

Perubahan cuaca juga memengaruhi kondisi larutan nutrisi. Karena itu, pH air perlu dicek secara rutin, bahkan lebih dari sekali dalam sehari, agar tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman.

"Biasanya saya cek pagi, lalu siang dicek lagi karena pH bisa berubah saat cuaca panas," jelasnya.

Baca Juga: Kereta Api Tercepat di Indonesia, Dari Whoosh hingga Argo Bromo Anggrek

Selain pH, konsentrasi nutrisi juga perlu diperhatikan. Agus mengaku biasanya menjaga nutrisi tanaman di kisaran 600 hingga 1.000 ppm selama musim kemarau.

Namun, menurutnya, pengaturan nutrisi tidak akan optimal jika suhu air di dalam tandon terlalu tinggi karena akar akan kesulitan menyerap nutrisi.

Ia juga menyarankan perawatan dilakukan pada waktu yang tepat, yakni pagi hari sebelum pukul 09.00 atau sore hari sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 ketika intensitas sinar matahari mulai menurun.

"Kalau siang tanaman lebih mudah stres karena mataharinya sedang terik," ungkapnya.

Baca Juga: Sosok Ikhwan Ali Tanamal: Wonderkid Tulehu yang Dikontrak Persib Bandung Hingga 2028, Pernah Dipinjam Persis Solo

Tanaman yang mulai mengalami stres umumnya menunjukkan gejala berupa daun yang layu pada siang hari. Agus menuturkan, kondisi tersebut menjadi tanda awal yang tidak boleh diabaikan.

Jika suhu air terus meningkat, akar tanaman akan kekurangan oksigen hingga akhirnya membusuk. Dampaknya, tanaman tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal, daun menguning, lalu perlahan mati.

Bagi masyarakat yang baru ingin mencoba hidroponik, Agus menyarankan agar tidak terburu-buru menanam jenis tanaman yang membutuhkan perawatan lebih rumit.

Baca Juga: Cetak Sejarah di Chicago! Tim Putri DBL All-Star Juara Tak Terkalahkan, Tim Putra Amankan Peringkat Tiga

Ia menyarankan pemula memulai dari sayuran yang lebih mudah dibudidayakan, seperti kangkung, sawi, atau pakcoy, sambil mempelajari dasar-dasar perawatan hidroponik.

"Mulai saja dari yang sederhana dan jangan langsung banyak. Perbanyak belajar dulu. Sekarang sudah banyak materi hidroponik untuk pemula di YouTube," pungkasnya.

Editor : Adi Pras
tanaman hidroponik kemarau perawatan berkebun