Dulu Sering Saling Sapa, Kini Budaya Guyub Mulai Pudar: Ini Penyebabnya

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 06:22 WIB
Ilustrasi warga bertegur sapa di tengah perubahan pola interaksi masyarakat. (AI Generated)
Ilustrasi warga bertegur sapa di tengah perubahan pola interaksi masyarakat. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Menyapa tetangga saat berpapasan dulu menjadi hal yang biasa. Kini, kesibukan dan perkembangan teknologi ikut mengubah cara masyarakat berinteraksi.

Kerja bakti menjelang peringatan 17 Agustus, rewang ketika ada tetangga menggelar hajatan, ronda malam, hingga sekadar berbincang di depan rumah menjelang senja pernah menjadi bagian dari keseharian di banyak kampung di Solo.

Saat ada tetangga yang menggelar hajatan, warga datang membantu menyiapkan makanan, menata kursi, atau menyambut tamu tanpa harus diminta. Ketika ada kabar duka, warga lain berdatangan untuk melayat dan ikut membantu keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga: Jebakan Kata 'Nanti Aja': Mengapa Kita Sering Menunda Tugas Kecil Hingga Menumpuk?

Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itulah yang membuat hubungan antarwarga terasa dekat dan budaya guyub tetap hidup. Namun suasana seperti itu memang masih bisa dijumpai, tetapi tidak sesering dulu.

Dikutip dari penelitian berjudul “Analisis Budaya Gotong-Royong pada Perubahan Sosial dalam Lingkungan Masyarakat,” perubahan sosial yang berlangsung cepat dapat memengaruhi penerapan nilai gotong royong.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa gotong royong merupakan modal sosial yang penting karena mampu memperkuat rasa saling percaya, kepedulian, dan kerja sama di tengah masyarakat.

Baca Juga: Pasar Flamboyan Hadirkan Pasar Kreatif dengan Ragam Aktivitas di Solo

Hal serupa juga disampaikan dalam penelitian berjudul “Analisis Fenomena Degradasi Budaya Gotong Royong.” Penelitian tersebut menyebutkan bahwa globalisasi, modernisasi, dan meningkatnya sikap individualistis menjadi beberapa faktor yang mendorong berkurangnya budaya gotong royong.

Penelitian itu juga menjelaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya penyebab memudarnya kebersamaan. Cara masyarakat memanfaatkan teknologi turut memengaruhi bagaimana nilai gotong royong tetap dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan berarti semangat kebersamaan telah hilang. Hingga sekarang, warga masih bergotong royong membersihkan lingkungan, membantu tetangga yang menggelar hajatan, atau bersama-sama melayat saat ada warga yang berduka.

Baca Juga: 6 Tempat Makan Ikonik di Kampus UNS yang Jadi Favorit Mahasiswa

Momen-momen seperti itu menunjukkan bahwa budaya guyub masih hidup, meski cara masyarakat menjalaninya mulai menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Menjaga budaya guyub tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Menyapa tetangga saat berpapasan, menyempatkan hadir dalam kegiatan lingkungan, atau menawarkan bantuan ketika diperlukan bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga kedekatan antarsesama.

Kesibukan dan perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari. Namun, budaya guyub tidak harus ikut memudar.

Baca Juga: Nail Art Jadi Tren Baru, Kuku sebagai Media Ekspresi Diri

Selama masih ada kepedulian untuk saling menyapa, membantu, dan hadir ketika tetangga membutuhkan, nilai kebersamaan akan tetap hidup di tengah masyarakat. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
guyub sosial budaya teknologi gotong royong masyarakat