Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

“Pulang”, Ketika Tanah Air Menjadi Tempat yang Tak Bisa Dituju

tim solobalapan • Selasa, 30 Juni 2026 | 14:01 WIB
Novel Pulang karya Leila S. Chudori mengangkat kisah eksil politik 1965 dan luka sejarah yang terus hidup lintas generasi. (Pinterest)
Novel Pulang karya Leila S. Chudori mengangkat kisah eksil politik 1965 dan luka sejarah yang terus hidup lintas generasi. (Pinterest)

 

SOLOBALAPAN.COM - Apa arti pulang bagi seseorang yang tak lagi memiliki jalan kembali ke rumahnya sendiri?

Pertanyaan itu menjadi jantung dari novel Pulang karya Leila S. Chudori. 

Novel yang terbit pada 2013 ini bukan sekadar kisah keluarga atau roman sejarah. Lebih dari itu, Pulang adalah potret luka politik Indonesia yang diwariskan lintas generasi.

Novel ini berpusat pada Dimas Suryo, seorang wartawan Indonesia yang terjebak di luar negeri setelah tragedi 1965. 

Dicabut paspornya dan kehilangan hak untuk kembali ke tanah air, Dimas hidup sebagai eksil politik di Paris bersama tiga rekannya. 

Mereka membangun kehidupan baru melalui Restoran Tanah Air, tetapi Indonesia tidak pernah benar-benar meninggalkan mereka.

Di tangan Leila, kata “pulang” tidak hanya dimaknai secara harfiah sebagai kembali ke rumah. Pulang berubah menjadi simbol kerinduan, identitas, dan pencarian akar diri.

Yang membuat novel ini begitu kuat adalah caranya memperlihatkan bagaimana sejarah besar selalu meninggalkan luka personal. 

Baca Juga: Beban Berat Jadi Satu-satunya Wakil Bali di Solo, Kelompok Tari Pudak Petak Sukses Hipnotis Penonton Trotoart 2026!

Tragedi 1965 tidak hanya bicara tentang negara, ideologi, atau kekuasaan, tetapi juga tentang keluarga yang tercerai, sahabat yang hilang, dan cinta yang tak pernah selesai.

Leila tidak menulis sejarah sebagai angka atau kronologi peristiwa. Ia menghidupkan sejarah melalui emosi manusia.

Dimas Suryo menjadi representasi ribuan orang yang kehilangan tanah air tanpa pernah benar-benar pergi secara batin. 

Tubuhnya berada di Paris, tetapi ingatannya terus kembali ke Jakarta—kepada aroma makanan Indonesia, bahasa ibu, dan masa lalu yang tak selesai.

Konflik novel semakin dalam melalui Lintang Utara, putri Dimas, yang tumbuh tanpa mengalami langsung tragedi 1965. Namun, ia tetap mewarisi luka yang sama. 

Dari tokoh Lintang, pembaca diajak melihat bahwa trauma politik tidak berhenti pada satu generasi.

Inilah kekuatan terbesar Pulang: sejarah ternyata tidak pernah benar-benar selesai.

Novel ini menunjukkan bahwa trauma nasional dapat hidup diam-diam dalam percakapan keluarga, ingatan, bahkan dalam hal-hal kecil yang tak pernah dibicarakan. 

Generasi yang lahir jauh setelah tragedi pun tetap bisa mewarisi beban emosional masa lalu.

Pada akhirnya, Pulang bukan hanya tentang seseorang yang rindu rumah. 

Baca Juga: Little Men Karya Louisa May Alcott: Saat Jo March Mengubah Pendidikan dengan Cara Tak Biasa

Novel ini berbicara tentang kerinduan manusia terhadap tempat di mana ia merasa utuh.

Sebab terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan rumah, melainkan ketika rumah itu masih ada—namun kita tak lagi bisa kembali.(lut)

Editor : Laila Zakiya
#LEILA S. CHUDORI #pulang