SOLO – Pesan singkat (chat) sudah dibaca, tetapi dibiarkan menggantung tanpa balasan. Gelas bekas kopi masih tergeletak di meja kerja, sementara tumpukan pakaian bersih masih setia mendiami kursi sejak pagi.
Semua urusan tersebut sejatinya tidak memerlukan tenaga ekstra atau waktu yang lama. Namun, mengapa kita begitu sering menundanya? Jawabannya sederhana: karena kita merasa "masih ada waktu untuk menyelesaikannya nanti."
Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari, hal yang paling sering tertunda justru bukanlah proyek besar berisiko tinggi. Urusan-urusan kecil yang bisa rampung dalam hitungan menit justru berulang kali tergeser ke esok hari hanya karena dianggap tidak mendesak.
Baca Juga: Asal Usul Kampung Premulung Solo, Kisah Deretan Pohon Mangga Di Tepian Sungai
Kalimat “nanti aja” menjadi tameng paling ampuh saat seseorang enggan beranjak. Mengucapkannya sesekali tentu wajar, terutama ketika ada skala prioritas lain yang lebih darurat. Namun, jika dua kata ini menjadi kebiasaan refleks, urusan sepele secara perlahan akan menumpuk dan berbalik menjadi beban mental.
Anatomi Prokrastinasi dan Distraksi Digital
Dalam kacamata psikologi, fenomena menunda-nunda pekerjaan meskipun sadar akan konsekuensi negatifnya disebut sebagai prokrastinasi. Perilaku ini bukan sekadar masalah malas, melainkan kegagalan regulasi diri.
Studi ilmiah bertajuk “Prokrastinasi dalam Kebiasaan Belajar Mahasiswa: Analisis Fenomena, Dampak, dan Upaya Solusi” mengonfirmasi bahwa kebiasaan menunda merupakan fenomena laten yang sangat marak, khususnya di kalangan akademisi dan generasi muda. Penelitian tersebut menyoroti dua pemicu utamanya: buruknya manajemen waktu dan gempuran distraksi media digital.
Distraksi hari ini hadir dalam bentuk yang sangat adiktif. Niat awal yang hanya ingin membuka media sosial selama lima menit untuk melepas penat, sering kali berujung pada aktivitas scrolling tanpa henti hingga berjam-jam. Saat layar ponsel akhirnya dimatikan, pekerjaan rumah atau tugas kantor yang tadi hendak diselesaikan masih belum tersentuh sedikit pun.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Stasiun Delanggu Jadi Penopang Industri Gula Era Belanda
Beban Terasa Berat Bukan Karena Sulit, Tapi Karena Ditunda
Tentu tidak semua jeda bernilai negatif. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan waktu untuk beristirahat (burnout prevention) atau mendahulukan hal yang jauh lebih krusial.
Namun, ketika kata "nanti" terus dijadikan alasan secara sistematis, tugas yang mulanya hanya memakan waktu dua menit—seperti membalas email, membereskan meja, atau mengunggah dokumen—akan terakumulasi menjadi daftar panjang yang mengintimidasi.
Baca Juga: Didier Deschamps Tinggalkan Timnas Prancis Usai Tersingkir Dramatis dari Inggris di Piala Dunia 2026
Pada akhirnya, sebuah pekerjaan terasa sangat berat dan melelahkan bukan karena tingkat kesulitannya yang tinggi, melainkan karena telah terlalu lama dibiarkan terbengkalai. Menghentikan siklus prokrastinasi dapat dimulai dari langkah terkecil: menyelesaikan tugas berdurasi di bawah lima menit saat itu juga, tanpa memberi ruang bagi otak untuk mengucap "nanti". (Rahma Azra Calista/an)
Sumber : solobalapan.com