Bukan Lagi Anak, Kini Orang Tua Juga Butuh Literasi Digital

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi orang tua yang sibuk bermain ponsel. (AI generated)
Ilustrasi orang tua yang sibuk bermain ponsel. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - "Bu, itu videonya AI."

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin sering terucap.

Dulu, orang tua kerap mengingatkan anak agar tidak terlalu lama bermain ponsel, tidak mudah percaya orang asing di internet, dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial.

Kini, peran itu perlahan bergeser.

Baca Juga: Wonogiri, Kota Gaplek Yang Mulai Kehilangan Pembuatnya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tidak sedikit anak yang justru merasa khawatir melihat orang tuanya begitu mudah mempercayai apa yang muncul di layar.

Fenomena tersebut semakin terasa seiring membanjirnya konten hasil AI di berbagai platform media sosial.

Video yang menampilkan tokoh publik berbicara, rekaman bencana yang tampak nyata, hingga peristiwa yang sebenarnya tidak pernah terjadi dapat dibuat dengan kualitas visual yang sangat meyakinkan.

Sekilas, sulit membedakan mana dokumentasi asli dan mana hasil rekayasa.

Akibatnya, banyak orang langsung menganggap video sebagai bukti, padahal teknologi kini mampu menciptakan "kenyataan" yang sebenarnya tidak pernah ada.

Di banyak keluarga, percakapan baru pun mulai muncul.

"Dek, ini benar tidak?" atau "Katanya AI bilang begini, berarti memang begitu ya?".

Anak yang dulu diminta berhati-hati menggunakan internet, kini justru menjadi tempat bertanya sekaligus pemeriksa fakta bagi orang tuanya.

Bukan karena anak lebih tahu segalanya, melainkan karena mereka terbiasa menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Perubahan ini bukan berarti orang tua lebih mudah tertipu dibandingkan generasi muda. 

Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing.

Generasi yang tumbuh ketika televisi, surat kabar, atau radio menjadi sumber informasi utama kini harus beradaptasi dengan media sosial yang dipenuhi algoritma, video hasil AI, hingga informasi yang dapat menyebar dalam hitungan detik.

Baca Juga: On This Day: 11 Kejadian Penting Pada 26 Juli, Kemerdekaan Liberia Hingga Hari Konservasi Mangrove Sedunia

Di sisi lain, generasi muda tumbuh bersama perkembangan internet sehingga relatif lebih akrab dengan istilah seperti hoaks, deepfake, atau konten buatan AI.

Namun, kedekatan dengan teknologi bukan jaminan seseorang akan selalu benar.

Anak muda pun tidak luput dari risiko percaya begitu saja pada jawaban AI atau informasi yang viral di media sosial.

Bedanya, mereka umumnya lebih terbiasa memeriksa ulang melalui beberapa sumber sebelum menyimpulkan sesuatu.

Kebiasaan inilah yang kini mulai dibutuhkan oleh semua generasi.

Ironisnya, dahulu kekhawatiran terbesar orang tua adalah anak yang terlalu sering menatap layar ponsel.

Kini, sebagian anak justru merasa cemas ketika melihat orang tuanya menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial, menyaksikan video yang belum tentu asli, atau meneruskan informasi tanpa memastikan kebenarannya.

Pergeseran ini menjadi potret bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah dinamika dalam keluarga.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa literasi digital tidak lagi hanya berbicara tentang kemampuan mengoperasikan gawai atau menggunakan aplikasi.

Di era AI, kemampuan yang jauh lebih penting adalah bersikap kritis terhadap informasi. Sebuah video yang tampak nyata belum tentu benar-benar terjadi.

Baca Juga: Jalur Kereta Api Tertua di Indonesia yang Masih Digunakan hingga Kini

Jawaban AI yang terdengar meyakinkan pun belum tentu sepenuhnya akurat. Semua informasi tetap membutuhkan verifikasi.

Pada akhirnya, tantangan di era digital bukan lagi sekadar membatasi waktu bermain gawai, melainkan membangun kebiasaan untuk bertanya sebelum percaya.

Jika dulu orang tua mengajarkan anak agar berhati-hati terhadap dunia maya, kini anak dan orang tua perlu saling mengingatkan.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan semakin canggihnya AI, literasi digital bukan lagi milik satu generasi, melainkan tanggung jawab bersama. (rastri rafiarum/fer )

Editor : Ferry Ardi Susanto
fenomena sosial keluarga modernisasi orang tua literasi digital