SOLOBALAPAN.COM - The Tale of Squirrel Nutkin merupakan salah satu karya sastra anak klasik yang ditulis dan diilustrasikan oleh Beatrix Potter. Buku ini pertama kali diterbitkan pada Agustus 1903.
Penerbitan karya ini dilakukan oleh Frederick Warne & Co., yang sebelumnya juga menerbitkan kesuksesan besar The Tale of Peter Rabbit pada tahun 1902.
Karya ini menjadi buku kedua dalam rangkaian cerita Beatrix Potter, yang memperluas eksplorasi dunia hewan antropomorfik dalam latar alam liar.
Tidak seperti karya sebelumnya yang berlatar kebun domestik, cerita ini mengambil inspirasi dari kawasan Danau Derwentwater di Lake District, Inggris, yang dikenal dengan lanskap alamnya.
Cerita berfokus pada sekelompok tupai merah yang melakukan perjalanan menggunakan rakit menuju sebuah pulau yang dikenal sebagai Owl Island.
Pulau tersebut dikuasai oleh seekor burung hantu tua bernama Old Brown yang digambarkan sebagai penjaga wilayah sekaligus tokoh otoritatif dalam cerita.
Para tupai yang sopan dipimpin oleh Twinkleberry, yang secara rutin memberikan persembahan kepada Old Brown sebagai bentuk izin untuk mengumpulkan kacang hazel di pulau tersebut.
Tokoh utama Nutkin digambarkan sebagai tupai yang berbeda dari kelompoknya karena sifatnya yang tidak sopan, cerewet, dan cenderung mengganggu.
Konflik dalam cerita berkembang ketika Nutkin tidak mengikuti aturan sosial yang berlaku di pulau tersebut dan justru mengejek Old Brown melalui teka-teki rakyat Inggris.
Baca Juga: “Pulang”, Ketika Tanah Air Menjadi Tempat yang Tak Bisa Dituju
Teka-teki tersebut diambil dari tradisi lisan Inggris, termasuk berbagai bentuk riddle yang pada masa itu dikenal luas di kalangan masyarakat.
Selama beberapa hari, Old Brown mengabaikan perilaku Nutkin, namun ketegangan meningkat ketika Nutkin melampaui batas dengan tindakan yang dianggap menghina.
Puncak cerita terjadi ketika Old Brown menangkap Nutkin setelah kesabarannya habis akibat perilaku berulang yang mengganggu.
Nutkin berhasil melarikan diri, namun kehilangan ekornya dalam kejadian tersebut, yang menjadi penanda permanen dari konsekuensi tindakannya.
Ilustrasi dalam buku ini dibuat berdasarkan observasi langsung Beatrix Potter terhadap alam di kawasan Lingholm, dengan perhatian detail pada lanskap dan perilaku hewan.
Karya ini juga dikenal karena pendekatannya yang tidak menghaluskan realitas alam, dengan menampilkan hubungan predator dan mangsa secara simbolis dalam cerita anak-anak. (nta)
Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya