Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Di Tengah Gempuran Fast Fashion, Thrifting Tetap Jadi Pilihan Mahasiswa

Siti Putri Lestari • Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:00 WIB
Toko Thrifting yang menjual baju-baju murah dengan kualitas baik. (Siti Putri/Radar solo)
Toko Thrifting yang menjual baju-baju murah dengan kualitas baik. (Siti Putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah maraknya merek fast fashion dan semakin mudahnya masyarakat berbelanja melalui berbagai platform digital, tren membeli pakaian bekas atau thrifting ternyata masih bertahan di kalangan mahasiswa Kota Solo.

Kemudahan memperoleh pakaian baru dengan berbagai pilihan model dan harga yang kompetitif tidak serta-merta menggeser minat mahasiswa untuk berburu pakaian thrift. Bagi sebagian mahasiswa, thrifting menjadi alternatif untuk mendapatkan pakaian berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau, sekaligus menghadirkan pilihan fesyen yang unik dan berbeda dari produk yang diproduksi secara massal.

Selain faktor harga, banyak mahasiswa mengaku memilih pakaian thrift karena menawarkan model yang lebih beragam, bahkan tidak jarang berasal dari merek ternama dengan kualitas yang masih baik.

Baca Juga: Blind Box: Hobi Koleksi atau Perilaku Konsumtif di Kalangan Mahasiswa?

Kondisi ini membuat thrifting tidak hanya dipandang sebagai cara menghemat pengeluaran, tetapi juga menjadi bagian dari gaya berpakaian yang mencerminkan karakter dan kreativitas. Di sisi lain, tren ini semakin berkembang seiring maraknya konten berburu pakaian thrift dan inspirasi mix and match di media sosial yang menarik perhatian generasi muda.

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan kuliah, thrifting dinilai menjadi solusi bagi mahasiswa untuk tetap tampil modis tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan apakah tren ini masih didorong oleh kebutuhan ekonomi semata atau telah berkembang menjadi gaya hidup yang dipengaruhi tren fesyen dan kesadaran terhadap konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Fenomena tersebut menjadi menarik untuk ditelusuri lebih jauh melalui pengalaman mahasiswa, pelaku usaha thrift, serta pandangan para ahli mengenai perubahan pola konsumsi generasi muda.

Baca Juga: 13 Band Cadas Ramaikan Party Program 50 di ISI Solo, Catat Tanggal Mainnya

Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan toko thrift di Kota Solo terus berkembang dan semakin mudah ditemukan. Tidak hanya hadir di kawasan pertokoan, toko pakaian bekas kini juga bermunculan di sekitar lingkungan kampus, ruko-ruko, hingga memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce sebagai sarana penjualan.

 Beragam jenis pakaian, mulai dari kaus, kemeja, jaket, celana, hingga aksesori, ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau. Kondisi ini membuat thrifting semakin mudah diakses, khususnya oleh kalangan mahasiswa yang ingin tampil modis tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Baca Juga: Dulu Dicibir, Ini Yang Bikin Piercing Kini Jadi Tren Fashion

“Saya lebih tertarik dengan thrifting di banding saya harus belanja di mall, karena baju-baju yang saya temukan di thrifting lebih unik-unik dan jarang banyak di pakai oleh orang lain modelnya.” Ujar Mahasiswa Fakultas Hukum UNS yang sering sekali mengunjungi Thrifting Rajwa.

Meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan perkuliahan membuat banyak mahasiswa mulai lebih cermat dalam mengatur pengeluaran. Tidak hanya untuk kebutuhan akademik, mereka juga berupaya menyesuaikan pengeluaran untuk kebutuhan gaya hidup, termasuk dalam membeli pakaian. Kondisi tersebut mendorong sebagian mahasiswa mencari alternatif yang lebih ekonomis tanpa harus mengorbankan kualitas maupun penampilan.

Salah satu pilihan yang kini banyak diminati adalah berbelanja di toko thrift. Selain menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan pakaian baru, thrifting juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pakaian bermerek dengan model yang unik. Bagi sebagian mahasiswa, keputusan membeli pakaian thrift bukan hanya didasari alasan berhemat, tetapi juga menjadi bentuk pengelolaan keuangan yang lebih bijak di tengah meningkatnya kebutuhan hidup.

”Selain memiliki model-model yang unik dengan saya melakukan trifthing saya sering sekali menemukan harga-harga yang murah sekali.” ujar Rajwa.

Meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan perkuliahan membuat banyak mahasiswa mulai lebih cermat dalam mengatur pengeluaran. Tidak hanya untuk kebutuhan akademik, mereka juga berupaya menyesuaikan anggaran untuk kebutuhan gaya hidup, termasuk dalam membeli pakaian. Kondisi tersebut mendorong sebagian mahasiswa mencari alternatif yang lebih ekonomis tanpa harus mengorbankan kualitas maupun penampilan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa thrifting kini tidak hanya dipilih karena alasan ekonomi, tetapi juga mulai berkembang menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa. Keunikan model pakaian, kualitas produk, hingga pengalaman berburu barang yang berbeda menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang menjadikan pakaian thrift sebagai sarana mengekspresikan gaya berpakaian yang lebih personal dan tidak mengikuti tren fesyen yang seragam.

Di sisi lain, pesatnya perkembangan industri fast fashion memang menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam memenuhi kebutuhan berpakaian. Namun, keberadaan toko thrift tetap mampu bertahan karena menawarkan nilai yang berbeda, yakni harga yang lebih terjangkau, model yang unik, serta kesempatan untuk memanfaatkan kembali pakaian yang masih layak pakai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa di tengah gempuran fast fashion, thrifting masih menjadi pilihan bagi sebagian mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan fesyen sekaligus mengelola pengeluaran secara lebih bijak.

 

Editor : Kabun Triyatno
trifting anak muda unik TREND solo