WOMNOGIRI, SOLOBALAPAN - Di beberapa rumah di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, suara tatah yang menghantam lembaran kulit masih terdengar nyaring. Di tangan Bambang Riyadi, lembaran kulit sapi dan kerbau perlahan berubah menjadi tokoh-tokoh pewayangan yang telah hidup selama ratusan tahun.
Di tengah derasnya arus modernisasi, ia memilih tetap bertahan sebagai pengrajin, menjaga napas wayang kulit agar terus hidup dari generasi ke generasi.
Bambang bukan orang baru di dunia pewayangan. Darah seni mengalir dari keluarganya. Sang kakek merupakan seorang dalang sekaligus pengrajin wayang kulit, sedangkan ayahnya melanjutkan profesi sebagai perajin. Sejak duduk di bangku kelas II sekolah dasar, Bambang sudah dikenalkan dengan tatah dan sungging oleh sang ayah.
"Mulai belajar dari kelas dua SD. Sampai SMP masih terus belajar, kemudian saat SMA juga masih ikut membuat wayang," ujarnya.
Kecintaannya terhadap seni semakin tumbuh ketika menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Seni Rupa Solo. Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS), yang semakin menguatkan kemampuan artistiknya dalam menciptakan wayang kulit.
Baca Juga: Tarot Kian Digemari, Mengapa Semakin Banyak Orang Mencoba?
Berbekal pengalaman dan ilmu yang dimiliki, Bambang memutuskan membangun usahanya sendiri pada 2005 dengan mendirikan Sanggar Kayon. Ia memilih berpisah dari usaha keluarga untuk mengembangkan identitas dan kreativitasnya sendiri sebagai pengrajin.
Di sanggar tersebut, Bambang hanya membuat wayang kulit yang memang digunakan dalam pertunjukan. Menurutnya, tokoh-tokoh protagonis seperti Pandawa, Gatotkaca, Janaka, hingga Kresna menjadi tokoh yang paling banyak diminati kolektor untuk dijadikan pajangan. Sementara tokoh-tokoh antagonis umumnya dipesan para dalang yang membutuhkan satu set wayang secara lengkap.
Setiap tokoh membutuhkan waktu pengerjaan yang berbeda. Wayang putri yang berukuran kecil dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu. Tokoh katongan seperti Janaka dan Kresna memerlukan dua minggu, sedangkan tokoh gagahan seperti Gatotkaca membutuhkan sekitar tiga minggu. Wayang berukuran besar seperti tokoh buta dapat dikerjakan selama satu bulan.
Adapun karya yang paling rumit adalah kayon atau gunungan yang membutuhkan waktu hingga dua bulan.
"Yang paling lama itu kayon karena prosesnya lebih rumit, mulai dari pemahatan, pewarnaan sampai ukurannya yang lebih besar," jelasnya.
Harga yang ditawarkan pun beragam. Wayang berukuran kecil dibanderol sekitar Rp 600 ribu, tokoh katongan sekitar Rp1,5 juta, sedangkan kayon dapat mencapai Rp4 juta.
Di balik satu karya wayang, terdapat proses panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat. Kulit sapi atau kerbau yang menjadi bahan utama terlebih dahulu dibentangkan dan dijemur selama tiga hari. Setelah itu kulit dipindahkan ke pentangan bambu untuk dikerok, menghilangkan lemak dan bulu hingga mencapai ketebalan yang sesuai.
Kulit kemudian direndam sebanyak dua kali agar menghasilkan bahan yang kuat, rata, dan awet. Setelah kering, pola tokoh digambar di atas permukaan kulit sebelum memasuki proses pemahatan, pengamplasan, pewarnaan, hingga pemasangan gapit atau gagang wayang.
Bahan baku kulit diperoleh dari berbagai daerah seperti Bantul, Yogyakarta, dan Sukoharjo. Sementara gapit dibuat dari tanduk sapi maupun kerbau yang dibentuk melalui proses pemanasan, pengerokan, hingga penyambungan agar menghasilkan gagang yang kokoh.
Baca Juga: Asal Usul Kampung Setabelan Solo, Tempat Kumpul Pasukan Artileri Keraton Kasunanan Yang Jago Meriam
Menurut Bambang, tahapan yang paling sulit adalah memahat dan mewarnai. Dibutuhkan latihan setidaknya satu hingga dua tahun agar seseorang mampu menguasai teknik tatah dengan baik. Sementara kemampuan mewarnai lebih bergantung pada kepekaan seni yang dimiliki masing-masing pengrajin.
Meski prosesnya panjang dan membutuhkan ketelitian tinggi, hasil karya Bambang telah menembus berbagai negara seperti Taiwan, Amerika Serikat, China, hingga Jepang. Pembelinya berasal dari beragam kalangan, mulai dari kolektor, dosen, hingga pilot. Media sosial, khususnya YouTube, menjadi salah satu sarana promosi yang membantu memperkenalkan karyanya hingga mancanegara.
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan kariernya terjadi pada 2013 ketika ia diundang mengikuti China International Crafts and Cultural Products Expo di China. Dalam ajang yang diikuti peserta dari 33 negara tersebut, Bambang mewakili Indonesia bersama pengrajin batik dan topeng.
Tidak hanya memamerkan hasil karya, ia juga mendemonstrasikan proses pembuatan wayang serta menjelaskan karakter tokoh pewayangan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Mandarin kepada para pengunjung.
"Alhamdulillah waktu itu Indonesia meraih juara pertama. Sepulang dari China, pesanan datang jauh lebih banyak dan nama saya mulai dikenal," kenangnya.
Meski karya-karyanya telah mendunia, Bambang menilai masa depan kerajinan wayang kulit tetap bergantung pada kepedulian generasi muda terhadap budaya.
Menurutnya, pelestarian wayang tidak selalu harus dimulai dengan menjadi pengrajin. Mengenal tokoh-tokoh wayang, menonton pertunjukan, hingga mengoleksi karya wayang sudah menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya sendiri.
"Yang penting generasi muda mengenal dulu. Kalau sudah mengenal biasanya akan suka. Setelah suka akan muncul rasa memiliki. Dari situ nanti akan muncul orang-orang yang mau melestarikan bahkan menjadi pengrajin," katanya.
Sebagai upaya menjaga regenerasi, Desa Kepuhsari kini memiliki sekitar 50 pengrajin wayang kulit yang menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat. Selain itu, SMP Negeri 2 Manyaran juga membuka mata pelajaran muatan lokal tatah sungging yang mengajarkan proses pembuatan wayang dari awal hingga akhir. Masyarakat juga dapat belajar secara gratis melalui sanggar-sanggar yang ada di desa tersebut.
Baca Juga: Pasar Bahulak Plupuh Sragen, Tempat Menikmati Suasana Pasar Tempo Dulu
Bambang sendiri terus berinovasi agar wayang tetap diminati. Selain mempertahankan bentuk pakem, ia menerima permintaan khusus dari kolektor untuk memodifikasi motif busana wayang maupun mengembangkan desain kayon dengan berbagai variasi, seperti kayon blumbangan, kayon gapuran, hingga kayon mangkara.
Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar karena tingginya biaya produksi, terutama untuk bahan baku seperti kulit kerbau dan tanduk kerbau yang tidak murah. Bambang mengaku tidak pernah berniat meninggalkan profesi yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.
"Bagi saya ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi cara untuk ikut menjaga budaya. Wayang akan tetap hidup kalau masih ada yang mencintai dan mau melestarikannya," pungkasnya. (MG4/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com