SOLOBALAPAN.COM – Perdebatan mengenai tradisi tahlilan kembali menjadi perhatian publik, setelah sebuah unggahan di media sosial menampilkan pengakuan seorang perempuan dari kalangan Gen-Z yang mengaku tidak menyukai tradisi tersebut.
Ia menilai keluarga yang sedang berduka justru kerap direpotkan dengan kewajiban menyiapkan jamuan, seperti membuat minuman dan menyediakan konsumsi bagi para pelayat, sehingga beban keluarga yang kehilangan terasa semakin berat.
”Ketika Ayah saya meninggal, semua orang pada ribet nyuruh aku bikin kopi dan menyediakan makanan ke para tamu yang datang padahal kami situasi nya sedang berduka” Ujar seorang wanita yang tidak menyukai tradisi Tahlilan Ratu Puspita.
Pengakuan tersebut memicu beragam tanggapan di media sosial.
Baca Juga: Pink dan Hijau, Perpaduan Warna yang Menghidupkan Tren
Sebagian warganet mengaku memiliki pengalaman serupa, yakni merasa terbebani oleh tuntutan sosial untuk menyediakan makanan, minuman, hingga berbagai keperluan selama pelaksanaan tahlilan.
Mereka menilai kebiasaan tersebut membuat fokus keluarga yang sedang berduka teralihkan karena harus melayani para pelayat, padahal kondisi emosional dan fisik keluarga belum sepenuhnya pulih setelah kehilangan orang yang dicintai.
Di sisi lain, sebagian masyarakat berpendapat bahwa persoalan tersebut bukan terletak pada tradisi tahlilan, melainkan pada praktik yang berkembang di lingkungan masing-masing.
Menurut mereka, esensi tahlilan adalah mendoakan almarhum serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan, sehingga pelaksanaannya tidak semestinya menambah beban.
Perbedaan pandangan inilah yang kemudian memunculkan diskusi mengenai pentingnya mengembalikan makna takziah sebagai wujud empati dan solidaritas kepada keluarga yang sedang mengalami musibah.
Menanggapi fenomena tersebut, Kaprodi Program Studi Magister Hukum Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Isman yang juga Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng menjelaskan, masyarakat perlu memahami persoalan tahlilan secara menyeluruh.
Baik itu dari sisi sejarah, budaya, maupun ajaran Islam. Menurutnya, tradisi tahlilan tidak lahir sebagai ritual yang berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil proses akulturasi antara dakwah Islam dan budaya lokal yang dilakukan para Wali Songo.
"Pada mulanya tahlilan merupakan proses internalisasi antara agama dan budaya yang dilakukan para Wali Songo. Tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat kemudian diislamkan sehingga memiliki nuansa keislaman," ujarnya.
Isman menjelaskan bahwa masyarakat Nusantara sejak dahulu memiliki budaya memuliakan tamu sebagai bagian dari etika sosial.
Namun, dalam perkembangannya, nilai tersebut mengalami pergeseran. Jamuan yang semula diberikan secara sukarela sesuai kemampuan keluarga kini kerap dipandang sebagai kewajiban.
Akibatnya, tidak sedikit keluarga yang sedang berduka justru menghadapi tekanan sosial untuk menyediakan konsumsi bagi tamu yang datang bertakziah.
"Padahal ketika seseorang datang bertakziah, semestinya tidak memiliki niat memperoleh sesuatu. Kita datang untuk mendoakan almarhum sebagai bentuk penghormatan terakhir dan silaturahmi kepada keluarga yang ditinggalkan," katanya.
Dari perspektif Muhammadiyah, Isman menjelaskan bahwa pandangan mengenai tahlilan telah dirumuskan melalui keputusan Majelis Tarjih.
Muhammadiyah berpandangan bahwa tahlilan tidak perlu dilakukan, sedangkan amalan yang lebih utama adalah mendoakan orang yang telah wafat dan membantu keluarga yang ditinggalkan.
Pandangan tersebut merujuk pada hadis Rasulullah SAW ketika sahabat Ja'far bin Abi Thalib wafat. Saat itu, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan makanan bagi keluarga Ja'far, bukan sebaliknya.
"Esensi takziah adalah membantu keluarga yang sedang berduka. Karena itu, keluarga yang kehilangan justru seharusnya diringankan bebannya, bukan dibebani untuk melayani tamu yang datang," jelasnya.
Meski demikian, Isman mengajak masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan pandangan mengenai tahlilan sebagai sumber perpecahan.
Menurutnya, yang lebih penting adalah mengembalikan makna takziah sebagai bentuk empati, doa, dan solidaritas sosial kepada keluarga yang sedang mengalami musibah, sehingga kehadiran para pelayat benar-benar menjadi penguat, bukan tambahan beban bagi mereka yang ditinggalkan.
Baca Juga: Inggris Kandas dari Argentina, Thomas Tuchel Jadi Sasaran Kritik Usai Gagalnya "Azteca Plan"
Fenomena yang ramai diperbincangkan di media sosial tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu memaknai kembali esensi takziah. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai tradisi tahlilan, tujuan utama yang perlu dijaga adalah memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang mengalami musibah.
Kehadiran para pelayat semestinya membawa ketenangan dan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan, sehingga nilai kepedulian dan kebersamaan tetap menjadi prioritas dalam kehidupan bermasyarakat. (sit/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto