SOLOBALAPAN.COM – Bangun tidur, membuka media sosial sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Niat awalnya hanya ingin melihat kabar terbaru atau membaca satu berita yang sedang ramai diperbincangkan. Namun, beberapa menit kemudian jari masih terus menggulir layar. Satu berita berganti berita lain, mulai dari kecelakaan, konflik, hingga bencana alam. Tanpa disadari, waktu terus berjalan, sementara pikiran dipenuhi berbagai informasi yang belum tentu benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan inilah yang dikenal sebagai doomscrolling.
Di era digital, memperoleh informasi tidak lagi sesulit dulu. Berbagai peristiwa dari dalam maupun luar negeri dapat diketahui hanya dalam hitungan detik melalui media sosial. Kemudahan tersebut membuat masyarakat semakin mudah mengikuti perkembangan informasi. Namun, di balik kemudahan itu, muncul kebiasaan baru, yaitu terus mengikuti pembaruan informasi tanpa benar-benar menyadari kapan harus berhenti.
Baca Juga: Mengenal Main Character Energy yang Ngetren di Media Sosial
Istilah doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial atau portal berita yang didominasi oleh informasi negatif. Istilah ini berasal dari kata doom yang berarti keadaan buruk atau malapetaka dan scrolling yang merujuk pada aktivitas menggulir layar.
Sebenarnya, mengikuti perkembangan suatu peristiwa bukanlah sesuatu yang salah. Masyarakat membutuhkan informasi agar tetap memahami kondisi di sekitarnya. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika rasa ingin tahu membuat seseorang sulit berhenti dan terus mencari kabar terbaru meskipun informasi yang diterima justru membuat pikiran semakin terbebani.
Baca Juga: 6 Tempat Makan Ikonik di Kampus UNS yang Jadi Favorit Mahasiswa
Satu informasi sering kali membawa seseorang pada informasi lain. Setelah membaca sebuah berita, muncul video, komentar, hingga berbagai unggahan dengan topik serupa. Algoritma media sosial juga turut memperkuat kebiasaan ini dengan menampilkan konten yang memiliki kemiripan dengan apa yang sebelumnya sering dilihat atau dicari pengguna.
Akibatnya, seseorang dapat terus berada dalam lingkaran informasi yang sama. Waktu yang awalnya hanya digunakan beberapa menit untuk mencari kabar terbaru dapat berubah menjadi lebih lama tanpa disadari.
Fenomena doomscrolling mulai menjadi perhatian para peneliti karena berkaitan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi digital. Penelitian berjudul “Eksplorasi Doomscrolling dan Subjective Well-Being pada Dewasa Awal Pengguna Aktif Media Sosial” menunjukkan bahwa kebiasaan ini sering muncul karena rasa ingin tahu dan keinginan untuk tetap mengikuti perkembangan informasi.
Baca Juga: Di Tengah Gempuran Fast Fashion, Thrifting Tetap Jadi Pilihan Mahasiswa
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa doomscrolling tidak selalu memberikan dampak negatif. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan ini dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan informasi dan merasa lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan, doomscrolling dapat berdampak pada kondisi emosional, seperti meningkatnya kecemasan, munculnya kelelahan mental, hingga menurunnya kesejahteraan subjektif seseorang.
Hal tersebut sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang awalnya hanya ingin mengetahui perkembangan suatu peristiwa, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan. Setelah berhenti menggulir layar, informasi memang semakin banyak diperoleh, tetapi tidak sedikit yang justru merasa lebih lelah, gelisah, atau terbebani oleh banyaknya kabar yang diterima.
Kemunculan istilah doomscrolling menunjukkan bahwa tantangan masyarakat digital saat ini bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan informasi, tetapi juga bagaimana mengatur batas dalam mengonsumsinya. Mengikuti berita tetap penting, tetapi memberi jeda dari arus informasi juga menjadi bagian dari menjaga keseimbangan diri.
Sebab, tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga. Terkadang, berhenti sejenak dari layar bukan berarti tertinggal dari dunia, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali memahami informasi dengan lebih tenang.
Editor : Kabun Triyatno