Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kisah Clarel Karya Herman Melville: Puisi Terpanjang yang Gagal Total

tim solobalapan • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:53 WIB
Potret Herman Melville dalam The Complete Novels Herman Melville. Source: Pinterest
Potret Herman Melville dalam The Complete Novels Herman Melville. Source: Pinterest

SOLOBALAPAN.COM - Pada tahun 1876, Herman Melville menerbitkan karya paling ambisius sekaligus paling diabaikan sepanjang kariernya: Clarel: A Poem and Pilgrimage in the Holy Land. Karya ini berbentuk puisi epik naratif yang membentang sekitar 18.000 baris, menjadikannya salah satu teks terpanjang dalam sastra Amerika abad ke-19.

Berbeda dari novel-novel sebelumnya, Clarel lahir dari fase hidup Melville yang sunyi dan terisolasi setelah kegagalan Pierre. Ia meninggalkan dunia prosa populer dan memasuki wilayah puisi filosofis yang berat, kompleks, dan hampir tidak terjangkau oleh pembaca umum pada masanya.

Inspirasi karya ini datang dari perjalanan nyata Melville ke Timur Tengah pada 1856–1857. Dalam perjalanan tersebut, ia mengunjungi Yerusalem dan wilayah Levant sebagai bentuk pencarian spiritual sekaligus usaha memulihkan kondisi mentalnya yang memburuk akibat depresi.

Tokoh utama puisi ini adalah Clarel, seorang mahasiswa teologi muda asal Amerika yang mengalami krisis iman mendalam. Ia datang ke Tanah Suci dengan harapan menemukan kembali keyakinannya terhadap Tuhan yang mulai runtuh akibat perkembangan sains dan modernitas.

Di Yerusalem, Clarel bertemu Ruth, seorang perempuan Yahudi Amerika yang menjadi objek cinta sekaligus simbol harapan spiritualnya. Namun kebahagiaan itu terputus ketika ayah Ruth dibunuh, memaksanya menjalani masa berkabung yang memisahkannya dari dunia luar.

Selama menunggu, Clarel bergabung dengan kelompok peziarah lintas bangsa, agama, dan ideologi. Mereka melakukan perjalanan melintasi Gurun Yudea, Sungai Yordan, Laut Mati, hingga biara Mar Saba, dalam sebuah ziarah yang penuh dialog filosofis dan ketegangan intelektual.

Kisah ini mencapai titik tragis ketika Clarel kembali ke Yerusalem dan menemukan bahwa Ruth telah meninggal akibat kesedihan dan penyakit. Kehilangan ini menegaskan kegagalan pencarian spiritualnya di dunia nyata.

Dalam struktur naratifnya, Clarel tidak bergantung pada aksi, melainkan pada perdebatan ideologis. Setiap karakter menjadi representasi pandangan dunia yang berbeda, mencerminkan konflik intelektual abad ke-19.

Tokoh Rolfe digambarkan sebagai sosok skeptis yang mencerminkan alter ego Melville sendiri. Ia memandang dunia dengan kecerdasan kritis namun tanpa ilusi terhadap agama atau kemajuan manusia.

Baca Juga: Ditunjuk Prabowo Jadi Kepala BGN Baru Gantikan Dadan Hindayana, Nanik S. Deyang Ternyata Rangkap Jabatan di Pertamina?

Vine, yang terinspirasi dari Nathaniel Hawthorne, hadir sebagai figur misterius dan estetis yang lebih intuitif dalam memandang eksistensi manusia.

Derwent, seorang pendeta Anglikan, mewakili upaya mendamaikan agama dan sains modern, meskipun pendekatannya sering dianggap dangkal dan tidak menyentuh akar krisis spiritual.

Sementara itu, Ungar, mantan tentara Konfederasi, menghadirkan pandangan sinis ekstrem terhadap demokrasi dan masa depan peradaban Barat, memperkuat nada pesimistis dalam puisi ini.

Tema utama Clarel adalah krisis iman di tengah kemajuan sains dan rasionalitas modern. Melville menangkap kegelisahan zaman ketika manusia mulai kehilangan pegangan spiritual tanpa menemukan pengganti yang memadai.

Tanah Suci dalam puisi ini digambarkan bukan sebagai tempat suci yang agung, tetapi sebagai lanskap tandus, berbatu, dan penuh reruntuhan. Gambaran ini berfungsi sebagai metafora kondisi jiwa manusia modern yang kering secara spiritual.

Pada tingkat yang lebih luas, Clarel juga memuat kritik terhadap arah peradaban Barat. Melville mempertanyakan apakah demokrasi, materialisme, dan kemajuan intelektual benar-benar membawa manusia pada kebijaksanaan, atau justru menuju kehampaan moral.

Secara finansial dan publik, Clarel merupakan kegagalan total. Karya ini terlalu panjang, terlalu padat secara filosofis, dan ditulis dalam meter puisi yang sulit, sehingga hampir tidak mendapat perhatian saat pertama kali diterbitkan.

Namun dalam kajian modern, Clarel kini dianggap sebagai salah satu karya teologis dan psikologis paling kompleks dalam sastra Amerika. Ia menegaskan bahwa Herman Melville bukan hanya novelis laut, tetapi pemikir eksistensial yang jauh mendahului zamannya. (nta) 

Artikel ini ditulis oleh Iranta, mahasiswa jurusan Seni Tari kampus ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#Herman Melville #Clarel #A Poem and Pilgrimage in the Holy Land #sastra #puisi